KHOTBAH; Kisah Para Rasul 1 : 1 - 11 ( Yesus Naik ke Surga dan Akan Datang Kembali )
Yesus Naik ke Surga dan Akan Datang Kembali
Kajian Teologis Biblis dan Dogmatis atas Kisah Para
Rasul 1 : 1 - 11
BAB I - PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Peristiwa kenaikan Yesus Kristus ke surga merupakan
salah satu artikulasi iman Kristen yang fundamental, namun dalam praktik
teologi dan kehidupan gereja sering kali berada di pinggiran perhatian. Fokus
iman Kristen cenderung bertumpu pada inkarnasi (kelahiran Kristus), penebusan
melalui salib, serta kebangkitan sebagai kemenangan atas maut. Sementara itu,
kenaikan Kristus kerap dipahami hanya sebagai penutup naratif Injil atau
sekadar transisi menuju pencurahan Roh Kudus. Padahal, secara teologis, kenaikan
memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam keseluruhan ekonomi keselamatan
(historia salutis).
Dalam Kisah Para Rasul 1:1–11, penulis menghadirkan
kenaikan Yesus bukan sebagai epilog yang sederhana, melainkan sebagai titik
peralihan yang menentukan antara karya Yesus di dunia dan kelanjutan karya
tersebut melalui gereja. Narasi ini membuka dengan suatu kesadaran historis
bahwa segala sesuatu yang “diajarkan dan dilakukan Yesus” tidak berhenti pada
kebangkitan, melainkan berlanjut dalam bentuk baru melalui kuasa Roh Kudus.
Dengan demikian, kenaikan bukanlah “ketiadaan Kristus”, melainkan transformasi
cara kehadiran-Nya.
Kenaikan Kristus juga menegaskan dimensi pemuliaan
(glorifikasi) dalam Kristologi. Ia yang telah merendahkan diri dalam inkarnasi
kini ditinggikan dan dimuliakan. Dalam perspektif ini, kenaikan bukan sekadar
peristiwa vertikal (naik ke atas), tetapi merupakan simbol dan realitas
teologis dari penobatan Kristus sebagai Tuhan yang berdaulat. Hal ini berkaitan
erat dengan pengakuan gereja bahwa Kristus “duduk di sebelah kanan Allah Bapa”,
suatu ungkapan yang sarat dengan makna kekuasaan, otoritas, dan pemerintahan
ilahi.
Lebih jauh, teks Kisah Para Rasul 1:1–11 juga
memperlihatkan adanya ketegangan eksistensial dan teologis dalam diri para murid.
Mereka bertanya: “Tuhan, maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi
Israel?” Pertanyaan ini menunjukkan adanya harapan politis dan nasionalistis
yang masih melekat dalam pemahaman mereka tentang Mesias. Namun, Yesus
mengalihkan fokus mereka dari spekulasi waktu kepada tanggung jawab misi: “Kamu
akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi
saksi-Ku... sampai ke ujung bumi.” Di sini terjadi pergeseran paradigma dari
ekspektasi kerajaan yang bersifat sempit menuju visi kerajaan Allah yang
universal.
Selain dimensi misiologis, teks ini juga mengandung
dimensi pneumatologis yang sangat penting. Kenaikan Yesus berkaitan langsung
dengan janji pencurahan Roh Kudus. Tanpa kenaikan, tidak ada Pentakosta; tanpa
“pergi”-Nya Kristus, tidak ada “datang”-Nya Roh Kudus dalam kepenuhan kuasa.
Hal ini menegaskan bahwa karya keselamatan Allah bersifat trinitaris: Bapa
mengutus Anak, Anak menyelesaikan karya-Nya dan kembali kepada Bapa, dan Roh
Kudus diutus untuk melanjutkan karya tersebut dalam dan melalui gereja.
Dimensi lain yang tidak kalah penting adalah aspek
eskatologis. Pernyataan dua orang malaikat dalam Kisah Para Rasul 1:11 bahwa
Yesus “akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik
ke surga” menjadi dasar bagi doktrin Parousia (kedatangan kembali Kristus).
Pernyataan ini menempatkan gereja dalam suatu ketegangan waktu yang khas:
gereja hidup di antara “sudah” (already) dan “belum” (not yet). Kristus telah
menang, tetapi kepenuhan kemenangan itu belum sepenuhnya terwujud dalam
sejarah. Gereja hidup dalam pengharapan yang aktif, bukan pasif—menantikan
sekaligus bersaksi.
Namun, dalam realitas gereja masa kini, khususnya
dalam konteks modern dan postmodern, pemahaman terhadap kenaikan dan kedatangan
kembali Kristus menghadapi berbagai tantangan. Di satu sisi, pendekatan
rasionalistik cenderung mereduksi peristiwa kenaikan menjadi simbol mitologis
atau metafora religius belaka. Di sisi lain, terdapat kecenderungan apokaliptik
yang spekulatif, di mana doktrin kedatangan kembali Kristus dipenuhi dengan
prediksi waktu, tanda-tanda yang sensasional, dan interpretasi yang tidak
bertanggung jawab secara hermeneutis.
Akibat dari dua ekstrem ini adalah hilangnya
keseimbangan teologis dalam kehidupan gereja. Gereja bisa menjadi terlalu
“membumi” tanpa pengharapan eskatologis, atau sebaliknya terlalu “melangit”
tanpa tanggung jawab sosial dan misi di dunia. Padahal, Kisah Para Rasul 1:1–11
justru menghadirkan keseimbangan yang utuh: Yesus naik ke surga, tetapi gereja
diutus ke dunia; Kristus akan datang kembali, tetapi murid-murid dipanggil
untuk menjadi saksi di sini dan sekarang.
Dalam konteks Indonesia yang plural, dinamis, dan
penuh tantangan sosial, pemahaman yang benar tentang kenaikan dan kedatangan
kembali Kristus menjadi sangat relevan. Gereja dipanggil untuk hidup dalam
pengharapan tanpa kehilangan tanggung jawab sosial; bersaksi tanpa jatuh dalam
eksklusivisme; dan menantikan kedatangan Kristus tanpa melarikan diri dari
realitas dunia.
Oleh karena itu, diperlukan suatu kajian yang
mendalam, komprehensif, dan integratif terhadap Kisah Para Rasul 1:1–11, yang
tidak hanya berhenti pada analisis teks (biblis), tetapi juga menggali makna
teologisnya serta merumuskannya dalam kerangka dogmatis yang sistematis. Kajian
ini diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi pengembangan teologi yang
kontekstual sekaligus setia pada kesaksian Alkitab.
1.2 Rumusan
Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka
rumusan masalah dalam karya tulis ini dapat dirumuskan secara lebih mendalam
sebagai berikut:
- Bagaimana
struktur, konteks historis, dan makna eksegetis dari Kisah Para Rasul
1:1–11?
- Apa
signifikansi teologis dari peristiwa kenaikan Yesus dalam kaitannya dengan
karya keselamatan Allah secara keseluruhan?
- Bagaimana
relasi antara kenaikan Kristus, pencurahan Roh Kudus, dan mandat misi
gereja?
- Bagaimana
doktrin kedatangan kembali Kristus dipahami dalam kerangka eskatologi
Perjanjian Baru?
- Bagaimana
ajaran tentang kenaikan dan Parousia dirumuskan dalam tradisi dogmatis
gereja?
- Apa
implikasi praktis dan kontekstual dari pemahaman tersebut bagi kehidupan
gereja masa kini, khususnya di Indonesia?
1.3 Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan karya tulis ini adalah:
- Menyajikan
analisis eksegetis yang mendalam terhadap Kisah Para Rasul 1:1–11 dengan
memperhatikan aspek historis, literer, dan linguistik.
- Menggali
dan merumuskan makna teologis dari peristiwa kenaikan Yesus serta janji
kedatangan-Nya kembali.
- Mengintegrasikan
temuan biblis ke dalam kerangka teologi sistematika (dogmatika), khususnya
dalam bidang Kristologi, Pneumatologi, dan Eskatologi.
- Menawarkan
refleksi teologis yang relevan bagi gereja masa kini dalam menjalankan
panggilannya di dunia.
- Memberikan
kontribusi akademis bagi studi teologi yang bersifat integratif antara
Alkitab, tradisi, dan konteks.
1.4 Metode
Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode studi kepustakaan (library research) yang didukung oleh analisis
kritis terhadap teks Alkitab dan sumber-sumber teologis. Adapun metode yang
digunakan meliputi:
1. Metode Eksegesis Biblis
Penelitian ini akan melakukan analisis mendalam terhadap teks Kisah Para Rasul
1:1–11 dengan memperhatikan:
- Konteks
historis dan sosial
- Struktur
naratif dan retorika teks
- Analisis
leksikal dan gramatikal bahasa Yunani
- Korelasi
dengan teks-teks paralel dalam Alkitab
2. Pendekatan Teologi Biblika
Mengidentifikasi tema-tema teologis utama dalam teks dan menempatkannya dalam
keseluruhan kesaksian Alkitab, khususnya dalam kerangka Perjanjian Baru.
3. Pendekatan Teologi Sistematika (Dogmatika)
Menyusun ajaran tentang kenaikan dan kedatangan kembali Kristus secara
sistematis dengan merujuk pada tradisi gereja, pengakuan iman, dan pemikiran
teologis klasik maupun kontemporer.
4. Analisis Literatur Teologis
Menggunakan buku, jurnal, dan karya teologis sebagai sumber sekunder untuk
memperkaya perspektif dan memperdalam analisis.
1.5 Sistematika
Penulisan
Untuk memudahkan pemahaman dan menjaga alur
pemikiran yang sistematis, karya tulis ini disusun dalam lima bab sebagai
berikut:
Bab I: Pendahuluan
Berisi latar belakang, rumusan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian,
dan sistematika penulisan.
Bab II: Kajian Biblis (Eksegesis Kisah Para Rasul
1:1–11)
Menguraikan analisis teks secara mendalam, termasuk konteks historis, struktur
literer, serta kajian bahasa Yunani yang rinci.
Bab III: Kajian Teologis
Membahas tema-tema teologis utama seperti kenaikan Kristus, Roh Kudus, misi
gereja, dan eskatologi.
Bab IV: Kajian Dogmatis
Menyajikan perumusan doktrin gereja mengenai kenaikan dan kedatangan kembali
Kristus dalam kerangka teologi sistematika.
Bab V: Penutup dan Relevansi Praktis
Berisi kesimpulan serta refleksi praktis bagi kehidupan gereja masa kini,
khususnya dalam konteks Indonesia.
BAB II - KAJIAN BIBLIS (EKSEGESE KISAH PARA RASUL 1:1–11)
2.1 Pendahuluan Eksegetis
Perikop Kisah Para Rasul 1:1–11 merupakan
prolog teologis sekaligus jembatan naratif antara Injil Lukas dan kitab Kisah
Para Rasul. Penulis yang sama (Lukas) dengan sengaja membangun kesinambungan
antara karya Yesus di masa lalu dan kelanjutan karya tersebut melalui para
rasul dalam kuasa Roh Kudus.
Secara literer, teks ini dapat dibagi menjadi
empat bagian utama:
- Ayat 1–3: Prolog
dan penegasan kebangkitan
- Ayat 4–5: Janji
Roh Kudus
- Ayat 6–8: Dialog
tentang Kerajaan Allah dan mandat misi
- Ayat 9–11: Peristiwa
kenaikan dan janji Parousia
Pendekatan yang digunakan adalah analisis bahasa
Yunani (Koine) dengan memperhatikan bentuk kata, struktur
kalimat, serta nuansa teologis yang terkandung di dalamnya.
2.2 Eksegesis Ayat per Ayat
2.2.1 Kisah Para Rasul 1:1
Teks
Yunani:
Τὸν μὲν πρῶτον λόγον ἐποιησάμην περὶ πάντων, ὦ Θεόφιλε, ὧν ἤρξατο ὁ Ἰησοῦς
ποιεῖν τε καὶ διδάσκειν
Analisis:
- Τὸν μὲν πρῶτον λόγον (Ton men prōton logon)
“Tulisan yang pertama” menunjuk pada Injil Lukas. Kata λόγος di sini berarti laporan atau narasi terstruktur, bukan sekadar “kata”. - ἐποιησάμην
(epoiēsamen) – aorist middle indicative
Menunjukkan tindakan yang telah selesai di masa lalu: Lukas telah menyusun Injilnya secara sadar dan terarah. - ἤρξατο (ērxato) – aorist middle indicative dari ἄρχομαι
(memulai)
Secara teologis sangat penting: Yesus “memulai” melakukan dan mengajar → implikasinya, pekerjaan itu belum selesai, tetapi berlanjut dalam Kisah Para Rasul. - ποιεῖν τε καὶ διδάσκειν (poiein te kai didaskein)
Urutan “melakukan” sebelum “mengajar” menunjukkan bahwa tindakan Yesus mendahului pengajaran-Nya—suatu pola inkarnasional.
Makna
Teologis:
Ayat ini menegaskan bahwa Kisah Para Rasul adalah kelanjutan dari karya Kristus.
Gereja bukan memulai sesuatu yang baru, melainkan melanjutkan apa yang telah
Yesus mulai.
2.2.2 Kisah Para Rasul 1:2
Teks
Yunani:
ἄχρι ἧς ἡμέρας… ἐντειλάμενος τοῖς ἀποστόλοις διὰ Πνεύματος Ἁγίου
Analisis:
- ἐντειλάμενος (enteilamenos) – aorist middle
participle
“Setelah memberikan perintah” → menunjukkan bahwa kenaikan didahului oleh mandat. - διὰ Πνεύματος Ἁγίου (dia Pneumatos Hagiou)
“Melalui Roh Kudus” → bahkan sebelum Pentakosta, Roh Kudus sudah bekerja dalam pelayanan Yesus.
Makna
Teologis:
Ada kesinambungan pneumatologis antara pelayanan Yesus dan gereja. Roh Kudus
bukan fenomena baru, tetapi kelanjutan karya ilahi.
2.2.3 Kisah Para Rasul 1:3
Teks
Yunani:
παρέστησεν ἑαυτὸν ζῶντα… δι’ ἡμερῶν τεσσεράκοντα
Analisis:
- παρέστησεν
(parestēsen) – aorist active indicative
“Ia menunjukkan diri-Nya” → tindakan aktif Yesus membuktikan kebangkitan-Nya. - ζῶντα (zōnta) – present participle
“Hidup” → menekankan keberlanjutan hidup, bukan sekadar fakta sesaat. - τεκμηρίοις (tekmēriois)
“Bukti-bukti yang meyakinkan” → istilah kuat untuk evidensi yang tidak terbantahkan. - δι’ ἡμερῶν
τεσσεράκοντα (40 hari)
Angka simbolis (masa persiapan, seperti Musa dan Elia).
Makna
Teologis:
Kebangkitan bukan mitos, tetapi realitas historis yang diverifikasi. Ini
menjadi dasar legitimasi misi para rasul.
2.2.4 Kisah Para Rasul 1:4–5
Teks
Yunani (kunci):
παρήγγειλεν… μὴ χωρίζεσθαι ἀπὸ Ἱεροσολύμων
βαπτισθήσεσθε ἐν Πνεύματι Ἁγίῳ
Analisis:
- παρήγγειλεν (parēngeilen) – aorist active
Perintah yang bersifat otoritatif. - μὴ χωρίζεσθαι (mē
chōrizesthai) – present middle infinitive
Larangan berkelanjutan: “jangan terus-menerus meninggalkan”. - βαπτισθήσεσθε (baptisthēsesthe) – future passive
“Kamu akan dibaptis” → tindakan Allah, bukan usaha manusia. - ἐν Πνεύματι Ἁγίῳ
Baptisan Roh sebagai realitas eskatologis baru.
Makna
Teologis:
Misi tidak dapat dilakukan tanpa kuasa ilahi. Gereja harus menunggu inisiatif
Allah.
2.2.5 Kisah Para Rasul 1:6–7
Teks
Yunani:
ἀποκαθιστάνεις τὴν βασιλείαν τῷ Ἰσραήλ;
Analisis:
- ἀποκαθιστάνεις
(apokathistaneis) – present active
“Memulihkan” → ekspektasi politis-mesianis. - Jawaban Yesus:
οὐχ ὑμῶν ἐστιν γνῶναι χρόνους ἢ καιρούς
Dua istilah waktu: - χρόνος (chronos) →
waktu kronologis
- καιρός (kairos) → waktu
ilahi
Makna
Teologis:
Yesus menolak spekulasi eskatologis. Fokus iman bukan “kapan”, tetapi “apa yang
harus dilakukan”.
2.2.6 Kisah Para Rasul 1:8 (Ayat Kunci)
Teks
Yunani:
λήμψεσθε δύναμιν… καὶ ἔσεσθέ μου μάρτυρες
Analisis
utama:
- λήμψεσθε
(lēmpsesthe) – future middle
“Kamu akan menerima” → janji pasti. - δύναμιν (dynamin)
Kuasa ilahi (bukan kekuatan manusiawi). - ἐπελθόντος τοῦ Πνεύματος – aorist
participle
“Ketika Roh Kudus turun” - μάρτυρες (martyres)
“Saksi” → bukan hanya verbal, tetapi eksistensial (hingga mati). - Struktur
geografis:
Yerusalem → Yudea → Samaria → ujung bumi
→ pola ekspansi misi universal.
Makna
Teologis:
Ini adalah mandat misi gereja. Gereja didefinisikan oleh kesaksiannya, bukan
oleh institusinya.
2.2.7 Kisah Para Rasul 1:9
Teks
Yunani:
ἐπήρθη… καὶ νεφέλη ὑπέλαβεν αὐτόν
Analisis:
- ἐπήρθη (epērthē) – aorist passive
“Ia diangkat” → tindakan Allah (divine passive). - νεφέλη (nephelē) – awan
Simbol kehadiran ilahi (Shekinah). - ὑπέλαβεν (hypelaben) –
“menyambut/mengangkat”
Gambaran penerimaan ke dalam kemuliaan Allah.
Makna
Teologis:
Kenaikan adalah tindakan Allah memuliakan Kristus, bukan sekadar peristiwa
fisik.
2.2.8 Kisah Para Rasul 1:10–11
Teks
Yunani:
οὗτος ὁ Ἰησοῦς… οὕτως ἐλεύσεται
Analisis:
- οὗτος ὁ Ἰησοῦς
(houtos ho Iēsous)
Penekanan identitas: Yesus yang sama. - ἐλεύσεται (eleusetai) – future middle
“Ia akan datang kembali” → kepastian eskatologis. - ὃν τρόπον (hon
tropon)
“Dengan cara yang sama” → kesinambungan antara kenaikan dan kedatangan kembali.
Makna
Teologis:
Kenaikan dan Parousia adalah dua sisi dari satu realitas Kristologis. Kristus
yang naik adalah Kristus yang akan datang kembali.
2.3 Sintesis Teologis Eksegetis
Dari analisis di atas, dapat dirumuskan
beberapa poin utama:
- Kenaikan bukan
akhir, tetapi kelanjutan karya Kristus
- Roh Kudus adalah
penghubung antara Kristus dan gereja
- Misi adalah
respons utama gereja, bukan spekulasi eskatologis
- Kenaikan dan
kedatangan kembali membentuk kerangka eskatologis iman Kristen
BAB III - KAJIAN TEOLOGIS
3.1 Pendahuluan
Teologis
Kisah Para Rasul 1:1–11 tidak hanya menyajikan
laporan historis mengenai kenaikan Yesus, tetapi membuka horizon teologis yang
luas mengenai identitas Kristus, karya Roh Kudus, panggilan gereja, serta
orientasi eskatologis iman Kristen. Teks ini berada pada titik peralihan yang
krusial: dari Kristologi inkarnasional menuju Kristologi yang dimuliakan; dari
kehadiran Yesus secara fisik menuju kehadiran-Nya secara pneumatologis; dan
dari pengalaman murid yang terbatas menuju misi universal gereja.
Dalam kerangka teologi sistematis, perikop ini
menyentuh setidaknya empat locus utama: Kristologi, Pneumatologi,
Eklesiologi, dan Eskatologi. Namun, keempatnya tidak berdiri secara
terpisah, melainkan saling berjalin dalam suatu dinamika trinitaris yang hidup.
Oleh karena itu, kajian ini tidak hanya bersifat deskriptif, tetapi juga
reflektif dan dialogis dengan pemikiran teolog besar dalam sejarah gereja.
3.2 Teologi
Kenaikan Yesus (Kristologi yang Dimuliakan)
Kenaikan Yesus harus dipahami sebagai bagian
integral dari satu kesatuan karya keselamatan Kristus: inkarnasi, penderitaan,
kematian, kebangkitan, kenaikan, dan pemuliaan. Dalam hal ini, kenaikan bukan
sekadar “perpisahan”, melainkan penobatan.
Dalam tradisi teologi klasik, Agustinus dari Hippo
memahami kenaikan sebagai penggenapan dari gerak “turun-naik”
(descensus–ascensus) Kristus. Kristus turun dalam kerendahan (kenosis) dan naik
dalam kemuliaan (gloria). Dengan demikian, kenaikan menegaskan bahwa
kemanusiaan yang telah ditebus kini diangkat ke dalam persekutuan ilahi.
Sementara itu, John Calvin menekankan bahwa
kenaikan Kristus memiliki fungsi teologis yang sangat konkret: Kristus naik
untuk menjadi Pengantara (Mediator) dan Imam Besar yang terus
bekerja bagi umat-Nya. Ia tidak “absen”, tetapi justru hadir dalam cara yang
lebih dalam dan efektif, yaitu melalui Roh Kudus.
Dalam perspektif modern, Karl Barth melihat
kenaikan sebagai momen di mana Kristus memasuki dimensi “transendensi ilahi”
tanpa meninggalkan dunia. Dengan kata lain, kenaikan bukan perpindahan ruang
secara geografis, melainkan transformasi relasi: Kristus kini hadir secara
universal, tidak lagi terbatas oleh ruang dan waktu.
Secara teologis, hal ini mengandung implikasi
penting:
- Kristus
yang naik adalah Kristus yang memerintah
- Kenaikan
adalah dasar bagi doktrin kerajaan Allah yang sedang berlangsung
- Kemanusiaan
Yesus tidak ditinggalkan, tetapi dimuliakan
Dengan demikian, kenaikan bukan kehilangan Kristus,
melainkan peneguhan kehadiran-Nya dalam cara yang baru dan lebih dalam.
3.3 Teologi Roh
Kudus (Pneumatologi Misioner)
Kenaikan Kristus dalam Kisah Para Rasul 1 tidak
dapat dipisahkan dari janji Roh Kudus. Secara teologis, terdapat hubungan
kausal: Kristus “pergi” supaya Roh Kudus “datang”. Ini bukan sekadar urutan
kronologis, tetapi dinamika trinitaris.
Dalam Injil Yohanes (bdk. Yoh. 16:7), Yesus berkata
bahwa adalah lebih baik Ia pergi, sebab jika tidak, Roh Penghibur tidak akan
datang. Ini menunjukkan bahwa kehadiran Roh Kudus bukanlah substitusi yang
lebih rendah, melainkan mode kehadiran Kristus yang lebih intens dan
universal.
Basil dari Kaisarea dalam tradisi patristik
menekankan bahwa Roh Kudus adalah pribadi ilahi yang menghadirkan Allah secara
aktual dalam kehidupan umat. Roh bukan sekadar “kuasa impersonal”, tetapi
Pribadi yang menghidupkan, menguduskan, dan mengutus.
Dalam Kisah Para Rasul 1:8, Roh Kudus dikaitkan
langsung dengan δύναμις (kuasa). Namun, kuasa ini bukan bersifat
dominatif, melainkan misioner. Kuasa Roh Kudus memampukan gereja untuk
bersaksi, bukan untuk menguasai.
Secara teologis, ini berarti:
- Roh
Kudus adalah agen kehadiran Kristus di dunia
- Gereja
tidak hidup dari dirinya sendiri, tetapi dari pemberian ilahi
- Misi
gereja adalah partisipasi dalam karya Roh, bukan proyek manusia
Dengan demikian, pneumatologi dalam Kisah Para
Rasul bersifat dinamis, misioner, dan eksistensial.
3.4 Teologi Misi
Gereja (Eklesiologi Apostolik)
Pernyataan “kamu akan menjadi saksi-Ku” (Kis. 1:8)
merupakan definisi paling mendasar tentang gereja. Gereja bukan pertama-tama
institusi, melainkan komunitas kesaksian.
Istilah Yunani μάρτυρες (martyrēs) tidak
hanya berarti “saksi” dalam arti verbal, tetapi juga dalam arti
eksistensial—bahkan sampai pada kematian (martir). Dengan demikian, kesaksian
gereja tidak hanya berupa kata-kata, tetapi juga kehidupan.
Dalam perspektif teologi misi modern, Lesslie
Newbigin menegaskan bahwa gereja ada karena misi, bukan sebaliknya. Gereja
adalah alat Allah untuk menghadirkan tanda-tanda kerajaan-Nya di dunia.
Struktur geografis dalam Kisah Para Rasul 1:8
(Yerusalem → Yudea → Samaria → ujung bumi) mencerminkan ekspansi yang melampaui
batas etnis, budaya, dan religius. Ini menunjukkan bahwa Injil bersifat inklusif
dan universal.
Implikasi teologisnya:
- Gereja
dipanggil keluar dari eksklusivisme
- Misi
adalah identitas, bukan aktivitas tambahan
- Kesaksian
gereja bersifat kontekstual, tetapi tetap setia pada Injil
Dengan demikian, gereja hidup dalam ketegangan
antara “diutus ke dunia” dan “tidak menjadi milik dunia”.
3.5 Teologi
Eskatologi (Already and Not Yet)
Dimensi eskatologis dalam Kisah Para Rasul 1:11
membuka horizon pengharapan yang menentukan arah iman Kristen. Pernyataan bahwa
Yesus “akan datang kembali” menegaskan bahwa sejarah memiliki tujuan dan arah.
Dalam teologi modern, konsep “already and not yet”
menjadi kunci untuk memahami eskatologi Perjanjian Baru. George Eldon Ladd
menjelaskan bahwa kerajaan Allah telah hadir dalam Yesus (already), tetapi
belum mencapai kepenuhannya (not yet).
Sementara itu, Jürgen Moltmann menekankan bahwa
pengharapan Kristen bersifat proleptik—masa depan Allah sudah mulai hadir dalam
masa kini, tetapi belum sepenuhnya terwujud. Oleh karena itu, iman Kristen
adalah iman yang bergerak ke depan, bukan nostalgia ke masa lalu.
Secara eksistensial, hal ini menciptakan suatu ketegangan
kreatif:
- Gereja
hidup di antara janji dan penggenapan
- Dunia
belum sempurna, tetapi sudah ditebus
- Pengharapan
bukan pelarian, tetapi motivasi untuk bertindak
Dengan demikian, eskatologi bukan sekadar doktrin
tentang akhir zaman, tetapi kerangka hidup iman.
3.6 Sintesis
Teologis
Dari keseluruhan kajian di atas, dapat dirumuskan
beberapa kesimpulan teologis utama:
- Kenaikan
Kristus adalah pemuliaan sekaligus penobatan-Nya sebagai Tuhan
- Roh
Kudus adalah kehadiran aktif Kristus yang memampukan gereja
- Gereja
adalah komunitas saksi yang diutus secara universal
- Iman
Kristen hidup dalam ketegangan eskatologis antara “sudah” dan “belum”
Keempat aspek ini membentuk suatu kesatuan teologis
yang utuh:
Kristus yang naik → mengutus Roh → membentuk gereja → menuju penggenapan
eskatologis.
BAB IV - KAJIAN DOGMATIS
4.1 Pendahuluan Dogmatis
Jika kajian biblis memberi dasar tekstual dan
kajian teologis memberi refleksi konseptual, maka kajian dogmatis bertujuan
untuk merumuskan
ajaran gereja secara normatif, sistematis, dan koheren. Dalam
konteks ini, Kisah Para Rasul 1:1–11 menjadi locus penting bagi pengembangan
doktrin tentang kenaikan Kristus (Ascensio Christi) dan kedatangan
kembali-Nya (Parousia).
Dogmatika tidak berdiri di ruang hampa; ia
selalu berkembang dalam dialog dengan Kitab Suci, tradisi gereja, dan konteks
historis. Oleh karena itu, pembahasan ini akan melibatkan perbandingan antara
tiga tradisi besar: Katolik, Reformasi (Protestan), dan Ortodoks Timur,
sekaligus mengangkat beberapa perdebatan teologis yang relevan.
4.2 Doktrin Kenaikan Kristus (Ascensio
Christi)
4.2.1 Perumusan Dogmatis
Dasar
Dalam pengakuan iman klasik seperti Symbolum
Apostolicum (Pengakuan Iman Rasuli), dinyatakan bahwa Kristus:
“naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa yang Mahakuasa.”
Rumusan ini mengandung tiga unsur utama:
- Kenaikan
(ascensio)
- Pemuliaan (glorificatio)
- Penobatan (sessio
ad dexteram Dei)
Secara dogmatis, kenaikan bukan sekadar
peristiwa historis, tetapi status ontologis baru
dari Kristus yang dimuliakan.
4.2.2 Perspektif Katolik
Dalam tradisi Gereja
Katolik, kenaikan dipahami dalam kerangka sakramental dan kosmis.
Kristus yang naik tetap hadir melalui Gereja, khususnya dalam Ekaristi.
Teologi Katolik menekankan:
- Kristus
sebagai Kepala Gereja yang dimuliakan
- Gereja sebagai tubuh
mistik Kristus
- Kenaikan
sebagai awal partisipasi manusia dalam kehidupan ilahi (theosis dalam arti
luas)
Dimensi ontologis sangat ditekankan:
kemanusiaan Kristus masuk ke dalam kemuliaan Allah, membuka jalan bagi
keselamatan manusia.
4.2.3 Perspektif Reformasi
Dalam tradisi Gereja
Protestan, khususnya melalui pemikiran John
Calvin, kenaikan memiliki fungsi kristologis dan soteriologis yang
sangat spesifik:
- Kristus
naik untuk menjadi Imam Besar yang bersyafaat
- Ia memerintah
sebagai Raja atas gereja dan dunia
- Kehadiran
Kristus tidak lagi bersifat lokal, tetapi spiritual
melalui Roh Kudus
Calvin menolak pemahaman bahwa tubuh Kristus
hadir secara fisik di mana-mana (menolak ubiquitas tubuh Kristus dalam arti
tertentu), dan menekankan bahwa kenaikan berarti Kristus benar-benar berada di
“surga” sebagai realitas eskatologis.
4.2.4 Perspektif Ortodoks Timur
Dalam tradisi Gereja
Ortodoks Timur, kenaikan dipahami dalam kerangka theosis
(pengilahian):
- Kemanusiaan
Kristus diangkat ke dalam kemuliaan ilahi
- Manusia
dipanggil untuk berpartisipasi dalam kehidupan Allah
- Kenaikan
adalah kemenangan atas keterbatasan ciptaan
Berbeda dari pendekatan Barat yang lebih
yuridis, Ortodoks menekankan dimensi mistik dan transformasional:
keselamatan adalah partisipasi dalam kehidupan Allah.
4.2.5 Sintesis Kritis
Ketiga tradisi tersebut menunjukkan penekanan
yang berbeda:
- Katolik: sakramental
dan eklesiologis
- Reformasi: kristologis
dan soteriologis
- Ortodoks: mistik
dan ontologis
Secara kritis, dapat dikatakan bahwa:
- Tradisi Barat
cenderung menekankan fungsi Kristus
- Tradisi Timur
menekankan transformasi ontologis manusia
Sintesis yang seimbang harus mengakui bahwa
kenaikan Kristus adalah:
→ peristiwa
historis, realitas ontologis, dan dasar partisipasi umat dalam keselamatan
4.3 Doktrin Roh Kudus (Pneumatologi Dogmatis)
Kenaikan Kristus tidak dapat dipisahkan dari
pengutusan Roh Kudus. Dalam dogmatika, ini berkaitan dengan perdebatan klasik
tentang Filioque
(apakah Roh Kudus berasal dari Bapa saja, atau dari Bapa dan Anak).
- Tradisi Barat
(Katolik & Protestan): Roh Kudus berasal dari Bapa dan
Anak
- Tradisi
Ortodoks: Roh Kudus berasal dari Bapa melalui Anak
Perdebatan ini bukan sekadar teknis, tetapi
menyentuh relasi intra-Trinitas.
Dalam konteks Kisah Para Rasul 1:
- Roh Kudus adalah
kelanjutan kehadiran Kristus
- Gereja
hidup dalam ekonomi Trinitaris
Secara dogmatis:
- Roh Kudus adalah
Pribadi ilahi yang setara
- Ia
mengaktualkan karya keselamatan dalam sejarah
4.4 Doktrin Gereja (Eklesiologi Dogmatis)
Kisah Para Rasul 1:8 memberikan dasar bagi
doktrin gereja sebagai communio sanctorum
(persekutuan orang percaya) sekaligus missio Dei (alat misi
Allah).
Secara dogmatis:
- Gereja bersifat apostolik
(diutus)
- Gereja
bersifat katolik (universal)
- Gereja bersifat pneumatis
(hidup oleh Roh)
Perdebatan muncul dalam:
- Apakah gereja
terutama institusi (Katolik)?
- Atau persekutuan
iman (Reformasi)?
- Atau realitas
mistik (Ortodoks)?
Jawaban yang lebih utuh:
→ Gereja adalah realitas historis sekaligus spiritual,
terlihat sekaligus tak terlihat.
4.5 Doktrin Kedatangan Kembali Kristus
(Eskatologi Dogmatis)
4.5.1 Perumusan Dasar
Pengakuan iman menyatakan:
“Dari sana Ia akan datang untuk menghakimi orang hidup dan mati.”
Ini mencakup:
- Parousia
(kedatangan kembali)
- Penghakiman
terakhir
- Penggenapan
kerajaan Allah
4.5.2 Perdebatan Eskatologis
Dalam sejarah teologi, terdapat beberapa
pandangan utama:
- Premilenialisme – Kristus datang
sebelum kerajaan 1000 tahun
- Amilenialisme – kerajaan Allah
bersifat simbolis (dominan dalam Gereja
Katolik dan Gereja Ortodoks Timur)
- Postmilenialisme – Kristus datang
setelah kemajuan Injil
Agustinus
dari Hippo berperan besar dalam membentuk pandangan amilenial:
kerajaan Allah sudah hadir secara rohani.
4.5.3 Pendekatan Modern
Rudolf
Bultmann mencoba “demitologisasi” eskatologi, melihatnya sebagai
simbol eksistensial.
Sebaliknya, Jürgen Moltmann menegaskan
realitas masa depan Allah sebagai kekuatan transformasi sejarah.
4.5.4 Sintesis Dogmatis
Secara sistematis, doktrin Parousia harus
memegang tiga hal:
- Kepastian (certainty) – Kristus pasti
datang kembali
- Ketidaktahuan waktu (unknowability) – manusia tidak
tahu kapan
- Tujuan etis
(ethical telos) – mendorong hidup kudus dan misioner
4.6 Implikasi Dogmatis
Dari seluruh pembahasan, dapat dirumuskan
implikasi dogmatis sebagai berikut:
- Kristus yang naik
adalah Kristus yang memerintah
- Roh Kudus adalah
kehadiran aktif Allah dalam gereja
- Gereja adalah komunitas misioner dalam sejarah
- Eskatologi memberi arah dan makna bagi kehidupan iman
Dogma bukan sekadar teori, tetapi kerangka
hidup iman gereja.
4.7 Kesimpulan Dogmatis
Kenaikan dan kedatangan kembali Kristus bukan
dua doktrin terpisah, melainkan satu kesatuan:
- Kenaikan
→ menegaskan otoritas Kristus
- Roh Kudus →
mengaktualkan kehadiran-Nya
- Gereja →
melanjutkan misi-Nya
- Parousia →
menggenapi karya-Nya
Dengan demikian, iman Kristen berdiri dalam
satu garis besar:
dari
Kristus yang datang → Kristus yang naik → Kristus yang hadir → Kristus yang
akan datang kembali.
BAB V - PENUTUP DAN RELEVANSI PRAKTIS: SUARA PROFETIS
BAGI GEREJA DI INDONESIA
5.1 Pendahuluan Profetis
Jika Kisah Para Rasul 1:1–11 hanya berhenti
sebagai doktrin, maka gereja akan menjadi museum teologi. Namun jika teks ini
dibaca sebagai panggilan ilahi, maka gereja dipaksa untuk
bertanya: Apakah
kita benar-benar hidup sebagai saksi dari Kristus yang naik dan akan datang
kembali?
Masalahnya, gereja sering kali lebih sibuk mengelola
institusi daripada menghadirkan Kerajaan Allah. Kenaikan
Kristus diakui dalam liturgi, tetapi tidak selalu tercermin dalam etos hidup
umat. Kedatangan Kristus dinantikan dalam pengakuan iman, tetapi sering
kehilangan daya etis dan profetisnya.
Di sinilah diperlukan suara yang tidak hanya
menafsirkan, tetapi juga menegur.
5.2 Kritik Teologis terhadap Gereja di
Indonesia
5.2.1 Gereja yang
Kehilangan Dimensi Eskatologis
Banyak gereja hidup seolah-olah Kristus tidak
akan datang kembali. Fokus pelayanan tereduksi pada:
- pembangunan gedung
- stabilitas
organisasi
- keberlangsungan
program
Tanpa eskatologi, gereja menjadi terlalu
nyaman dengan dunia. Ia kehilangan keberanian untuk bersuara,
karena terlalu terikat pada kepentingan jangka pendek.
Padahal, iman akan kedatangan Kristus
seharusnya menghasilkan:
- keberanian melawan
ketidakadilan
- kesadaran
bahwa semua kuasa dunia bersifat sementara
- orientasi
hidup yang melampaui materi
Gereja yang tidak hidup dalam pengharapan
eskatologis akan mudah berkompromi dengan kekuasaan.
5.2.2 Gereja yang Kehilangan Spirit Misi
Mandat “kamu akan menjadi saksi-Ku” sering
kali direduksi menjadi aktivitas internal gereja. Misi dipahami sebagai
program, bukan identitas.
Akibatnya:
- gereja menjadi
eksklusif
- kesaksian
kehilangan daya transformasi
- Injil tidak lagi
menjangkau realitas sosial
Pemikiran Gustavo
Gutiérrez mengingatkan bahwa gereja harus berpihak kepada yang
tertindas. Tanpa keberpihakan, kesaksian menjadi kosong.
Gereja tidak dipanggil untuk sekadar
“bertumbuh”, tetapi untuk menjadi tanda kehadiran Allah di tengah
penderitaan manusia.
5.2.3 Gereja yang Terjebak dalam Kekuasaan dan
Materialisme
Fenomena yang tidak dapat diabaikan adalah
kecenderungan sebagian gereja untuk:
- mengejar kekuatan
finansial
- membangun citra
megah
- mengukur
keberhasilan dengan angka
Dalam konteks ini, gereja berisiko
mengkhianati Kristus yang naik—yang justru memerintah bukan dengan dominasi,
tetapi dengan pengorbanan.
Jacques
Ellul pernah mengkritik bahwa gereja sering terjebak dalam
sistem dunia yang seharusnya ia kritik.
Jika gereja menjadi bagian dari logika
kapitalisme yang eksploitatif, maka ia kehilangan suara kenabiannya.
5.2.4 Gereja yang Diam terhadap Ketidakadilan Sosial
Dalam konteks Indonesia:
- kemiskinan
struktural masih nyata
- korupsi
merusak tatanan sosial
- intoleransi dan
diskriminasi masih terjadi
Namun, gereja sering memilih diam atau
bersikap netral. Padahal, netralitas dalam situasi ketidakadilan adalah bentuk keberpihakan
kepada penindas.
Dietrich
Bonhoeffer menegaskan bahwa gereja tidak hanya berkewajiban
membantu korban, tetapi juga menghentikan roda kejahatan itu sendiri.
Gereja yang tidak bersuara adalah gereja yang
kehilangan panggilannya.
5.3 Relevansi Etis dan Praktis
5.3.1 Hidup sebagai Saksi
(Martyria Eksistensial)
Menjadi saksi bukan hanya berbicara tentang
Kristus, tetapi:
- hidup
dalam kebenaran
- menunjukkan
kasih dalam tindakan
- berani menderita
demi iman
Kesaksian gereja harus terlihat dalam:
- integritas
- solidaritas sosial
- keberanian
moral
5.3.2 Gereja sebagai Komunitas Alternatif
Gereja dipanggil untuk menjadi tanda
Kerajaan Allah di tengah dunia:
- melawan budaya
korupsi dengan kejujuran
- melawan
kekerasan dengan kasih
- melawan
diskriminasi dengan inklusivitas
Dengan demikian, gereja bukan sekadar bagian
dari masyarakat, tetapi alternatif bagi masyarakat.
5.3.3 Pengharapan Eskatologis sebagai Energi
Transformasi
Pengharapan akan kedatangan Kristus bukan
pelarian dari dunia, tetapi justru:
- memberi keberanian
untuk bertindak
- memberi makna
dalam penderitaan
- memberi arah dalam
sejarah
Seperti ditegaskan Jürgen Moltmann, pengharapan Kristen adalah
kekuatan yang mengubah masa kini.
5.3.4 Spiritualitas yang Terarah pada Dunia
Kenaikan Kristus tidak memanggil gereja untuk
“melihat ke langit” terus-menerus (bdk. Kis. 1:11), tetapi untuk kembali ke
dunia dengan tugas.
Spiritualitas Kristen yang sejati adalah:
- kontemplatif
sekaligus aktif
- berakar dalam doa,
tetapi bergerak dalam aksi
- setia kepada
Allah, sekaligus peduli pada manusia
5.4 Refleksi Kontekstual Indonesia
Dalam konteks Indonesia yang plural dan
kompleks, gereja dipanggil untuk:
- Menjadi agen
perdamaian
di tengah konflik identitas
- Membangun keadilan
sosial
di tengah ketimpangan
- Menghidupi toleransi tanpa kehilangan
identitas iman
- Memberi suara bagi
yang tidak bersuara
Gereja tidak boleh menarik diri dari ruang
publik, tetapi harus hadir sebagai garam dan terang.
5.5 Kesimpulan Akhir
Yesus telah naik ke surga—itu berarti Ia
adalah Tuhan.
Yesus akan datang kembali—itu berarti sejarah akan dihakimi.
Pertanyaannya:
Di
manakah gereja berdiri di antara dua peristiwa itu?
Apakah gereja:
- menjadi saksi yang
setia, atau sekadar institusi religius?
- menjadi
suara kebenaran, atau bagian dari sistem dunia?
- hidup dalam
pengharapan, atau tenggelam dalam kenyamanan?
Kisah Para Rasul 1:1–11 tidak memberi ruang
untuk iman yang pasif.
Ia menuntut gereja untuk bergerak, bersaksi, dan berani.
Sebab pada akhirnya, iman Kristen bukan hanya
tentang apa yang kita percayai, tetapi tentang bagaimana kita hidup
di hadapan Kristus yang naik dan akan datang kembali.
Tags : BAHAN KHOTBAH
BPPPWG MENARA KRISTEN
KOMITMEN DALAM MELAYANI
PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
- ORA ET LABORA
- : Pdt Hendra C Manullang
- : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
- : crisvinh@gmail.com
- : menarakristen@gmail.com
Post a Comment
Note: only a member of this blog may post a comment.