LUKAS 10 : 25 - 37 ( KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA MANUSIA )
KASIH
KEPADA ALLAH DAN SESAMA MANUSIA
Kajian Biblis-Teologis
Berdasarkan Lukas 10:25–37
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kasih merupakan salah satu tema utama dalam kehidupan iman Kristen. Kekristenan tidak hanya berbicara mengenai hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengenai hubungan manusia dengan sesamanya. Kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seseorang yang sungguh-sungguh mengasihi Allah dipanggil untuk menyatakan kasih tersebut dalam kehidupan nyata melalui kepedulian, pelayanan, pengampunan, dan tindakan nyata terhadap sesama manusia.
Dalam Injil Lukas, Yesus banyak memberikan perhatian terhadap persoalan kasih, belas kasihan, kehidupan sosial, dan hubungan manusia dengan orang lain. Salah satu pengajaran yang sangat terkenal mengenai hal tersebut terdapat dalam Lukas 10:25–37, yaitu perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Perikop ini diawali dengan pertanyaan seorang ahli Taurat kepada Yesus: “Guru, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?” Pertanyaan tersebut membawa Yesus kepada pembicaraan mengenai hukum Taurat, khususnya perintah untuk mengasihi Allah dan sesama manusia.
Ahli Taurat tersebut kemudian menjawab bahwa hukum yang terutama adalah mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi serta mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri. Namun, untuk membenarkan dirinya, ia kembali bertanya kepada Yesus: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalan kasih tidak hanya berkaitan dengan mengetahui perintah Allah, tetapi juga dengan bagaimana seseorang memahami dan melaksanakannya.
Yesus kemudian memberikan perumpamaan tentang seorang yang turun dari Yerusalem ke Yerikho dan dirampok oleh penyamun. Orang tersebut ditinggalkan dalam keadaan hampir mati. Seorang imam dan seorang Lewi yang melihatnya justru melewatinya. Sebaliknya, seorang Samaria, yang secara sosial dan keagamaan memiliki hubungan yang tidak baik dengan orang Yahudi, tergerak oleh belas kasihan. Ia mendekati orang yang terluka tersebut, merawat luka-lukanya, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan menanggung biaya perawatannya.
Perumpamaan ini memperlihatkan bahwa kasih kepada sesama bukan sekadar perasaan atau pengetahuan tentang hukum Allah. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan nyata. Yesus bahkan mengubah cara pandang mengenai pertanyaan “siapakah sesamaku?” menjadi pertanyaan mengenai “siapakah yang menjadi sesama bagi orang yang membutuhkan pertolongan?” Dengan demikian, sesama bukan hanya orang yang memiliki kesamaan latar belakang, agama, suku, status sosial, atau hubungan dengan kita. Sesama adalah siapa saja yang membutuhkan kasih dan pertolongan, dan orang percaya dipanggil untuk menjadi sesama bagi mereka.
Perikop Lukas 10:25–37 menjadi sangat relevan dalam kehidupan manusia masa kini. Dunia masih menghadapi berbagai persoalan seperti kemiskinan, diskriminasi, kekerasan, konflik, ketidakadilan, individualisme, dan kurangnya kepedulian terhadap penderitaan orang lain. Tidak sedikit orang mengetahui ajaran kasih, tetapi tidak selalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, ajaran Yesus mengenai orang Samaria yang baik hati perlu dikaji secara mendalam agar gereja dan orang percaya memahami hakikat kasih kepada Allah yang diwujudkan melalui kasih kepada sesama manusia.
Berdasarkan hal tersebut, tulisan ini mengkaji Lukas 10:25–37 secara biblis dan teologis dengan tema “Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia.” Kajian ini diharapkan dapat memperlihatkan hubungan yang erat antara kasih kepada Allah dan tindakan kasih kepada sesama serta memberikan pemahaman mengenai penerapannya dalam kehidupan orang percaya.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam tulisan ini adalah:
Bagaimana konteks dan makna Lukas 10:25–37?
Apa makna kasih kepada Allah dan sesama manusia berdasarkan perikop tersebut?
Bagaimana kasih kepada Allah diwujudkan melalui kasih kepada sesama dalam kehidupan orang percaya?
1.3 Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan:
1.Menjelaskan konteks dan isi Lukas 10:25–37 secara biblis.
2.Menganalisis makna teologis kasih kepada Allah dan sesama manusia.
3.Menjelaskan relevansi ajaran Yesus tentang orang Samaria yang baik hati bagi kehidupan orang percaya pada masa kini.
II. KAJIAN BIBLIS-TEOLOGIS LUKAS 10:25–37
2.1 Konteks Lukas 10:25–37
Lukas 10:25–37 merupakan bagian dari perjalanan Yesus menuju Yerusalem. Dalam perjalanan tersebut, Yesus mengajar para murid dan orang banyak mengenai kehidupan sebagai umat Allah. Salah satu persoalan yang muncul adalah pertanyaan mengenai kehidupan kekal.
Perikop ini dimulai dengan kedatangan seorang ahli Taurat yang berdiri untuk mencobai Yesus. Ia bertanya mengenai apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup yang kekal. Yesus tidak langsung memberikan jawaban, tetapi mengarahkan orang tersebut kepada hukum Taurat yang sudah diketahuinya. Yesus bertanya: “Apa yang tertulis dalam hukum Taurat? Apa yang kaubaca di sana?”
Ahli Taurat tersebut menjawab dengan menggabungkan dua perintah penting dalam Perjanjian Lama. Pertama, manusia harus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Kedua, manusia harus mengasihi sesamanya seperti dirinya sendiri. Jawaban ini menunjukkan bahwa ahli Taurat sebenarnya mengetahui isi hukum Allah.
Yesus kemudian menyatakan bahwa jawabannya benar dan berkata: “Perbuatlah demikian, maka engkau akan hidup.” Dengan demikian, Yesus menegaskan bahwa kehidupan iman tidak berhenti pada pengetahuan mengenai perintah Allah. Apa yang diketahui harus diwujudkan dalam perbuatan.
Namun, ahli Taurat tersebut ingin membenarkan dirinya dan bertanya: “Dan siapakah sesamaku manusia?” Pertanyaan inilah yang menjadi dasar bagi perumpamaan orang Samaria yang baik hati.
2.2 Orang yang Dirampok: Gambaran Manusia yang Membutuhkan Pertolongan
Yesus menggambarkan seorang manusia yang melakukan perjalanan dari Yerusalem ke Yerikho. Dalam perjalanan itu ia jatuh ke tangan penyamun. Ia dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan dalam keadaan hampir mati.
Identitas orang tersebut tidak dijelaskan. Ia tidak disebutkan sukunya, pekerjaannya, status sosialnya, atau agamanya. Hal ini penting karena Yesus sengaja tidak memberikan identitas yang dapat membatasi kasih. Orang yang membutuhkan pertolongan pertama-tama harus dilihat sebagai manusia yang memiliki kebutuhan dan penderitaan.
Dalam perspektif teologis, keadaan orang yang terluka tersebut menggambarkan kenyataan bahwa manusia dapat berada dalam kondisi yang membutuhkan pertolongan. Penderitaan manusia seharusnya membangkitkan belas kasihan dan tanggung jawab, bukan sikap tidak peduli.
Kehidupan manusia tidak selalu berada dalam keadaan aman. Seseorang dapat mengalami kesulitan, kemiskinan, sakit, ketidakadilan, kehilangan, atau penderitaan. Dalam keadaan demikian, kehadiran orang lain menjadi sangat penting. Karena itu, kasih Kristen harus memiliki dimensi sosial: melihat penderitaan, mendekat, dan melakukan sesuatu untuk menolong.
2.3 Imam dan Orang Lewi: Ketika Pengetahuan Tidak Menghasilkan Kasih
Dalam perumpamaan tersebut, seorang imam turun melalui jalan yang sama. Ia melihat orang yang terluka, tetapi melewatinya dari seberang jalan. Demikian juga seorang Lewi datang ke tempat itu, melihatnya, tetapi juga melewatinya.
Kedua tokoh ini menarik karena imam dan Lewi merupakan orang-orang yang memiliki hubungan dengan kehidupan keagamaan Israel. Mereka seharusnya memahami hukum Allah. Namun, pengetahuan keagamaan mereka tidak menghasilkan tindakan kasih kepada orang yang sedang menderita.
Yesus tidak sedang mengatakan bahwa semua imam atau orang Lewi adalah orang jahat. Fokus perumpamaan bukanlah menyerang kelompok tertentu, melainkan menunjukkan bahaya iman yang hanya berhenti pada pengetahuan dan status keagamaan.
Seseorang dapat mengetahui perintah kasih tetapi tetap tidak melakukan kasih. Seseorang dapat aktif dalam kegiatan keagamaan tetapi tidak memiliki kepedulian terhadap penderitaan manusia. Karena itu, kehidupan iman harus menghasilkan tindakan nyata.
Kasih yang sejati menuntut keberanian untuk berhenti dan memperhatikan kebutuhan orang lain. Kasih tidak boleh dikalahkan oleh kenyamanan, kesibukan, kepentingan pribadi, ataupun batas-batas sosial.
2.4 Orang Samaria: Kasih yang Diwujudkan dalam Tindakan
Tokoh utama dalam perumpamaan ini adalah seorang Samaria. Bagi pendengar Yesus pada waktu itu, penyebutan orang Samaria memiliki makna sosial dan historis yang kuat. Orang Yahudi dan orang Samaria memiliki hubungan yang tidak harmonis. Karena itu, pendengar Yesus mungkin tidak mengharapkan seorang Samaria menjadi tokoh yang menunjukkan kasih.
Namun, justru orang Samaria itulah yang menunjukkan belas kasihan. Lukas 10:33 menyatakan bahwa ketika ia melihat orang yang terluka itu, “tergeraklah hatinya oleh belas kasihan.”
Belas kasihan menjadi titik awal tindakan kasih. Ia tidak hanya merasa kasihan dari kejauhan. Ia mendekati orang tersebut, membalut luka-lukanya, menyiramnya dengan minyak dan anggur, menaikkannya ke atas keledainya, membawanya ke penginapan, dan merawatnya.
Tindakan orang Samaria tersebut memperlihatkan bahwa kasih memiliki beberapa karakter penting.
a.Pertama, kasih melihat penderitaan. Orang Samaria tidak mengabaikan orang yang terluka.
b.Kedua, kasih tergerak oleh belas kasihan. Ia membiarkan penderitaan orang lain menyentuh hatinya.
c.Ketiga, kasih mendekat. Ia tidak menjaga jarak dari orang yang sedang menderita.
d.Keempat, kasih bertindak. Ia memberikan pertolongan yang konkret.
e.Kelima, kasih berkorban. Ia menggunakan waktu, tenaga, fasilitas, dan hartanya untuk menolong orang lain.
f.Keenam, kasih tidak berhenti pada tindakan sesaat. Ia menyerahkan dua dinar kepada pemilik penginapan dan mengatakan bahwa jika ada biaya tambahan, ia akan membayarnya ketika kembali.
Dengan demikian, kasih menurut Yesus bukan sekadar perkataan. Kasih adalah tindakan yang nyata, berkorban, dan bertanggung jawab.
2.5 “Siapakah Sesama Manusia?”: Perubahan Perspektif tentang Sesama
Setelah menyampaikan perumpamaan tersebut, Yesus bertanya kepada ahli Taurat: “Siapakah di antara ketiga orang ini, menurut pendapatmu, adalah sesama manusia dari orang yang jatuh ke tangan penyamun itu?”
Ahli Taurat menjawab: “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.”
Menarik bahwa ahli Taurat tidak menyebut “orang Samaria,” melainkan “orang yang telah menunjukkan belas kasihan.” Hal ini menunjukkan bahwa inti perumpamaan bukanlah identitas kelompok, melainkan tindakan kasih.
Yesus kemudian berkata: “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”
Perintah tersebut menjadi penutup sekaligus inti perumpamaan. Yesus tidak hanya menghendaki manusia mengetahui siapa sesamanya, tetapi menjadi sesama bagi orang lain. Dengan demikian, pertanyaan mengenai batas-batas kasih digantikan oleh panggilan untuk melakukan kasih.
2.6 Kasih kepada Allah sebagai Dasar Kehidupan Orang Percaya
Kasih kepada Allah merupakan dasar utama kehidupan iman. Dalam jawaban ahli Taurat, kasih kepada Allah mencakup segenap hati, jiwa, kekuatan, dan akal budi. Artinya, kasih kepada Allah melibatkan seluruh keberadaan manusia.
Mengasihi Allah dengan segenap hati berarti menempatkan Allah sebagai pusat kehidupan. Kasih tersebut tidak hanya berupa perasaan religius, tetapi juga ketaatan terhadap kehendak-Nya. Orang yang mengasihi Allah dipanggil untuk hidup menurut firman-Nya.
Kasih kepada Allah juga mencakup seluruh aspek kehidupan. Pikiran, kehendak, perasaan, kekuatan, waktu, harta, dan kemampuan manusia semuanya diarahkan untuk memuliakan Allah.
Karena itu, kasih kepada Allah tidak dapat dipisahkan dari kasih kepada manusia. Allah yang dikasihi adalah Allah yang menghendaki manusia hidup dalam kasih terhadap sesamanya.
2.7 Kasih kepada Sesama sebagai Wujud Kasih kepada Allah
Kasih kepada sesama merupakan perwujudan nyata dari kasih kepada Allah. Jika seseorang mengaku mengasihi Allah tetapi tidak peduli terhadap sesamanya, maka pengakuan tersebut kehilangan makna praktisnya.
Dalam Lukas 10:25–37, Yesus memperlihatkan bahwa kasih kepada sesama bukan hanya ditujukan kepada orang yang kita sukai atau orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Kasih melampaui batas suku, agama, status sosial, dan kelompok.
Orang Samaria tidak bertanya terlebih dahulu apakah orang yang terluka itu berasal dari kelompok yang sama dengannya. Ia melihat kebutuhan manusia dan memberikan pertolongan. Di sinilah terdapat dimensi universal dari kasih Kristen.
Kasih kepada sesama berarti menghargai manusia sebagai ciptaan Allah. Setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Karena itu, orang percaya dipanggil untuk menolak sikap diskriminatif, kebencian, permusuhan, dan ketidakpedulian.
2.8 Kasih sebagai Belas Kasihan yang Aktif
Salah satu kata kunci dalam perumpamaan ini adalah belas kasihan. Belas kasihan bukan sekadar rasa iba. Belas kasihan menghasilkan tindakan.
Orang Samaria melihat penderitaan dan meresponsnya. Ia tidak hanya mengatakan bahwa dirinya prihatin. Ia melakukan sesuatu. Hal ini memberikan pemahaman penting bahwa kasih Kristen adalah kasih yang aktif.
Dalam kehidupan sehari-hari, belas kasihan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk. Menolong orang yang mengalami kesulitan, mendengarkan orang yang sedang mengalami persoalan, membantu mereka yang kekurangan, membela orang yang diperlakukan tidak adil, mengampuni, mengunjungi orang sakit, dan memberikan perhatian kepada mereka yang terpinggirkan merupakan bentuk nyata dari kasih.
Dengan demikian, kasih bukan hanya konsep teologis, tetapi gaya hidup.
2.9 Kasih yang Melampaui Batas
Perumpamaan orang Samaria menunjukkan bahwa kasih Allah melampaui batas-batas manusia. Manusia sering membuat batas berdasarkan suku, agama, status sosial, pendidikan, ekonomi, bahkan kepentingan pribadi. Namun, Yesus mengajarkan kasih yang tidak dibatasi oleh kategori-kategori tersebut. Orang Samaria menjadi teladan karena ia menolong orang yang secara sosial tidak memiliki kedekatan dengannya. Ia tidak membiarkan konflik kelompok menjadi alasan untuk tidak menolong.
Dalam konteks gereja, hal ini berarti gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang menghadirkan kasih Allah bagi semua orang. Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat berkumpul bagi mereka yang memiliki latar belakang yang sama, tetapi harus menjadi komunitas yang hadir bagi mereka yang membutuhkan.
2.10 Kasih dan Pengorbanan
Kasih yang ditunjukkan orang Samaria memiliki unsur pengorbanan. Ia mengorbankan waktu, tenaga, harta, dan kenyamanannya. Ia bahkan mengambil risiko dengan mendekati orang yang terluka.
Hal ini mengingatkan bahwa kasih sejati tidak selalu mudah. Mengasihi orang lain terkadang menuntut pengorbanan. Ada kalanya kita harus mengorbankan waktu untuk menolong, mengeluarkan biaya untuk membantu, memberikan perhatian, atau mengesampingkan kepentingan pribadi.
Dalam terang iman Kristen, pengorbanan merupakan bagian penting dari kasih. Kasih tidak diukur hanya berdasarkan apa yang kita rasakan, tetapi juga berdasarkan apa yang bersedia kita berikan bagi kebaikan orang lain.
2.11 Dimensi Teologis: Kasih sebagai Panggilan Hidup
Secara teologis, Lukas 10:25–37 memperlihatkan bahwa kasih merupakan panggilan hidup bagi setiap orang percaya. Kehidupan kekal yang ditanyakan oleh ahli Taurat tidak dapat dipisahkan dari kehidupan yang taat kepada Allah.
Yesus menghubungkan kasih kepada Allah dengan kasih kepada sesama. Dengan demikian, kehidupan iman memiliki dimensi vertikal dan horizontal. Dimensi vertikal adalah hubungan manusia dengan Allah, sedangkan dimensi horizontal adalah hubungan manusia dengan sesamanya.
Keduanya tidak boleh dipisahkan. Hubungan yang benar dengan Allah harus menghasilkan hubungan yang benar dengan manusia. Sebaliknya, tindakan kasih kepada sesama menjadi salah satu bentuk nyata dari ketaatan kepada Allah.
III. IMPLEMENTASI TEOLOGIS KASIH KEPADA ALLAH DAN SESAMA MANUSIA
3.1 Kasih sebagai Identitas Orang Kristen
Berdasarkan Lukas 10:25–37, kasih seharusnya menjadi identitas kehidupan orang Kristen. Orang percaya tidak hanya dikenal karena pengakuan imannya, tetapi juga karena bagaimana ia memperlakukan orang lain.
Kasih harus tampak dalam keluarga, gereja, lingkungan masyarakat, tempat kerja, sekolah, dan berbagai ruang kehidupan. Seorang Kristen dipanggil untuk menjadi pribadi yang menghadirkan damai, kepedulian, pengampunan, dan pertolongan.
Kasih tidak boleh hanya menjadi tema khotbah atau pembahasan teologis. Kasih harus menjadi gaya hidup.
3.2 Mengasihi Allah dengan Seluruh Kehidupan
Mengasihi Allah berarti memberikan seluruh kehidupan kepada-Nya. Hati, pikiran, kehendak, tenaga, waktu, dan harta dipergunakan untuk melakukan kehendak Allah.
Kasih kepada Allah juga berarti membangun kehidupan yang taat. Doa, ibadah, membaca firman Tuhan, pelayanan, dan kehidupan persekutuan merupakan bagian penting dari hubungan dengan Allah. Namun, semuanya harus menghasilkan kehidupan yang nyata dalam kasih kepada sesama.
Dengan demikian, ibadah kepada Allah tidak boleh dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ibadah yang benar menghasilkan kepedulian terhadap manusia.
3.3 Mengasihi Sesama tanpa Memandang Perbedaan
Perumpamaan orang Samaria mengajarkan agar orang percaya tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk tidak mengasihi. Dalam masyarakat yang beragam, orang Kristen dipanggil untuk membangun kehidupan yang saling menghormati.
Perbedaan suku, budaya, ekonomi, pendidikan, pandangan, maupun latar belakang tidak boleh menjadi penghalang bagi tindakan kasih. Setiap manusia harus dipandang sebagai sesama yang memiliki martabat.
Kasih Kristen bukan berarti menyetujui segala sesuatu yang dilakukan orang lain, tetapi berarti tetap memperlakukan manusia dengan kasih, penghormatan, dan belas kasihan.
3.4 Gereja sebagai Komunitas yang Menjadi “Orang Samaria”
Gereja dipanggil untuk menjadi komunitas yang hadir bagi mereka yang terluka. Gereja tidak boleh hanya berfokus pada kegiatan internal, tetapi juga harus memiliki perhatian terhadap kebutuhan masyarakat.
Pelayanan sosial, kepedulian kepada orang miskin, pendampingan bagi mereka yang mengalami kesulitan, pelayanan kepada orang sakit, perhatian kepada kelompok yang terpinggirkan, serta tindakan perdamaian merupakan bentuk konkret gereja menjadi “sesama” bagi dunia.
Gereja harus memperlihatkan bahwa Injil bukan hanya berita yang disampaikan melalui perkataan, tetapi juga kasih yang diwujudkan melalui perbuatan.
3.5 Kasih dalam Kehidupan Keluarga
Penerapan kasih dimulai dari lingkungan yang paling dekat, yaitu keluarga. Mengasihi keluarga berarti belajar mendengarkan, menghargai, mengampuni, menolong, dan menerima satu sama lain.
Orang tua dipanggil untuk menunjukkan kasih kepada anak-anak, demikian juga anak-anak kepada orang tua. Suami dan istri dipanggil untuk saling menghormati dan melayani. Dalam keluarga, kasih harus menjadi dasar hubungan, bukan egoisme dan kepentingan pribadi.
Jika seseorang tidak belajar mengasihi dalam lingkungan terdekatnya, akan sulit baginya untuk menunjukkan kasih kepada masyarakat yang lebih luas.
3.6 Kasih dalam Kehidupan Bermasyarakat
Dalam kehidupan masyarakat, ajaran Yesus menantang orang percaya untuk tidak bersikap individualistis. Ketika melihat seseorang mengalami kesulitan, orang percaya dipanggil untuk bertanya: “Apa yang dapat saya lakukan?”
Pertanyaan tersebut merupakan perubahan penting dari “Apakah dia sesamaku?” menjadi “Bagaimana saya dapat menjadi sesama bagi dia?”
Sikap ini dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap tetangga, membantu mereka yang membutuhkan, menjaga lingkungan, membangun perdamaian, menolak kekerasan, serta memperjuangkan keadilan dan kehidupan yang bermartabat.
3.7 Tantangan dalam Mewujudkan Kasih
Walaupun kasih merupakan ajaran utama, pelaksanaannya tidak selalu mudah. Ada berbagai hambatan seperti egoisme, prasangka, kebencian, rasa takut, kesibukan, kepentingan pribadi, dan kecenderungan untuk hanya peduli kepada kelompok sendiri.
Kisah orang Samaria menunjukkan bahwa kasih membutuhkan keberanian untuk keluar dari kenyamanan. Imam dan orang Lewi melihat orang yang terluka tetapi memilih untuk lewat. Orang Samaria melihat penderitaan yang sama, tetapi memilih untuk berhenti.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa masalah utama bukan selalu kemampuan untuk melihat penderitaan, tetapi kemauan untuk meresponsnya.
Karena itu, orang percaya perlu membentuk hati yang peka terhadap kebutuhan orang lain. Kasih membutuhkan latihan terus-menerus dalam kehidupan sehari-hari.
3.8 Relevansi bagi Kehidupan Orang Percaya Masa Kini
Lukas 10:25–37 tetap relevan dalam konteks kehidupan modern. Kemajuan teknologi dan komunikasi membuat manusia semakin terhubung, tetapi tidak selalu membuat manusia semakin peduli. Seseorang dapat melihat penderitaan orang lain melalui media sosial, tetapi tetap memilih untuk tidak melakukan apa-apa.
Perumpamaan orang Samaria mengingatkan bahwa kasih membutuhkan tindakan nyata. Orang percaya tidak dipanggil hanya untuk mengetahui bahwa orang lain sedang menderita, tetapi juga untuk memberikan respons yang sesuai dengan kemampuan.
Di tengah masyarakat yang sering diwarnai konflik, perpecahan, dan sikap saling membenci, gereja dan orang Kristen dipanggil untuk menjadi pembawa kasih dan perdamaian.
3.9 Kasih kepada Allah dan Sesama sebagai Satu Kesatuan
Inti teologis Lukas 10:25–37 adalah bahwa kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama merupakan satu kesatuan. Keduanya tidak dapat dipisahkan.
Kasih kepada Allah memberikan dasar bagi kasih kepada sesama. Allah adalah sumber kasih dan manusia dipanggil untuk mencerminkan kasih tersebut. Sementara itu, kasih kepada sesama menjadi salah satu wujud konkret dari ketaatan kepada Allah.
Dengan demikian, iman Kristen tidak hanya bersifat vertikal maupun hanya horizontal. Iman Kristen mencakup hubungan dengan Allah dan hubungan dengan manusia.
Orang yang mengasihi Allah dipanggil untuk mengasihi manusia yang diciptakan Allah. Dan kasih kepada manusia harus menjadi kesaksian nyata mengenai kasih Allah di tengah dunia.
3.10 Kesimpulan
Lukas 10:25–37 memberikan pengajaran yang sangat mendalam mengenai kasih kepada Allah dan sesama manusia. Perikop ini dimulai dengan pertanyaan mengenai hidup kekal dan berakhir dengan perintah Yesus: “Pergilah, dan perbuatlah demikian.”
Ahli Taurat mengetahui hukum Allah, tetapi Yesus menunjukkan bahwa pengetahuan saja tidak cukup. Kasih harus diwujudkan dalam tindakan. Perumpamaan orang Samaria yang baik hati memperlihatkan bahwa sesama bukan hanya orang yang memiliki hubungan dekat, kesamaan suku, agama, atau kelompok dengan kita. Sesama adalah orang yang membutuhkan kasih dan pertolongan, dan orang percaya dipanggil untuk menjadi sesama bagi orang tersebut.
Orang Samaria menjadi teladan karena ia melihat, tergerak oleh belas kasihan, mendekat, menolong, berkorban, dan bertanggung jawab. Sebaliknya, imam dan orang Lewi menunjukkan bahwa seseorang dapat memiliki pengetahuan agama tetapi gagal mewujudkan kasih dalam kehidupan nyata.
Secara teologis, kasih kepada Allah dan sesama merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Mengasihi Allah berarti hidup dalam ketaatan kepada-Nya, sedangkan salah satu wujud utama ketaatan tersebut adalah mengasihi sesama manusia. Kasih kepada sesama tidak dibatasi oleh perbedaan identitas, status sosial, kepentingan, atau kelompok.
Oleh sebab itu, pesan utama Lukas 10:25–37 bagi orang percaya masa kini adalah panggilan untuk menjadikan kasih sebagai gaya hidup. Kasih bukan sekadar perasaan, perkataan, atau pengetahuan tentang ajaran agama, melainkan tindakan nyata yang menghadirkan pertolongan, belas kasihan, pengampunan, keadilan, dan perdamaian.
Dengan demikian, tema “Kasih kepada Allah dan Sesama Manusia” menemukan maknanya dalam satu kehidupan yang utuh: mengasihi Allah dengan seluruh keberadaan dan menyatakan kasih tersebut melalui tindakan nyata kepada sesama. Perintah Yesus, “Pergilah, dan perbuatlah demikian,” menjadi panggilan bagi setiap orang percaya untuk menghadirkan kasih Allah di tengah kehidupan manusia.
DAFTAR PUSTAKA SINGKAT
Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.
Bock, Darrell L. Luke 9:51–24:53. Grand Rapids: Baker Academic.
Green, Joel B. The Gospel of Luke. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company.
Marshall, I. Howard. The Gospel of Luke: A Commentary on the Greek Text. Grand Rapids: William B. Eerdmans Publishing Company.
Nolland, John. Luke 9:21–18:34. Word Biblical Commentary. Dallas: Word Books.
Wright, N. T. Luke for Everyone. London: Society for Promoting Christian Knowledge.
Tags :
BPPPWG MENARA KRISTEN
KOMITMEN DALAM MELAYANI
PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
- ORA ET LABORA
- : Pdt Hendra C Manullang
- : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
- : crisvinh@gmail.com
- : menarakristen@gmail.com
