-->

sosial media

slider

PENGABDIAN PENUH

PELAYAN MENARA KRISTEN

MENARA KRISTEN HADIR DENGAN KOMITMEN PELAYANAN YANG KUAT

PERAYAAN GEREJAWI

PERINGATAN KALENDER GEREJAWI

MENARA KRISTEN BERKOMITMEN DALAM MERAYAKAN KALENDER GEREJAWI UNTUK MENUMBUHKAN RASA CINTA AKAN GEREJA DAN PERSEKUTUAN KRISTEN

KEGIATAN KASIH

GERAKAN PEMUDA KRISTEN UNTUK INDONESIA

MENARA KRISTEN KONSISTEN DALAM MELAKUKAN GERAKAN-GERAKAN SOSIAL AGAMA YANG HUMANIS

LINTAS AGAMA

SOLIDARITAS ANTAR UMAT BERAGAMA

MENARA KRISTEN MENOLAK SEGALA BENTUK KEKERASAN BAIK SECARA IDEOLOGI YANG BERPOTENSI MERUSAK KEBERSAMAAN ANTAR UMAT BERAGAMA.

moto sekolah

PRO DEO ET EIUS CREATURAM

Untuk Tuhan dan Untuk CiptaanNya, adalah Visi Menara Kristen.

COGITARE MAGNUM ET SOULFUL MAGNUM

Berpikir besar dan berjiwa besar, Merupakan Motto Organisasi MENARA KRISTEN dalam melakukan kegiatan-kegiatan.

KOLOSE 2:6-7

Berakar, bertumbuh dan berbuah untuk dunia, adalah komitmen yang dihidupi setiap pelayan BPPPWG MENARA KRISTEN.

SOSIAL KEAGAMAAN

Menara Kristen bergerak dalam kegiatan sosial dan keagamaan dalam setiap event dan gerakan yang dilakukan dengan memperhatikan keanekaragaman budaya.

Foto kanan

Selamat Datang

Kata Sambutan Pdt.Hendra C Manullang

GALATIA 6:2. Bertolong-tolonganlah dalam menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus. Mundurnya suatu karakter manusia sangat ditentukan oleh pemahamannya terhadap Kasih yang dianut seseorang, Sebagai Organisasi yang terus bertumbuh, BPPPWG MENARA KRISTEN terus berupaya untuk meningkatkan pelayanannya sebagai salah satu faktor mendukung kesadaran warga gereja untuk terus berbagi ditengah ujian kehidupan yang datang.

Mari berjalan dalam aksi sosial bersama kami dengan Klik GERAKAN KASIH

PRIORITAS PELAYANAN

Pelayanan Oikoumene

Pelayanan Penginjilan

Pelayanan Panti Asuhan

Pelayanan Ketrampilan

Pelayanan Antar Umat Beragama

Pelayanan Pendidikan

polio

Pengembangan Sumber Daya Manusia

Menara Kristen turut berperan aktif dalam pengembangan SDM, melalui bantuan yang dihimpun dari warga gereja yang diserahkan kepada calon penerima bantuan pendidikan dengan seleksi yang ketat dan didampingi gereja pendukung.

Peningkatan Baca Alkitab

Menara Kristen juga hadir dalam memberikan pembelajaran khusus untuk meningkatkan kecintaan terhadap Alkitab.

Pelatihan Akademik

Menara Kristen turut dalam kegiatan Internasional yang didalamnya termasuk pelatihan-pelatihan Gerejawi, demi meningkatkan Sumber Daya Manusia para pelayan BPPPWG MENARA KRISTEN.

Pembangunan Gereja dan Penginjilan

Menara Kristen memberikan pelayanan penginjilan yang dilakukan dengan cara - cara humanis dan berani dalam mengabarkan kabar akan Kristus Yesus.

Pembinaan Rohani

salah satu program unggulan kami adalah meningkatkan kecintaan terhadap Tuhan Yesus Kristus, maka dari itu kami membuat program kerohanian khusu terhadap warga gereja.

Kaderisasi Pemimpin Kristen

Kegiatan yang diberikan bagi pelayan-pelayan gereja untuk meningkatkan pemahamannya sebagai gembala ditengah-tengah umat.

Update Donatur dan Laporan Kegiatan|BPPPWG MENARA KRISTEN

Berikut ini kami sampaikan Update Donatur Kegiatan-kegiatan dan Laporan BPPPWG MENARA KRISTEN kita :

  • DOKUMENTASI
  • Berikut kami berikan Dokumentasi Kegiatan

KUNJUNGI YOU TUBE BPPPWG MENARA KRISTEN

Permohonan Pelayanan Okultisme
  • Hubungi Kontak kami BPPPWG MK
  • Tidak dalam Hukum Siasat Gereja
  • Merupakan Warga Gereja
  • Menerima PENDETA yang akan melayani
  • Mengikuti dan menerima Liturgi Ibadah
Permohonan Mengikuti Kegiatan
  • Surat Izin Orang Tua/Pernyataan Pribadi
  • Seluruh biaya ditanggung peserta
  • Mengikuti Seluruh Rangkaian Kegiatan
Permohonan Pelatihan dan Pendidikan
  • Hubungi Kontak kami BPPPWG MK
  • Mengisi Form Pendaftaran
  • Minimal 17 Tahun
  • Bersedia mematuhi peraturan
  • Surat Persetujuan Orang Tua/ Pernyataan Pribadi
Permohonan Pelayanan Ibadah Meditasi
  • Hubungi Kontak kami BPPPWG MK
  • Surat Permohonan Pribadi/Gereja
  • Mengisi Form
  • Bersedia mengikuti Liturgi Ibadah
Permohonan Pendampingan Rohani
  • Hubungi Kontak kami BPPPWG MK
  • Mengisi FORM
  • Surat Pernyataan
  • Bersedia mengikuti Liturgi Ibadah

Progress Kegiatan Tahun 2025

Progres merupakan suatu gerakan maju atau gerakan kedepan atau gerakan menuju ke tingkatan yang lebih tinggi dari kondisi awal. Progres dapat di bilang sebagai gerakan kemajuan dalam suatu kegiatan.

Penginjilan
70%
Oikoumene
75%
Lintas Umat Beragama
85%
Gerakan Sosial
75%

Testimonial

KATA MEREKA

Sebagai Donatur Tetap, sungguh sangat bangga dengan berbagi pelayanan kepada warga gereja. BPPPWG Menara KRisten sebagai organisasi sosial keagamaan yang berkomitmen untuk melayani warga gereja.

Wadeymsaar S.Tr.Stat.

Donatur Tetap BPPPWG MK

BPPPWG MENARA KRISTEN sangat luar biasa dalam pelayanan rohaninya,khususnya dalam doa khusus, okultisme, dan ibadah meditasi yang dilakukan dengan penuh kesungguhan, terima kasih.

Irwan L Tungkup

Warga Gereja

Saya sungguh berterima kasih atas kehadiran bapk dan ibu menara kristen, hadir dengan sukacita dan penuh ketulusan!.

Ilham

P. ASUHAN Islamic Center

Awalnya ragu dengan kehadiran dan pelayanan menara kristen. Namun pelayanan yang diberikan sungguh membuat hati bahagia dihari tua. Kiranya Menara kristen tak henti untuk melayani dan semakin menjadi berkat.

Rosidawati

warga gereja

PELAYAN

EVENT

PROGRAM ORGANISASI

PENGHARGAAN

BERITA TERBARU

Kegiatan di Organisasi ini adalah pelayanan Gereja, kami terbuka untuk klarifikasi atas setiap informasi dan berita yang kami terbitkan,kiranya Tuhan Yesus Kristus menyertai kita.

Thursday, 23 April 2026

KHOTBAH; Kisah Para Rasul 1 : 1 - 11 ( Yesus Naik ke Surga dan Akan Datang Kembali )

KHOTBAH; Kisah Para Rasul 1 : 1 - 11 ( Yesus Naik ke Surga dan Akan Datang Kembali )

 

Yesus Naik ke Surga dan Akan Datang Kembali

Kajian Teologis Biblis dan Dogmatis atas Kisah Para Rasul 1 : 1 - 11

BAB I - PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga merupakan salah satu artikulasi iman Kristen yang fundamental, namun dalam praktik teologi dan kehidupan gereja sering kali berada di pinggiran perhatian. Fokus iman Kristen cenderung bertumpu pada inkarnasi (kelahiran Kristus), penebusan melalui salib, serta kebangkitan sebagai kemenangan atas maut. Sementara itu, kenaikan Kristus kerap dipahami hanya sebagai penutup naratif Injil atau sekadar transisi menuju pencurahan Roh Kudus. Padahal, secara teologis, kenaikan memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam keseluruhan ekonomi keselamatan (historia salutis).

Dalam Kisah Para Rasul 1:1–11, penulis menghadirkan kenaikan Yesus bukan sebagai epilog yang sederhana, melainkan sebagai titik peralihan yang menentukan antara karya Yesus di dunia dan kelanjutan karya tersebut melalui gereja. Narasi ini membuka dengan suatu kesadaran historis bahwa segala sesuatu yang “diajarkan dan dilakukan Yesus” tidak berhenti pada kebangkitan, melainkan berlanjut dalam bentuk baru melalui kuasa Roh Kudus. Dengan demikian, kenaikan bukanlah “ketiadaan Kristus”, melainkan transformasi cara kehadiran-Nya.

Kenaikan Kristus juga menegaskan dimensi pemuliaan (glorifikasi) dalam Kristologi. Ia yang telah merendahkan diri dalam inkarnasi kini ditinggikan dan dimuliakan. Dalam perspektif ini, kenaikan bukan sekadar peristiwa vertikal (naik ke atas), tetapi merupakan simbol dan realitas teologis dari penobatan Kristus sebagai Tuhan yang berdaulat. Hal ini berkaitan erat dengan pengakuan gereja bahwa Kristus “duduk di sebelah kanan Allah Bapa”, suatu ungkapan yang sarat dengan makna kekuasaan, otoritas, dan pemerintahan ilahi.

Lebih jauh, teks Kisah Para Rasul 1:1–11 juga memperlihatkan adanya ketegangan eksistensial dan teologis dalam diri para murid. Mereka bertanya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Israel?” Pertanyaan ini menunjukkan adanya harapan politis dan nasionalistis yang masih melekat dalam pemahaman mereka tentang Mesias. Namun, Yesus mengalihkan fokus mereka dari spekulasi waktu kepada tanggung jawab misi: “Kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku... sampai ke ujung bumi.” Di sini terjadi pergeseran paradigma dari ekspektasi kerajaan yang bersifat sempit menuju visi kerajaan Allah yang universal.

Selain dimensi misiologis, teks ini juga mengandung dimensi pneumatologis yang sangat penting. Kenaikan Yesus berkaitan langsung dengan janji pencurahan Roh Kudus. Tanpa kenaikan, tidak ada Pentakosta; tanpa “pergi”-Nya Kristus, tidak ada “datang”-Nya Roh Kudus dalam kepenuhan kuasa. Hal ini menegaskan bahwa karya keselamatan Allah bersifat trinitaris: Bapa mengutus Anak, Anak menyelesaikan karya-Nya dan kembali kepada Bapa, dan Roh Kudus diutus untuk melanjutkan karya tersebut dalam dan melalui gereja.

Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah aspek eskatologis. Pernyataan dua orang malaikat dalam Kisah Para Rasul 1:11 bahwa Yesus “akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga” menjadi dasar bagi doktrin Parousia (kedatangan kembali Kristus). Pernyataan ini menempatkan gereja dalam suatu ketegangan waktu yang khas: gereja hidup di antara “sudah” (already) dan “belum” (not yet). Kristus telah menang, tetapi kepenuhan kemenangan itu belum sepenuhnya terwujud dalam sejarah. Gereja hidup dalam pengharapan yang aktif, bukan pasif—menantikan sekaligus bersaksi.

Namun, dalam realitas gereja masa kini, khususnya dalam konteks modern dan postmodern, pemahaman terhadap kenaikan dan kedatangan kembali Kristus menghadapi berbagai tantangan. Di satu sisi, pendekatan rasionalistik cenderung mereduksi peristiwa kenaikan menjadi simbol mitologis atau metafora religius belaka. Di sisi lain, terdapat kecenderungan apokaliptik yang spekulatif, di mana doktrin kedatangan kembali Kristus dipenuhi dengan prediksi waktu, tanda-tanda yang sensasional, dan interpretasi yang tidak bertanggung jawab secara hermeneutis.

Akibat dari dua ekstrem ini adalah hilangnya keseimbangan teologis dalam kehidupan gereja. Gereja bisa menjadi terlalu “membumi” tanpa pengharapan eskatologis, atau sebaliknya terlalu “melangit” tanpa tanggung jawab sosial dan misi di dunia. Padahal, Kisah Para Rasul 1:1–11 justru menghadirkan keseimbangan yang utuh: Yesus naik ke surga, tetapi gereja diutus ke dunia; Kristus akan datang kembali, tetapi murid-murid dipanggil untuk menjadi saksi di sini dan sekarang.

Dalam konteks Indonesia yang plural, dinamis, dan penuh tantangan sosial, pemahaman yang benar tentang kenaikan dan kedatangan kembali Kristus menjadi sangat relevan. Gereja dipanggil untuk hidup dalam pengharapan tanpa kehilangan tanggung jawab sosial; bersaksi tanpa jatuh dalam eksklusivisme; dan menantikan kedatangan Kristus tanpa melarikan diri dari realitas dunia.

Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yang mendalam, komprehensif, dan integratif terhadap Kisah Para Rasul 1:1–11, yang tidak hanya berhenti pada analisis teks (biblis), tetapi juga menggali makna teologisnya serta merumuskannya dalam kerangka dogmatis yang sistematis. Kajian ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan teologi yang kontekstual sekaligus setia pada kesaksian Alkitab.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam karya tulis ini dapat dirumuskan secara lebih mendalam sebagai berikut:

  1. Bagaimana struktur, konteks historis, dan makna eksegetis dari Kisah Para Rasul 1:1–11?
  2. Apa signifikansi teologis dari peristiwa kenaikan Yesus dalam kaitannya dengan karya keselamatan Allah secara keseluruhan?
  3. Bagaimana relasi antara kenaikan Kristus, pencurahan Roh Kudus, dan mandat misi gereja?
  4. Bagaimana doktrin kedatangan kembali Kristus dipahami dalam kerangka eskatologi Perjanjian Baru?
  5. Bagaimana ajaran tentang kenaikan dan Parousia dirumuskan dalam tradisi dogmatis gereja?
  6. Apa implikasi praktis dan kontekstual dari pemahaman tersebut bagi kehidupan gereja masa kini, khususnya di Indonesia?

1.3 Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah:

  1. Menyajikan analisis eksegetis yang mendalam terhadap Kisah Para Rasul 1:1–11 dengan memperhatikan aspek historis, literer, dan linguistik.
  2. Menggali dan merumuskan makna teologis dari peristiwa kenaikan Yesus serta janji kedatangan-Nya kembali.
  3. Mengintegrasikan temuan biblis ke dalam kerangka teologi sistematika (dogmatika), khususnya dalam bidang Kristologi, Pneumatologi, dan Eskatologi.
  4. Menawarkan refleksi teologis yang relevan bagi gereja masa kini dalam menjalankan panggilannya di dunia.
  5. Memberikan kontribusi akademis bagi studi teologi yang bersifat integratif antara Alkitab, tradisi, dan konteks.

1.4 Metode Penelitian

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research) yang didukung oleh analisis kritis terhadap teks Alkitab dan sumber-sumber teologis. Adapun metode yang digunakan meliputi:

1. Metode Eksegesis Biblis
Penelitian ini akan melakukan analisis mendalam terhadap teks Kisah Para Rasul 1:1–11 dengan memperhatikan:

  • Konteks historis dan sosial
  • Struktur naratif dan retorika teks
  • Analisis leksikal dan gramatikal bahasa Yunani
  • Korelasi dengan teks-teks paralel dalam Alkitab

2. Pendekatan Teologi Biblika
Mengidentifikasi tema-tema teologis utama dalam teks dan menempatkannya dalam keseluruhan kesaksian Alkitab, khususnya dalam kerangka Perjanjian Baru.

3. Pendekatan Teologi Sistematika (Dogmatika)
Menyusun ajaran tentang kenaikan dan kedatangan kembali Kristus secara sistematis dengan merujuk pada tradisi gereja, pengakuan iman, dan pemikiran teologis klasik maupun kontemporer.

4. Analisis Literatur Teologis
Menggunakan buku, jurnal, dan karya teologis sebagai sumber sekunder untuk memperkaya perspektif dan memperdalam analisis.

1.5 Sistematika Penulisan

Untuk memudahkan pemahaman dan menjaga alur pemikiran yang sistematis, karya tulis ini disusun dalam lima bab sebagai berikut:

Bab I: Pendahuluan
Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan.

Bab II: Kajian Biblis (Eksegesis Kisah Para Rasul 1:1–11)
Menguraikan analisis teks secara mendalam, termasuk konteks historis, struktur literer, serta kajian bahasa Yunani yang rinci.

Bab III: Kajian Teologis
Membahas tema-tema teologis utama seperti kenaikan Kristus, Roh Kudus, misi gereja, dan eskatologi.

Bab IV: Kajian Dogmatis
Menyajikan perumusan doktrin gereja mengenai kenaikan dan kedatangan kembali Kristus dalam kerangka teologi sistematika.

Bab V: Penutup dan Relevansi Praktis
Berisi kesimpulan serta refleksi praktis bagi kehidupan gereja masa kini, khususnya dalam konteks Indonesia.

BAB II - KAJIAN BIBLIS (EKSEGESE KISAH PARA RASUL 1:1–11)

2.1 Pendahuluan Eksegetis

Perikop Kisah Para Rasul 1:1–11 merupakan prolog teologis sekaligus jembatan naratif antara Injil Lukas dan kitab Kisah Para Rasul. Penulis yang sama (Lukas) dengan sengaja membangun kesinambungan antara karya Yesus di masa lalu dan kelanjutan karya tersebut melalui para rasul dalam kuasa Roh Kudus.

Secara literer, teks ini dapat dibagi menjadi empat bagian utama:

  1. Ayat 1–3: Prolog dan penegasan kebangkitan
  2. Ayat 4–5: Janji Roh Kudus
  3. Ayat 6–8: Dialog tentang Kerajaan Allah dan mandat misi
  4. Ayat 9–11: Peristiwa kenaikan dan janji Parousia

Pendekatan yang digunakan adalah analisis bahasa Yunani (Koine) dengan memperhatikan bentuk kata, struktur kalimat, serta nuansa teologis yang terkandung di dalamnya.

2.2 Eksegesis Ayat per Ayat

2.2.1 Kisah Para Rasul 1:1

Teks Yunani:
Τὸν μὲν πρῶτον λόγον ἐποιησάμην περὶ πάντων, ὦ Θεόφιλε, ὧν ἤρξατο ὁ Ἰησοῦς ποιεῖν τε καὶ διδάσκειν

Analisis:

  • Τὸν μὲν πρῶτον λόγον (Ton men prōton logon)
    “Tulisan yang pertama” menunjuk pada Injil Lukas. Kata λόγος di sini berarti laporan atau narasi terstruktur, bukan sekadar “kata”.
  • ἐποιησάμην (epoiēsamen) – aorist middle indicative
    Menunjukkan tindakan yang telah selesai di masa lalu: Lukas telah menyusun Injilnya secara sadar dan terarah.
  • ἤρξατο (ērxato) – aorist middle indicative dari ἄρχομαι (memulai)
    Secara teologis sangat penting: Yesus “memulai” melakukan dan mengajar → implikasinya, pekerjaan itu belum selesai, tetapi berlanjut dalam Kisah Para Rasul.
  • ποιεῖν τε καὶ διδάσκειν (poiein te kai didaskein)
    Urutan “melakukan” sebelum “mengajar” menunjukkan bahwa tindakan Yesus mendahului pengajaran-Nya—suatu pola inkarnasional.

Makna Teologis:
Ayat ini menegaskan bahwa Kisah Para Rasul adalah kelanjutan dari karya Kristus. Gereja bukan memulai sesuatu yang baru, melainkan melanjutkan apa yang telah Yesus mulai.

2.2.2 Kisah Para Rasul 1:2

Teks Yunani:
ἄχρι ἧς ἡμέρας… ἐντειλάμενος τοῖς ἀποστόλοις διὰ Πνεύματος Ἁγίου

Analisis:

  • ἐντειλάμενος (enteilamenos) – aorist middle participle
    “Setelah memberikan perintah” → menunjukkan bahwa kenaikan didahului oleh mandat.
  • διὰ Πνεύματος Ἁγίου (dia Pneumatos Hagiou)
    “Melalui Roh Kudus” → bahkan sebelum Pentakosta, Roh Kudus sudah bekerja dalam pelayanan Yesus.

Makna Teologis:
Ada kesinambungan pneumatologis antara pelayanan Yesus dan gereja. Roh Kudus bukan fenomena baru, tetapi kelanjutan karya ilahi.

2.2.3 Kisah Para Rasul 1:3

Teks Yunani:
παρέστησεν ἑαυτὸν ζῶντα… δι’ ἡμερῶν τεσσεράκοντα

Analisis:

  • παρέστησεν (parestēsen) – aorist active indicative
    “Ia menunjukkan diri-Nya” → tindakan aktif Yesus membuktikan kebangkitan-Nya.
  • ζῶντα (zōnta) – present participle
    “Hidup” → menekankan keberlanjutan hidup, bukan sekadar fakta sesaat.
  • τεκμηρίοις (tekmēriois)
    “Bukti-bukti yang meyakinkan” → istilah kuat untuk evidensi yang tidak terbantahkan.
  • δι’ ἡμερῶν τεσσεράκοντα (40 hari)
    Angka simbolis (masa persiapan, seperti Musa dan Elia).

Makna Teologis:
Kebangkitan bukan mitos, tetapi realitas historis yang diverifikasi. Ini menjadi dasar legitimasi misi para rasul.

2.2.4 Kisah Para Rasul 1:4–5

Teks Yunani (kunci):
παρήγγειλεν… μὴ χωρίζεσθαι ἀπὸ Ἱεροσολύμων
βαπτισθήσεσθε ἐν Πνεύματι Ἁγίῳ

Analisis:

  • παρήγγειλεν (parēngeilen) – aorist active
    Perintah yang bersifat otoritatif.
  • μὴ χωρίζεσθαι (mē chōrizesthai) – present middle infinitive
    Larangan berkelanjutan: “jangan terus-menerus meninggalkan”.
  • βαπτισθήσεσθε (baptisthēsesthe) – future passive
    “Kamu akan dibaptis” → tindakan Allah, bukan usaha manusia.
  • ἐν Πνεύματι Ἁγίῳ
    Baptisan Roh sebagai realitas eskatologis baru.

Makna Teologis:
Misi tidak dapat dilakukan tanpa kuasa ilahi. Gereja harus menunggu inisiatif Allah.

2.2.5 Kisah Para Rasul 1:6–7

Teks Yunani:
ἀποκαθιστάνεις τὴν βασιλείαν τῷ Ἰσραήλ;

Analisis:

  • ἀποκαθιστάνεις (apokathistaneis) – present active
    “Memulihkan” → ekspektasi politis-mesianis.
  • Jawaban Yesus:
    οὐχ ὑμῶν ἐστιν γνῶναι χρόνους ἢ καιρούς
    Dua istilah waktu:
    • χρόνος (chronos) → waktu kronologis
    • καιρός (kairos) → waktu ilahi

Makna Teologis:
Yesus menolak spekulasi eskatologis. Fokus iman bukan “kapan”, tetapi “apa yang harus dilakukan”.

2.2.6 Kisah Para Rasul 1:8 (Ayat Kunci)

Teks Yunani:
λήμψεσθε δύναμιν… καὶ ἔσεσθέ μου μάρτυρες

Analisis utama:

  • λήμψεσθε (lēmpsesthe) – future middle
    “Kamu akan menerima” → janji pasti.
  • δύναμιν (dynamin)
    Kuasa ilahi (bukan kekuatan manusiawi).
  • ἐπελθόντος τοῦ Πνεύματος – aorist participle
    “Ketika Roh Kudus turun”
  • μάρτυρες (martyres)
    “Saksi” → bukan hanya verbal, tetapi eksistensial (hingga mati).
  • Struktur geografis:
    Yerusalem → Yudea → Samaria → ujung bumi
    → pola ekspansi misi universal.

Makna Teologis:
Ini adalah mandat misi gereja. Gereja didefinisikan oleh kesaksiannya, bukan oleh institusinya.

2.2.7 Kisah Para Rasul 1:9

Teks Yunani:
ἐπήρθη… καὶ νεφέλη ὑπέλαβεν αὐτόν

Analisis:

  • ἐπήρθη (epērthē) – aorist passive
    “Ia diangkat” → tindakan Allah (divine passive).
  • νεφέλη (nephelē) – awan
    Simbol kehadiran ilahi (Shekinah).
  • ὑπέλαβεν (hypelaben) – “menyambut/mengangkat”
    Gambaran penerimaan ke dalam kemuliaan Allah.

Makna Teologis:
Kenaikan adalah tindakan Allah memuliakan Kristus, bukan sekadar peristiwa fisik.

2.2.8 Kisah Para Rasul 1:10–11

Teks Yunani:
οὗτος ὁ Ἰησοῦς… οὕτως ἐλεύσεται

Analisis:

  • οὗτος ὁ Ἰησοῦς (houtos ho Iēsous)
    Penekanan identitas: Yesus yang sama.
  • ἐλεύσεται (eleusetai) – future middle
    “Ia akan datang kembali” → kepastian eskatologis.
  • ὃν τρόπον (hon tropon)
    “Dengan cara yang sama” → kesinambungan antara kenaikan dan kedatangan kembali.

Makna Teologis:
Kenaikan dan Parousia adalah dua sisi dari satu realitas Kristologis. Kristus yang naik adalah Kristus yang akan datang kembali.

2.3 Sintesis Teologis Eksegetis

Dari analisis di atas, dapat dirumuskan beberapa poin utama:

  1. Kenaikan bukan akhir, tetapi kelanjutan karya Kristus
  2. Roh Kudus adalah penghubung antara Kristus dan gereja
  3. Misi adalah respons utama gereja, bukan spekulasi eskatologis
  4. Kenaikan dan kedatangan kembali membentuk kerangka eskatologis iman Kristen

 

BAB III - KAJIAN TEOLOGIS

3.1 Pendahuluan Teologis

Kisah Para Rasul 1:1–11 tidak hanya menyajikan laporan historis mengenai kenaikan Yesus, tetapi membuka horizon teologis yang luas mengenai identitas Kristus, karya Roh Kudus, panggilan gereja, serta orientasi eskatologis iman Kristen. Teks ini berada pada titik peralihan yang krusial: dari Kristologi inkarnasional menuju Kristologi yang dimuliakan; dari kehadiran Yesus secara fisik menuju kehadiran-Nya secara pneumatologis; dan dari pengalaman murid yang terbatas menuju misi universal gereja.

Dalam kerangka teologi sistematis, perikop ini menyentuh setidaknya empat locus utama: Kristologi, Pneumatologi, Eklesiologi, dan Eskatologi. Namun, keempatnya tidak berdiri secara terpisah, melainkan saling berjalin dalam suatu dinamika trinitaris yang hidup. Oleh karena itu, kajian ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga reflektif dan dialogis dengan pemikiran teolog besar dalam sejarah gereja.

3.2 Teologi Kenaikan Yesus (Kristologi yang Dimuliakan)

Kenaikan Yesus harus dipahami sebagai bagian integral dari satu kesatuan karya keselamatan Kristus: inkarnasi, penderitaan, kematian, kebangkitan, kenaikan, dan pemuliaan. Dalam hal ini, kenaikan bukan sekadar “perpisahan”, melainkan penobatan.

Dalam tradisi teologi klasik, Agustinus dari Hippo memahami kenaikan sebagai penggenapan dari gerak “turun-naik” (descensus–ascensus) Kristus. Kristus turun dalam kerendahan (kenosis) dan naik dalam kemuliaan (gloria). Dengan demikian, kenaikan menegaskan bahwa kemanusiaan yang telah ditebus kini diangkat ke dalam persekutuan ilahi.

Sementara itu, John Calvin menekankan bahwa kenaikan Kristus memiliki fungsi teologis yang sangat konkret: Kristus naik untuk menjadi Pengantara (Mediator) dan Imam Besar yang terus bekerja bagi umat-Nya. Ia tidak “absen”, tetapi justru hadir dalam cara yang lebih dalam dan efektif, yaitu melalui Roh Kudus.

Dalam perspektif modern, Karl Barth melihat kenaikan sebagai momen di mana Kristus memasuki dimensi “transendensi ilahi” tanpa meninggalkan dunia. Dengan kata lain, kenaikan bukan perpindahan ruang secara geografis, melainkan transformasi relasi: Kristus kini hadir secara universal, tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.

Secara teologis, hal ini mengandung implikasi penting:

  • Kristus yang naik adalah Kristus yang memerintah
  • Kenaikan adalah dasar bagi doktrin kerajaan Allah yang sedang berlangsung
  • Kemanusiaan Yesus tidak ditinggalkan, tetapi dimuliakan

Dengan demikian, kenaikan bukan kehilangan Kristus, melainkan peneguhan kehadiran-Nya dalam cara yang baru dan lebih dalam.

3.3 Teologi Roh Kudus (Pneumatologi Misioner)

Kenaikan Kristus dalam Kisah Para Rasul 1 tidak dapat dipisahkan dari janji Roh Kudus. Secara teologis, terdapat hubungan kausal: Kristus “pergi” supaya Roh Kudus “datang”. Ini bukan sekadar urutan kronologis, tetapi dinamika trinitaris.

Dalam Injil Yohanes (bdk. Yoh. 16:7), Yesus berkata bahwa adalah lebih baik Ia pergi, sebab jika tidak, Roh Penghibur tidak akan datang. Ini menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus bukanlah substitusi yang lebih rendah, melainkan mode kehadiran Kristus yang lebih intens dan universal.

Basil dari Kaisarea dalam tradisi patristik menekankan bahwa Roh Kudus adalah pribadi ilahi yang menghadirkan Allah secara aktual dalam kehidupan umat. Roh bukan sekadar “kuasa impersonal”, tetapi Pribadi yang menghidupkan, menguduskan, dan mengutus.

Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Roh Kudus dikaitkan langsung dengan δύναμις (kuasa). Namun, kuasa ini bukan bersifat dominatif, melainkan misioner. Kuasa Roh Kudus memampukan gereja untuk bersaksi, bukan untuk menguasai.

Secara teologis, ini berarti:

  • Roh Kudus adalah agen kehadiran Kristus di dunia
  • Gereja tidak hidup dari dirinya sendiri, tetapi dari pemberian ilahi
  • Misi gereja adalah partisipasi dalam karya Roh, bukan proyek manusia

Dengan demikian, pneumatologi dalam Kisah Para Rasul bersifat dinamis, misioner, dan eksistensial.

3.4 Teologi Misi Gereja (Eklesiologi Apostolik)

Pernyataan “kamu akan menjadi saksi-Ku” (Kis. 1:8) merupakan definisi paling mendasar tentang gereja. Gereja bukan pertama-tama institusi, melainkan komunitas kesaksian.

Istilah Yunani μάρτυρες (martyrēs) tidak hanya berarti “saksi” dalam arti verbal, tetapi juga dalam arti eksistensial—bahkan sampai pada kematian (martir). Dengan demikian, kesaksian gereja tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga kehidupan.

Dalam perspektif teologi misi modern, Lesslie Newbigin menegaskan bahwa gereja ada karena misi, bukan sebaliknya. Gereja adalah alat Allah untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan-Nya di dunia.

Struktur geografis dalam Kisah Para Rasul 1:8 (Yerusalem → Yudea → Samaria → ujung bumi) mencerminkan ekspansi yang melampaui batas etnis, budaya, dan religius. Ini menunjukkan bahwa Injil bersifat inklusif dan universal.

Implikasi teologisnya:

  • Gereja dipanggil keluar dari eksklusivisme
  • Misi adalah identitas, bukan aktivitas tambahan
  • Kesaksian gereja bersifat kontekstual, tetapi tetap setia pada Injil

Dengan demikian, gereja hidup dalam ketegangan antara “diutus ke dunia” dan “tidak menjadi milik dunia”.

3.5 Teologi Eskatologi (Already and Not Yet)

Dimensi eskatologis dalam Kisah Para Rasul 1:11 membuka horizon pengharapan yang menentukan arah iman Kristen. Pernyataan bahwa Yesus “akan datang kembali” menegaskan bahwa sejarah memiliki tujuan dan arah.

Dalam teologi modern, konsep “already and not yet” menjadi kunci untuk memahami eskatologi Perjanjian Baru. George Eldon Ladd menjelaskan bahwa kerajaan Allah telah hadir dalam Yesus (already), tetapi belum mencapai kepenuhannya (not yet).

Sementara itu, Jürgen Moltmann menekankan bahwa pengharapan Kristen bersifat proleptik—masa depan Allah sudah mulai hadir dalam masa kini, tetapi belum sepenuhnya terwujud. Oleh karena itu, iman Kristen adalah iman yang bergerak ke depan, bukan nostalgia ke masa lalu.

Secara eksistensial, hal ini menciptakan suatu ketegangan kreatif:

  • Gereja hidup di antara janji dan penggenapan
  • Dunia belum sempurna, tetapi sudah ditebus
  • Pengharapan bukan pelarian, tetapi motivasi untuk bertindak

Dengan demikian, eskatologi bukan sekadar doktrin tentang akhir zaman, tetapi kerangka hidup iman.

3.6 Sintesis Teologis

Dari keseluruhan kajian di atas, dapat dirumuskan beberapa kesimpulan teologis utama:

  1. Kenaikan Kristus adalah pemuliaan sekaligus penobatan-Nya sebagai Tuhan
  2. Roh Kudus adalah kehadiran aktif Kristus yang memampukan gereja
  3. Gereja adalah komunitas saksi yang diutus secara universal
  4. Iman Kristen hidup dalam ketegangan eskatologis antara “sudah” dan “belum”

Keempat aspek ini membentuk suatu kesatuan teologis yang utuh:
Kristus yang naik → mengutus Roh → membentuk gereja → menuju penggenapan eskatologis.

BAB IV - KAJIAN DOGMATIS

4.1 Pendahuluan Dogmatis

Jika kajian biblis memberi dasar tekstual dan kajian teologis memberi refleksi konseptual, maka kajian dogmatis bertujuan untuk merumuskan ajaran gereja secara normatif, sistematis, dan koheren. Dalam konteks ini, Kisah Para Rasul 1:1–11 menjadi locus penting bagi pengembangan doktrin tentang kenaikan Kristus (Ascensio Christi) dan kedatangan kembali-Nya (Parousia).

Dogmatika tidak berdiri di ruang hampa; ia selalu berkembang dalam dialog dengan Kitab Suci, tradisi gereja, dan konteks historis. Oleh karena itu, pembahasan ini akan melibatkan perbandingan antara tiga tradisi besar: Katolik, Reformasi (Protestan), dan Ortodoks Timur, sekaligus mengangkat beberapa perdebatan teologis yang relevan.

4.2 Doktrin Kenaikan Kristus (Ascensio Christi)

4.2.1 Perumusan Dogmatis Dasar

Dalam pengakuan iman klasik seperti Symbolum Apostolicum (Pengakuan Iman Rasuli), dinyatakan bahwa Kristus:
“naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.”

Rumusan ini mengandung tiga unsur utama:

  1. Kenaikan (ascensio)
  2. Pemuliaan (glorificatio)
  3. Penobatan (sessio ad dexteram Dei)

Secara dogmatis, kenaikan bukan sekadar peristiwa historis, tetapi status ontologis baru dari Kristus yang dimuliakan.

4.2.2 Perspektif Katolik

Dalam tradisi Gereja Katolik, kenaikan dipahami dalam kerangka sakramental dan kosmis. Kristus yang naik tetap hadir melalui Gereja, khususnya dalam Ekaristi.

Teologi Katolik menekankan:

  • Kristus sebagai Kepala Gereja yang dimuliakan
  • Gereja sebagai tubuh mistik Kristus
  • Kenaikan sebagai awal partisipasi manusia dalam kehidupan ilahi (theosis dalam arti luas)

Dimensi ontologis sangat ditekankan: kemanusiaan Kristus masuk ke dalam kemuliaan Allah, membuka jalan bagi keselamatan manusia.

4.2.3 Perspektif Reformasi

Dalam tradisi Gereja Protestan, khususnya melalui pemikiran John Calvin, kenaikan memiliki fungsi kristologis dan soteriologis yang sangat spesifik:

  • Kristus naik untuk menjadi Imam Besar yang bersyafaat
  • Ia memerintah sebagai Raja atas gereja dan dunia
  • Kehadiran Kristus tidak lagi bersifat lokal, tetapi spiritual melalui Roh Kudus

Calvin menolak pemahaman bahwa tubuh Kristus hadir secara fisik di mana-mana (menolak ubiquitas tubuh Kristus dalam arti tertentu), dan menekankan bahwa kenaikan berarti Kristus benar-benar berada di “surga” sebagai realitas eskatologis.

4.2.4 Perspektif Ortodoks Timur

Dalam tradisi Gereja Ortodoks Timur, kenaikan dipahami dalam kerangka theosis (pengilahian):

  • Kemanusiaan Kristus diangkat ke dalam kemuliaan ilahi
  • Manusia dipanggil untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah
  • Kenaikan adalah kemenangan atas keterbatasan ciptaan

Berbeda dari pendekatan Barat yang lebih yuridis, Ortodoks menekankan dimensi mistik dan transformasional: keselamatan adalah partisipasi dalam kehidupan Allah.

4.2.5 Sintesis Kritis

Ketiga tradisi tersebut menunjukkan penekanan yang berbeda:

  • Katolik: sakramental dan eklesiologis
  • Reformasi: kristologis dan soteriologis
  • Ortodoks: mistik dan ontologis

Secara kritis, dapat dikatakan bahwa:

  • Tradisi Barat cenderung menekankan fungsi Kristus
  • Tradisi Timur menekankan transformasi ontologis manusia

Sintesis yang seimbang harus mengakui bahwa kenaikan Kristus adalah:
peristiwa historis, realitas ontologis, dan dasar partisipasi umat dalam keselamatan

4.3 Doktrin Roh Kudus (Pneumatologi Dogmatis)

Kenaikan Kristus tidak dapat dipisahkan dari pengutusan Roh Kudus. Dalam dogmatika, ini berkaitan dengan perdebatan klasik tentang Filioque (apakah Roh Kudus berasal dari Bapa saja, atau dari Bapa dan Anak).

  • Tradisi Barat (Katolik & Protestan): Roh Kudus berasal dari Bapa dan Anak
  • Tradisi Ortodoks: Roh Kudus berasal dari Bapa melalui Anak

Perdebatan ini bukan sekadar teknis, tetapi menyentuh relasi intra-Trinitas.

Dalam konteks Kisah Para Rasul 1:

  • Roh Kudus adalah kelanjutan kehadiran Kristus
  • Gereja hidup dalam ekonomi Trinitaris

Secara dogmatis:

  • Roh Kudus adalah Pribadi ilahi yang setara
  • Ia mengaktualkan karya keselamatan dalam sejarah

4.4 Doktrin Gereja (Eklesiologi Dogmatis)

Kisah Para Rasul 1:8 memberikan dasar bagi doktrin gereja sebagai communio sanctorum (persekutuan orang percaya) sekaligus missio Dei (alat misi Allah).

Secara dogmatis:

  • Gereja bersifat apostolik (diutus)
  • Gereja bersifat katolik (universal)
  • Gereja bersifat pneumatis (hidup oleh Roh)

Perdebatan muncul dalam:

  • Apakah gereja terutama institusi (Katolik)?
  • Atau persekutuan iman (Reformasi)?
  • Atau realitas mistik (Ortodoks)?

Jawaban yang lebih utuh:
→ Gereja adalah realitas historis sekaligus spiritual, terlihat sekaligus tak terlihat.

4.5 Doktrin Kedatangan Kembali Kristus (Eskatologi Dogmatis)

4.5.1 Perumusan Dasar

Pengakuan iman menyatakan:
“Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.”

Ini mencakup:

  • Parousia (kedatangan kembali)
  • Penghakiman terakhir
  • Penggenapan kerajaan Allah

4.5.2 Perdebatan Eskatologis

Dalam sejarah teologi, terdapat beberapa pandangan utama:

  1. Premilenialisme – Kristus datang sebelum kerajaan 1000 tahun
  2. Amilenialisme – kerajaan Allah bersifat simbolis (dominan dalam Gereja Katolik dan Gereja Ortodoks Timur)
  3. Postmilenialisme – Kristus datang setelah kemajuan Injil

Agustinus dari Hippo berperan besar dalam membentuk pandangan amilenial: kerajaan Allah sudah hadir secara rohani.

4.5.3 Pendekatan Modern

Rudolf Bultmann mencoba “demitologisasi” eskatologi, melihatnya sebagai simbol eksistensial.
Sebaliknya, Jürgen Moltmann menegaskan realitas masa depan Allah sebagai kekuatan transformasi sejarah.

4.5.4 Sintesis Dogmatis

Secara sistematis, doktrin Parousia harus memegang tiga hal:

  1. Kepastian (certainty) – Kristus pasti datang kembali
  2. Ketidaktahuan waktu (unknowability) – manusia tidak tahu kapan
  3. Tujuan etis (ethical telos) – mendorong hidup kudus dan misioner

4.6 Implikasi Dogmatis

Dari seluruh pembahasan, dapat dirumuskan implikasi dogmatis sebagai berikut:

  1. Kristus yang naik adalah Kristus yang memerintah
  2. Roh Kudus adalah kehadiran aktif Allah dalam gereja
  3. Gereja adalah komunitas misioner dalam sejarah
  4. Eskatologi memberi arah dan makna bagi kehidupan iman

Dogma bukan sekadar teori, tetapi kerangka hidup iman gereja.

4.7 Kesimpulan Dogmatis

Kenaikan dan kedatangan kembali Kristus bukan dua doktrin terpisah, melainkan satu kesatuan:

  • Kenaikan → menegaskan otoritas Kristus
  • Roh Kudus → mengaktualkan kehadiran-Nya
  • Gereja → melanjutkan misi-Nya
  • Parousia → menggenapi karya-Nya

Dengan demikian, iman Kristen berdiri dalam satu garis besar:
dari Kristus yang datang → Kristus yang naik → Kristus yang hadir → Kristus yang akan datang kembali.

BAB V - PENUTUP DAN RELEVANSI PRAKTIS: SUARA PROFETIS BAGI GEREJA DI INDONESIA

5.1 Pendahuluan Profetis

Jika Kisah Para Rasul 1:1–11 hanya berhenti sebagai doktrin, maka gereja akan menjadi museum teologi. Namun jika teks ini dibaca sebagai panggilan ilahi, maka gereja dipaksa untuk bertanya: Apakah kita benar-benar hidup sebagai saksi dari Kristus yang naik dan akan datang kembali?

Masalahnya, gereja sering kali lebih sibuk mengelola institusi daripada menghadirkan Kerajaan Allah. Kenaikan Kristus diakui dalam liturgi, tetapi tidak selalu tercermin dalam etos hidup umat. Kedatangan Kristus dinantikan dalam pengakuan iman, tetapi sering kehilangan daya etis dan profetisnya.

Di sinilah diperlukan suara yang tidak hanya menafsirkan, tetapi juga menegur.

5.2 Kritik Teologis terhadap Gereja di Indonesia

5.2.1 Gereja yang Kehilangan Dimensi Eskatologis

Banyak gereja hidup seolah-olah Kristus tidak akan datang kembali. Fokus pelayanan tereduksi pada:

  • pembangunan gedung
  • stabilitas organisasi
  • keberlangsungan program

Tanpa eskatologi, gereja menjadi terlalu nyaman dengan dunia. Ia kehilangan keberanian untuk bersuara, karena terlalu terikat pada kepentingan jangka pendek.

Padahal, iman akan kedatangan Kristus seharusnya menghasilkan:

  • keberanian melawan ketidakadilan
  • kesadaran bahwa semua kuasa dunia bersifat sementara
  • orientasi hidup yang melampaui materi

Gereja yang tidak hidup dalam pengharapan eskatologis akan mudah berkompromi dengan kekuasaan.

5.2.2 Gereja yang Kehilangan Spirit Misi

Mandat “kamu akan menjadi saksi-Ku” sering kali direduksi menjadi aktivitas internal gereja. Misi dipahami sebagai program, bukan identitas.

Akibatnya:

  • gereja menjadi eksklusif
  • kesaksian kehilangan daya transformasi
  • Injil tidak lagi menjangkau realitas sosial

Pemikiran Gustavo Gutiérrez mengingatkan bahwa gereja harus berpihak kepada yang tertindas. Tanpa keberpihakan, kesaksian menjadi kosong.

Gereja tidak dipanggil untuk sekadar “bertumbuh”, tetapi untuk menjadi tanda kehadiran Allah di tengah penderitaan manusia.

5.2.3 Gereja yang Terjebak dalam Kekuasaan dan Materialisme

Fenomena yang tidak dapat diabaikan adalah kecenderungan sebagian gereja untuk:

  • mengejar kekuatan finansial
  • membangun citra megah
  • mengukur keberhasilan dengan angka

Dalam konteks ini, gereja berisiko mengkhianati Kristus yang naik—yang justru memerintah bukan dengan dominasi, tetapi dengan pengorbanan.

Jacques Ellul pernah mengkritik bahwa gereja sering terjebak dalam sistem dunia yang seharusnya ia kritik.

Jika gereja menjadi bagian dari logika kapitalisme yang eksploitatif, maka ia kehilangan suara kenabiannya.

5.2.4 Gereja yang Diam terhadap Ketidakadilan Sosial

Dalam konteks Indonesia:

  • kemiskinan struktural masih nyata
  • korupsi merusak tatanan sosial
  • intoleransi dan diskriminasi masih terjadi

Namun, gereja sering memilih diam atau bersikap netral. Padahal, netralitas dalam situasi ketidakadilan adalah bentuk keberpihakan kepada penindas.

Dietrich Bonhoeffer menegaskan bahwa gereja tidak hanya berkewajiban membantu korban, tetapi juga menghentikan roda kejahatan itu sendiri.

Gereja yang tidak bersuara adalah gereja yang kehilangan panggilannya.

5.3 Relevansi Etis dan Praktis

5.3.1 Hidup sebagai Saksi (Martyria Eksistensial)

Menjadi saksi bukan hanya berbicara tentang Kristus, tetapi:

  • hidup dalam kebenaran
  • menunjukkan kasih dalam tindakan
  • berani menderita demi iman

Kesaksian gereja harus terlihat dalam:

  • integritas
  • solidaritas sosial
  • keberanian moral

5.3.2 Gereja sebagai Komunitas Alternatif

Gereja dipanggil untuk menjadi tanda Kerajaan Allah di tengah dunia:

  • melawan budaya korupsi dengan kejujuran
  • melawan kekerasan dengan kasih
  • melawan diskriminasi dengan inklusivitas

Dengan demikian, gereja bukan sekadar bagian dari masyarakat, tetapi alternatif bagi masyarakat.

5.3.3 Pengharapan Eskatologis sebagai Energi Transformasi

Pengharapan akan kedatangan Kristus bukan pelarian dari dunia, tetapi justru:

  • memberi keberanian untuk bertindak
  • memberi makna dalam penderitaan
  • memberi arah dalam sejarah

Seperti ditegaskan Jürgen Moltmann, pengharapan Kristen adalah kekuatan yang mengubah masa kini.

5.3.4 Spiritualitas yang Terarah pada Dunia

Kenaikan Kristus tidak memanggil gereja untuk “melihat ke langit” terus-menerus (bdk. Kis. 1:11), tetapi untuk kembali ke dunia dengan tugas.

Spiritualitas Kristen yang sejati adalah:

  • kontemplatif sekaligus aktif
  • berakar dalam doa, tetapi bergerak dalam aksi
  • setia kepada Allah, sekaligus peduli pada manusia

5.4 Refleksi Kontekstual Indonesia

Dalam konteks Indonesia yang plural dan kompleks, gereja dipanggil untuk:

  1. Menjadi agen perdamaian di tengah konflik identitas
  2. Membangun keadilan sosial di tengah ketimpangan
  3. Menghidupi toleransi tanpa kehilangan identitas iman
  4. Memberi suara bagi yang tidak bersuara

Gereja tidak boleh menarik diri dari ruang publik, tetapi harus hadir sebagai garam dan terang.

5.5 Kesimpulan Akhir

Yesus telah naik ke surga—itu berarti Ia adalah Tuhan.
Yesus akan datang kembali—itu berarti sejarah akan dihakimi.

Pertanyaannya:
Di manakah gereja berdiri di antara dua peristiwa itu?

Apakah gereja:

  • menjadi saksi yang setia, atau sekadar institusi religius?
  • menjadi suara kebenaran, atau bagian dari sistem dunia?
  • hidup dalam pengharapan, atau tenggelam dalam kenyamanan?

Kisah Para Rasul 1:1–11 tidak memberi ruang untuk iman yang pasif.
Ia menuntut gereja untuk bergerak, bersaksi, dan berani.

Sebab pada akhirnya, iman Kristen bukan hanya tentang apa yang kita percayai, tetapi tentang bagaimana kita hidup di hadapan Kristus yang naik dan akan datang kembali.

 

Guru yang mengajar

PELAYAN BPPPWG MENARA KRISTEN

Pdt Hendra C Manullang, S.Th

KEPALA BPPPWG MK

"Setiap orang memiliki hak, tanggung jawab, dan kemampuan untuk melayani Kristus." - Pdt. Hendra C manullang.

C.Pdt.Boima H Banurea,S.Th

Ka.bid Keuangan

"Melayani bukan untuk dilayani, meski nyawa taruhannya. Tetaplah melayani gerejanya dan seluruh umat." - C.Pdt. Boima H Banurea

Pdt. Reynold Sitorus, S.Th

Pengawas

Seorang pelayan Gereja mempengaruhi keabadian; dia tidak pernah tahu di mana pengaruhnya berhenti." - Pdt. Reynold Sitorus

C.Pdt. Fajar Panggabean, S.Th

Ka.Bid.Marturia

Nafas seorang Kristen adalah Doa; dan setiap tindakannya dibawah kuasa Roh Kudus." - C.Pdt.Fajar Panggabean

Delima R Br. Saragih, S.Th.

Ka.Bid Sekretariat Umum

"Pelayanan Gereja yang berkarakter akan menciptakan banyak mental Kristus ."- Delima R Br Saragih

Christianto Tambunan, M.Th

Ka.Bid Diakonia

""Pelayanan Gerejawi bukan hanya menjadikan manusia berhikmat dan bijaksana, tapi upaya Allah sendiri." - Christianto Tambunan

Pdt. Peniel Hutauruk, S.Th

Ka.Bid. Koinonia

"Membuat sebuah tindakan yang positif, kita harus mengembangkan sebuah pandangan positif." – - Pdt. Peniel Hutauruk

Tri R D Damanik, A.Md.Bns

Volunter

"Jika Anda berpikir positif, Anda menarik hal positif masuk ke hidup Anda. Begitu juga sebaliknya." – - Tri R D Damanik.

Jesica Manullang,S.Th

PENGAWAS

"Pendidikan adalah Pilar Kehidupan, tanpa pendidikan kehidupan ini menjadi lebih sulit."

Peta Lokasi dan Kontak

Formulir Kontak

Name

Email *

Message *

JAM OPERASIONAL SEKOLAH

Tedbree Logo
BPPPWG Menara Kristen Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu Anda
Halo, Ada yang bisa kami bantu? ...
Kirim