MAZMUR 25 : 15 - 22 ( MATAKU TETAP TERARAH KEPADA TUHAN )
MATAKU
TETAP TERARAH KEPADA TUHAN
Kajian Historis, Biblis,
Teologis, dan Etis Berdasarkan Mazmur 25:15–22
I. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kitab Mazmur merupakan salah satu kitab yang sangat penting dalam kehidupan iman umat Allah karena di dalamnya terdapat berbagai macam ungkapan manusia ketika berhadapan dengan Allah. Mazmur tidak hanya berisi nyanyian pujian kepada Tuhan ketika manusia mengalami sukacita, tetapi juga berisi ratapan, tangisan, pengakuan dosa, permohonan pertolongan, ketakutan, pergumulan, serta pengharapan. Oleh sebab itu, kitab Mazmur memberikan gambaran yang sangat realistis mengenai kehidupan iman. Iman tidak selalu digambarkan sebagai kehidupan yang bebas dari persoalan, melainkan sebagai kehidupan yang tetap mencari dan mengandalkan Allah di tengah berbagai persoalan.
Mazmur 25 merupakan salah satu mazmur yang
memperlihatkan hubungan erat antara pergumulan manusia dan kepercayaan kepada
Tuhan. Mazmur ini secara tradisional dikaitkan dengan Daud. Isinya merupakan
doa seseorang yang sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan, tetapi pada
saat yang sama tetap mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Pemazmur memohon agar
Tuhan menunjukkan jalan-Nya, mengajarkan kebenaran-Nya, mengampuni
dosa-dosanya, melindungi dirinya dari musuh, dan membebaskannya dari kesesakan.
Mazmur 25:15–22 secara khusus merupakan bagian yang
memperlihatkan kedalaman pergumulan pemazmur. Dalam bagian ini pemazmur
berbicara tentang jaring, kesendirian, kesengsaraan, kesesakan hati, dosa,
musuh, rasa malu, perlindungan, integritas, dan keselamatan Israel. Semua unsur
tersebut menunjukkan bahwa pemazmur sedang menghadapi keadaan yang tidak mudah.
Namun, di tengah situasi tersebut muncul sebuah
pernyataan iman yang sangat kuat dalam Mazmur 25:15:
“Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia
mengeluarkan kakiku dari jaring.”
Pernyataan ini menjadi pusat perhatian dalam kajian
ini. Pemazmur tidak mengatakan bahwa hidupnya tidak memiliki masalah.
Sebaliknya, ia sedang berada dalam keadaan yang sulit. Ia merasa terancam,
kesepian, tertindas, dan membutuhkan pertolongan. Akan tetapi, di tengah semua
keadaan tersebut, ia tetap memilih untuk mengarahkan matanya kepada Tuhan.
Ungkapan “mataku tetap terarah kepada Tuhan”
memiliki makna yang sangat mendalam. Mata dalam bahasa simbolis Alkitab bukan
hanya organ untuk melihat, tetapi dapat menggambarkan perhatian, arah,
keinginan, harapan, dan orientasi hidup. Apa yang seseorang pandang dan kepada
siapa ia mengarahkan matanya dapat menunjukkan apa yang menjadi pusat
kehidupannya.
Ketika pemazmur mengatakan bahwa matanya tetap
terarah kepada Tuhan, ia sedang menyatakan bahwa Tuhan merupakan pusat
perhatian dan pengharapannya. Pemazmur tidak membiarkan penderitaan menjadi
pusat kehidupannya. Ia tidak membiarkan musuh menjadi satu-satunya hal yang
memenuhi pikirannya. Ia juga tidak membiarkan dosa dan kegagalan masa lalu
menentukan seluruh masa depannya. Ia membawa semuanya kepada Tuhan.
Hal ini sangat relevan bagi kehidupan manusia masa
kini. Manusia hidup dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Berbagai
persoalan dapat muncul dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan,
pendidikan, ekonomi, masyarakat, maupun kehidupan bergereja. Tekanan hidup
dapat membuat seseorang kehilangan arah dan pengharapan.
Tidak jarang manusia lebih mudah memusatkan
perhatian kepada masalah daripada kepada Tuhan. Ketika mengalami kegagalan,
seseorang dapat terus memikirkan kegagalannya. Ketika menghadapi konflik,
seseorang dapat terus memikirkan orang yang menyakitinya. Ketika menghadapi
persoalan ekonomi, seseorang dapat terus dikuasai kecemasan. Ketika merasa
bersalah, seseorang dapat terus terjebak dalam masa lalu. Ketika menghadapi
masa depan, seseorang dapat dikuasai ketakutan.
Mazmur 25 memberikan perspektif yang berbeda.
Pemazmur mengakui semua persoalan tersebut, tetapi ia tidak menjadikannya
sebagai pusat terakhir kehidupan. Ia tetap mengarahkan matanya kepada Tuhan.
Dengan demikian, tema “Mataku Tetap Terarah kepada
Tuhan” bukanlah tema yang berbicara tentang kehidupan tanpa masalah.
Sebaliknya, tema ini berbicara tentang sikap iman di tengah masalah. Seseorang
dapat berada dalam kesesakan tetapi tetap memiliki pengharapan. Seseorang dapat
merasa sendiri tetapi tetap percaya bahwa Tuhan memperhatikannya. Seseorang
dapat menyadari kesalahannya tetapi tetap datang kepada Tuhan untuk memohon
pengampunan. Seseorang dapat menghadapi musuh tetapi tidak kehilangan keyakinan
bahwa Tuhan adalah tempat perlindungannya.
Mazmur 25 juga memperlihatkan bahwa kehidupan iman
memiliki dimensi moral dan etis. Pada ayat 21 pemazmur berkata bahwa ketulusan
dan kejujuran menjadi sesuatu yang diharapkannya. Hal ini menunjukkan bahwa
ketika seseorang berada dalam tekanan, ia tetap dipanggil untuk hidup dalam
integritas.
Tekanan hidup sering kali membuat manusia tergoda
mengambil jalan yang salah. Seseorang dapat tergoda berbohong demi
menyelamatkan diri, membalas kejahatan dengan kejahatan, melakukan manipulasi,
atau mengorbankan prinsip moral demi kepentingan pribadi. Pemazmur justru
menunjukkan bahwa pengharapan kepada Tuhan harus berjalan bersama kehidupan
yang tulus dan jujur.
Dengan demikian, mengarahkan mata kepada Tuhan
tidak hanya berarti berdoa agar Tuhan menolong. Mengarahkan mata kepada Tuhan
berarti mengarahkan seluruh kehidupan kepada kehendak-Nya. Jika Tuhan menjadi
pusat kehidupan, maka cara seseorang berbicara, berpikir, mengambil keputusan,
memperlakukan orang lain, menghadapi musuh, mengakui kesalahan, dan menghadapi
penderitaan juga harus mencerminkan iman kepada Tuhan.
Selain pendekatan teologis dan etis, Mazmur 25 juga
menarik untuk dikaji dari perspektif historis dan tekstual. Mazmur ini
merupakan mazmur akrostik, yaitu sebuah puisi yang pada dasarnya mengikuti
urutan huruf alfabet Ibrani. Struktur seperti ini merupakan salah satu ciri
sastra puisi Ibrani. Namun, struktur akrostik Mazmur 25 tidak sepenuhnya sempurna.
Terdapat beberapa persoalan mengenai urutan huruf dan kemungkinan variasi dalam
proses transmisi teks.
Hal ini penting untuk dikaji karena pembaca masa
kini menerima Mazmur melalui tradisi teks yang telah mengalami sejarah panjang
penyalinan. Dengan memperhatikan teks Ibrani, pembaca dapat melihat bahwa ada
beberapa persoalan yang tidak selalu terlihat dalam terjemahan. Kritik teks
tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan kewibawaan Alkitab, tetapi untuk memahami
dengan lebih teliti bagaimana teks tersebut diwariskan dan bagaimana
bagian-bagian tertentu perlu ditafsirkan.
Oleh karena itu, kajian terhadap Mazmur 25:15–22
perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan historis, biblis,
teologis, dan etis. Pendekatan historis membantu memahami dunia kehidupan
pemazmur dan tradisi yang melatarbelakangi mazmur. Pendekatan biblis membantu
memahami isi, struktur, dan kata-kata penting dalam teks. Pendekatan teologis
membantu memahami siapa Allah dan bagaimana relasi manusia dengan-Nya
digambarkan. Pendekatan etis membantu melihat bagaimana iman pemazmur
menghasilkan sikap hidup yang benar.
Melalui kajian tersebut, tema “Mataku Tetap Terarah
kepada Tuhan” dapat dipahami bukan sekadar sebagai sebuah ungkapan puitis,
tetapi sebagai sebuah pernyataan iman. Pemazmur mengajarkan bahwa ketika
kehidupan penuh dengan ketidakpastian, manusia harus memiliki pusat yang tetap.
Pusat itu adalah Tuhan.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan
masalah dalam tulisan ini adalah:
- Bagaimana
latar belakang historis Mazmur 25:15–22?
- Bagaimana
struktur dan konteks biblis Mazmur 25:15–22?
- Apa
makna ungkapan “Mataku tetap terarah kepada Tuhan” dalam Mazmur 25:15?
- Bagaimana
teks menggambarkan pergumulan pemazmur dengan kesesakan, dosa, musuh, dan
kesendirian?
- Apa
makna teologis Mazmur 25:15–22 mengenai Tuhan sebagai pembebas, pelindung,
pengampun, dan sumber pengharapan?
- Apa
nilai-nilai etis yang dapat ditemukan dalam Mazmur 25:15–22?
- Bagaimana
kritik terhadap teks asli Ibrani dapat membantu memperdalam pemahaman terhadap
Mazmur 25?
- Bagaimana
relevansi Mazmur 25:15–22 bagi kehidupan umat percaya pada masa kini?
1.3 Tujuan Penulisan
Tulisan ini bertujuan:
- Menjelaskan
latar belakang historis Mazmur 25.
- Menganalisis
Mazmur 25:15–22 secara biblis.
- Menjelaskan
makna teologis dari sikap pemazmur yang tetap mengarahkan matanya kepada
Tuhan.
- Mengidentifikasi
nilai-nilai etis yang terkandung dalam teks.
- Memberikan
kritik terhadap salah satu aspek teks asli Ibrani Mazmur 25.
- Menjelaskan
relevansi teks bagi kehidupan pribadi, keluarga, gereja, dan masyarakat.
- Menunjukkan
bahwa iman kepada Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi tetap
mengarahkan hidup kepada Tuhan di tengah masalah.
II. KAJIAN HISTORIS DAN BIBLIS MAZMUR
25:15–22
2.1 Latar Belakang Historis Kitab
Mazmur
Kitab Mazmur merupakan kumpulan puisi dan doa yang
terbentuk melalui proses yang panjang dalam kehidupan umat Israel.
Mazmur-mazmur digunakan dalam kehidupan ibadah, doa pribadi, perayaan, dan
kehidupan komunitas.
Karena merupakan kumpulan yang berasal dari
berbagai situasi kehidupan, kitab Mazmur tidak memiliki satu konteks sejarah
tunggal. Ada mazmur yang berkaitan dengan kerajaan, ibadah di Bait Allah,
pengalaman pribadi, konflik, pertobatan, penderitaan, dan ucapan syukur.
Keanekaragaman tersebut menunjukkan bahwa iman
Israel tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tuhan tidak hanya dibicarakan
dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam persoalan keluarga, peperangan, penyakit,
musuh, dosa, ketakutan, dan kematian.
Mazmur 25 termasuk salah satu doa pribadi yang
kemudian memiliki fungsi bagi komunitas. Pemazmur membawa persoalan pribadi
kepada Tuhan, tetapi pada akhirnya doa tersebut diperluas menjadi doa bagi
Israel.
2.2 Judul “Dari Daud”
Mazmur 25 memiliki judul yang dalam tradisi Ibrani
dikaitkan dengan Daud. Hubungan dengan Daud memberikan mazmur tersebut nuansa
seorang raja atau seorang yang mengalami berbagai tekanan dan ancaman.
Daud dalam tradisi Alkitab dikenal bukan hanya
sebagai raja, tetapi juga sebagai tokoh yang mengalami berbagai pergumulan. Ia
mengalami ancaman dari musuh, konflik internal, rasa bersalah, pengkhianatan,
dan persoalan dalam kehidupan keluarganya.
Namun, secara historis-kritis, hubungan antara
mazmur dan Daud harus diperlakukan secara hati-hati. Keterangan “dari Daud”
tidak secara otomatis membuktikan bahwa Daud sendiri menuliskan bentuk final
mazmur tersebut.
Tradisi Daud dapat berarti bahwa mazmur tersebut
dikaitkan dengan Daud, berasal dari tradisi yang berhubungan dengan Daud, atau
digunakan dalam konteks yang berhubungan dengan tokoh Daud.
Oleh sebab itu, kita tidak dapat memastikan dengan
tepat peristiwa sejarah apa yang menjadi latar Mazmur 25:15–22. Yang lebih
penting adalah mengamati situasi yang muncul dari teks itu sendiri.
2.3 Situasi Pemazmur dalam Mazmur
25
Teks memperlihatkan bahwa pemazmur sedang berada
dalam keadaan sulit. Beberapa istilah yang muncul adalah “jaring,”
“kesengsaraan,” “kesesakan,” “kesukaran,” “dosa,” “musuh,” “kebencian,” dan
“rasa malu.”
Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan
pemazmur bersifat kompleks.
Ia tidak hanya menghadapi satu masalah.
Pertama, ia menghadapi persoalan spiritual berupa
dosa dan kebutuhan akan pengampunan.
Kedua, ia mengalami persoalan emosional berupa
kesepian dan kesusahan hati.
Ketiga, ia menghadapi persoalan sosial berupa musuh
yang banyak dan membencinya.
Keempat, ia membutuhkan keselamatan dan
perlindungan.
Dengan demikian, Mazmur 25:15–22 merupakan doa
seseorang yang kehidupannya sedang berada dalam tekanan dari berbagai arah.
2.4 Mazmur sebagai Doa di Tengah
Pergumulan
Mazmur 25 memperlihatkan bahwa doa tidak harus
menunggu sampai keadaan menjadi baik.
Pemazmur justru berdoa ketika keadaan sedang buruk.
Hal ini penting karena dalam kehidupan iman sering
muncul pemahaman bahwa seseorang harus kuat terlebih dahulu baru datang kepada
Tuhan. Mazmur menunjukkan kebalikannya. Manusia datang kepada Tuhan justru karena
dirinya lemah.
Pemazmur tidak menyembunyikan keadaan hatinya.
Ia berkata bahwa kesusahan hatinya bertambah.
Ia mengakui bahwa dirinya tertindas.
Ia mengakui dosa.
Ia mengakui adanya musuh.
Semua itu dibawa ke hadapan Tuhan.
2.5 Struktur Mazmur 25
Mazmur 25 secara keseluruhan dapat dibagi menjadi
beberapa bagian pemikiran.
Bagian awal merupakan permohonan dan pengakuan
bahwa Tuhan adalah tempat pengharapan.
Bagian berikutnya berisi permintaan agar Tuhan
menunjukkan jalan dan mengajarkan kebenaran.
Kemudian pemazmur berbicara mengenai kasih setia
Tuhan dan memohon pengampunan.
Mazmur 25:15–22 menjadi bagian yang semakin
personal. Pemazmur mengungkapkan kesesakan, kesendirian, dosa, musuh, dan
permohonan pembebasan.
Menariknya, mazmur berakhir dengan doa bagi seluruh
Israel.
Dengan demikian, terdapat gerakan:
Tuhan → aku → pergumulan → pertolongan → komunitas.
Gerakan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman
pribadi pemazmur dengan Tuhan pada akhirnya mengarah kepada kepedulian terhadap
umat.
2.6 Struktur Akrostik
Mazmur 25 merupakan puisi akrostik alfabetis.
Secara umum, ayat-ayatnya mengikuti urutan alfabet Ibrani.
Dalam sastra Ibrani, akrostik dapat berfungsi
sebagai alat untuk membantu mengingat teks, memberikan struktur, dan
menunjukkan kelengkapan.
Penggunaan alfabet dari awal hingga akhir dapat
memberikan kesan bahwa pemazmur membawa seluruh aspek kehidupannya kepada
Tuhan.
Namun, struktur tersebut tidak sepenuhnya sempurna.
Hal ini penting karena pembaca tidak boleh
memaksakan pola alfabetis seolah-olah setiap ayat harus secara sempurna
mengikuti urutan yang sama.
2.7 Kritik terhadap Teks Asli
Mazmur 25
Salah satu poin penting dalam kajian teks asli
adalah adanya persoalan pada struktur akrostik Mazmur 25.
Dalam teks Masoretik, urutan alfabet tidak selalu
tampak sempurna. Beberapa huruf tampak tidak memiliki pasangan yang jelas,
sementara terdapat bagian yang menunjukkan kemungkinan adanya masalah transmisi
atau variasi tradisi.
Hal tersebut menimbulkan pertanyaan apakah bentuk
teks yang kita miliki sekarang sama persis dengan bentuk awalnya.
Namun, kritik teks harus dilakukan secara
hati-hati. Ketidaksempurnaan akrostik tidak otomatis berarti teks tersebut
telah rusak secara keseluruhan. Penyair dapat menggunakan kebebasan artistik,
dan penyalin juga dapat melakukan perubahan kecil tanpa mengubah pesan utama.
Hal yang lebih penting adalah bahwa kritik teks
membantu pembaca menyadari adanya sejarah dalam proses pewarisan teks.
Dalam konteks Mazmur 25, persoalan tersebut justru
memperlihatkan bahwa pesan teologis tidak harus bergantung pada kesempurnaan
mekanis struktur sastra.
Pesan utama tetap dapat ditemukan dengan jelas:
pemazmur mengarahkan dirinya kepada Tuhan, mengakui dosa, memohon perlindungan,
dan berharap pada keselamatan Tuhan.
2.8 Mazmur 25:15 dan Kata
“Mataku”
Ungkapan “mataku” dalam ayat 15 menggunakan
gambaran visual untuk menyatakan orientasi batin.
Mata bukan sekadar alat melihat. Dalam bahasa
puitis Alkitab, mata dapat berhubungan dengan perhatian, keinginan, dan arah
hidup.
Karena itu, ketika pemazmur mengatakan bahwa
matanya terarah kepada Tuhan, maksudnya lebih dalam daripada sekadar “melihat
Tuhan.”
Ia menyatakan bahwa Tuhan adalah pusat
perhatiannya.
Dalam situasi sulit, pusat perhatian manusia sangat
menentukan sikapnya.
Jika seseorang hanya memandang masalah, masalah
dapat menjadi semakin besar dalam pikirannya.
Jika seseorang hanya memandang musuh, kebencian
dapat menguasai dirinya.
Jika seseorang hanya memandang masa lalu, rasa
bersalah dapat menghancurkan pengharapan.
Pemazmur memilih untuk memandang Tuhan.
2.9 “Tetap Terarah” kepada Tuhan
Kata “tetap” sangat penting dalam tema ini.
Mengarahkan mata kepada Tuhan sekali saja bukanlah
persoalan yang sulit.
Yang sulit adalah tetap mengarahkan mata kepada
Tuhan.
Ketika masalah belum selesai, apakah iman tetap
ada?
Ketika doa belum terjawab, apakah pengharapan masih
ada?
Ketika orang lain menyakiti kita, apakah kita masih
percaya kepada Tuhan?
Ketika kesalahan masa lalu terus menghantui, apakah
kita masih percaya pada pengampunan Tuhan?
Mazmur 25 memberikan gambaran bahwa iman bukan
hanya keputusan sesaat, tetapi orientasi yang terus dipertahankan.
2.10 “Jaring” sebagai Gambaran
Ancaman
Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan mengeluarkan
kakinya dari jaring.
Jaring merupakan gambaran yang kuat tentang
jebakan.
Orang yang terjebak dalam jaring tidak dapat
bergerak bebas.
Dalam konteks kehidupan, jaring dapat melambangkan
keadaan yang mengikat manusia.
Jaring dapat berupa dosa, ketakutan, konflik,
tekanan, kebiasaan buruk, fitnah, atau ancaman.
Pemazmur percaya bahwa Tuhan dapat membebaskannya
dari jaring tersebut.
2.11 Mazmur 25:16 dan Kesendirian
Pemazmur berkata bahwa ia sendirian dan tertindas.
Kesendirian merupakan salah satu pengalaman manusia
yang paling berat.
Seseorang dapat berada di tengah banyak orang
tetapi tetap merasa sendirian.
Kesendirian dapat muncul ketika seseorang merasa
tidak dipahami, ditolak, kehilangan orang yang dikasihi, atau tidak memiliki
tempat untuk mencurahkan isi hati.
Pemazmur membawa pengalaman tersebut kepada Tuhan.
Ia meminta Tuhan berpaling kepadanya.
Ini menunjukkan bahwa Allah dipahami sebagai
Pribadi yang memperhatikan manusia secara pribadi.
2.12 Tuhan yang “Berpaling”
kepada Manusia
Pemazmur memohon agar Tuhan berpaling kepadanya.
Ungkapan tersebut memiliki nuansa relasional.
Pemazmur tidak hanya membutuhkan sesuatu dari
Tuhan.
Ia membutuhkan kehadiran Tuhan.
Ini penting secara teologis.
Sering kali manusia berdoa hanya untuk meminta
sesuatu: kesehatan, pekerjaan, keberhasilan, keselamatan, atau jalan keluar.
Mazmur 25 mengajarkan bahwa kebutuhan terdalam
manusia adalah kehadiran Tuhan.
Pertolongan terbesar bukan hanya perubahan keadaan,
tetapi keyakinan bahwa Tuhan hadir.
2.13 Mazmur 25:17 dan Kesusahan
Hati
“Kesusahan hatiku bertambah-tambah.”
Ungkapan ini memperlihatkan kedalaman tekanan batin
pemazmur.
Ia tidak menggunakan bahasa yang dangkal.
Ia mengakui bahwa penderitaannya semakin berat.
Ini memberikan legitimasi teologis terhadap
ratapan.
Ratapan bukan tanda kurang iman.
Ratapan dapat menjadi bentuk iman karena orang yang
meratap tetap berbicara kepada Tuhan.
Orang yang tidak percaya mungkin memilih untuk diam
atau meninggalkan Tuhan.
Pemazmur justru mengeluh kepada Tuhan karena ia
masih percaya bahwa Tuhan mendengar.
2.14 Mazmur 25:18 dan Pengakuan
Dosa
Pemazmur meminta Tuhan melihat sengsara dan
kesukarannya serta mengampuni segala dosanya.
Bagian ini sangat penting karena menunjukkan
hubungan antara penderitaan dan pertobatan.
Namun, tidak tepat jika ayat ini ditafsirkan
sebagai pernyataan bahwa setiap penderitaan pasti merupakan akibat dari dosa
tertentu.
Alkitab sendiri mengenal penderitaan yang tidak
dapat dijelaskan secara sederhana sebagai hukuman pribadi.
Yang terlihat dalam teks adalah bahwa pemazmur
menggunakan penderitaannya sebagai kesempatan untuk memeriksa dirinya sendiri.
Ia tidak hanya menyalahkan musuh.
Ia juga bertanya mengenai dirinya di hadapan Tuhan.
Ini merupakan sikap pertobatan yang sehat.
2.15 Pengampunan sebagai Karya
Allah
Pemazmur meminta Tuhan mengampuni segala dosanya.
Ini menunjukkan bahwa pengampunan merupakan bagian
penting dari relasi dengan Allah.
Dosa bukan sekadar kesalahan moral, tetapi juga
masalah relasional. Dosa merusak hubungan manusia dengan Tuhan.
Karena itu, pemulihan tidak hanya membutuhkan
perubahan keadaan, tetapi juga pemulihan hubungan dengan Allah.
Pemazmur memahami bahwa Tuhan adalah sumber
pengampunan.
2.16 Mazmur 25:19 dan Ancaman
Musuh
Pemazmur memohon agar Tuhan melihat musuh-musuhnya
yang banyak.
Kata “banyak” memperlihatkan bahwa ancaman tersebut
terasa besar.
Ketika seseorang merasa dikelilingi oleh musuh, ia
dapat mengalami ketakutan dan kehilangan rasa aman.
Pemazmur tidak menyembunyikan hal itu.
Namun, ia tidak membangun keselamatan dengan
kekuatan balas dendam.
Ia menyerahkan persoalan tersebut kepada Tuhan.
2.17 Mazmur 25:20 dan
Perlindungan Jiwa
Pemazmur meminta agar Tuhan menjaga jiwanya dan
melepaskannya.
Dalam konteks Ibrani, “jiwa” tidak hanya menunjuk
pada aspek spiritual manusia secara terpisah dari tubuh. Kata tersebut dapat
menunjuk pada kehidupan atau keberadaan seseorang secara keseluruhan.
Dengan demikian, permohonan pemazmur adalah
permohonan agar Tuhan menjaga hidupnya.
Ia menginginkan keselamatan secara utuh.
2.18 Berlindung kepada Tuhan
Pemazmur menyatakan bahwa ia berlindung kepada
Tuhan.
Gambaran perlindungan merupakan tema yang sering
ditemukan dalam kitab Mazmur.
Tuhan digambarkan sebagai tempat aman ketika
manusia menghadapi bahaya.
Namun, perlindungan Tuhan bukan berarti kehidupan tanpa
risiko.
Justru dalam risiko, pemazmur memilih untuk
berlindung kepada Tuhan.
2.19 Mazmur 25:21 dan Ketulusan
Ayat 21 menyatakan bahwa ketulusan dan kejujuran
menjadi sesuatu yang diharapkan pemazmur.
Ini adalah bagian penting dalam kajian etis.
Ketika menghadapi tekanan, pemazmur tidak meminta
agar ia diberi kemampuan untuk membalas musuh.
Ia justru ingin tetap berada dalam ketulusan dan
kejujuran.
Ini menunjukkan bahwa iman kepada Tuhan memiliki
konsekuensi moral.
2.20 Mazmur 25:22 dan Peralihan
kepada Israel
Pada ayat terakhir, pemazmur berdoa agar Allah
membebaskan Israel dari segala kesesakannya.
Perubahan dari “aku” menjadi “Israel” menunjukkan
adanya kesadaran komunitas.
Pemazmur tidak berhenti pada keselamatan pribadi.
Ia membawa seluruh umat kepada Tuhan.
Ini merupakan salah satu ciri penting spiritualitas
Israel: hubungan pribadi dengan Tuhan tidak menghilangkan tanggung jawab
terhadap komunitas.
III. KAJIAN TEOLOGIS, ETIS, DAN
RELEVANSI MAZMUR 25:15–22
3.1 Allah sebagai Pusat Kehidupan
Tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan”
pertama-tama berbicara tentang Allah sebagai pusat kehidupan.
Manusia selalu memiliki sesuatu yang menjadi pusat
perhatiannya.
Ada orang yang menjadikan uang sebagai pusat
kehidupan. Ada yang menjadikan pekerjaan. Ada yang menjadikan keluarga. Ada
yang menjadikan keberhasilan. Ada pula yang menjadikan masalah sebagai pusat
kehidupannya.
Mazmur 25 mengajarkan bahwa pusat kehidupan yang
benar adalah Tuhan.
Ketika Tuhan menjadi pusat, manusia belajar melihat
segala sesuatu dalam hubungan dengan-Nya.
3.2 Allah sebagai Pembebas
Pemazmur percaya bahwa Tuhan dapat mengeluarkan
kakinya dari jaring.
Dengan demikian, Tuhan dipahami sebagai pembebas.
Allah bukan hanya Allah yang menciptakan dan
memelihara, tetapi juga Allah yang membebaskan.
Pembebasan dalam teks tidak hanya berarti bebas
dari musuh, tetapi juga bebas dari kesesakan, rasa bersalah, ketakutan, dan
berbagai keadaan yang mengikat.
Bagi umat percaya, hal ini menjadi dasar
pengharapan.
3.3 Allah sebagai Pelindung
Tuhan menjadi tempat pemazmur berlindung.
Secara teologis, perlindungan Tuhan menunjukkan
relasi kepercayaan.
Pemazmur menyadari bahwa kekuatan dirinya sendiri
tidak cukup.
Ia membutuhkan Tuhan.
Hal ini mengajarkan kerendahan hati.
Manusia tidak diciptakan untuk hidup seolah-olah
tidak membutuhkan Allah.
3.4 Allah sebagai Pengampun
Pemazmur menyadari dosanya dan meminta pengampunan.
Hal ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya pelindung
dari bahaya eksternal, tetapi juga penyembuh relasi yang rusak akibat dosa.
Pengampunan menjadi dasar bagi kehidupan baru.
Orang yang telah menerima pengampunan tidak
seharusnya terus hidup dalam pola dosa yang sama.
3.5 Allah yang Dekat dengan Orang
yang Kesepian
Pemazmur berkata bahwa dirinya sendirian dan
tertindas.
Dalam keadaan tersebut, Tuhan menjadi tempat ia
berpaling.
Ini memperlihatkan karakter Allah yang dekat dengan
manusia.
Allah bukan hanya Allah yang besar dan berkuasa,
tetapi juga Allah yang memperhatikan orang yang sedang lemah.
Pemahaman ini sangat penting bagi pelayanan
pastoral gereja.
Gereja harus memperhatikan orang yang merasa
sendirian.
3.6 Iman Tidak Menghilangkan
Realitas Penderitaan
Salah satu pelajaran penting dari Mazmur 25 adalah
bahwa iman tidak menghilangkan realitas penderitaan.
Pemazmur tetap mengalami kesengsaraan.
Ia tetap mengalami kesesakan.
Ia tetap memiliki musuh.
Namun, ia tidak kehilangan arah.
Di sinilah letak kekuatan imannya.
Iman bukan kemampuan untuk berkata bahwa tidak ada
masalah.
Iman adalah kemampuan untuk berkata bahwa masalah
bukan Tuhan.
3.7 Pengharapan di Tengah
Kesulitan
Pengharapan pemazmur tidak didasarkan pada
kepastian bahwa semua masalah segera selesai.
Pengharapannya didasarkan pada karakter Tuhan.
Ia percaya bahwa Tuhan setia.
Ia percaya bahwa Tuhan mendengar.
Ia percaya bahwa Tuhan mengampuni.
Ia percaya bahwa Tuhan melindungi.
Karena itu, ia tetap mengarahkan matanya kepada
Tuhan.
3.8 Integritas sebagai Bentuk
Iman
Ayat 21 menghubungkan iman dengan integritas.
Ini sangat penting.
Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya
kepada Tuhan tetapi hidup dalam ketidakjujuran secara terus-menerus.
Iman harus membentuk karakter.
Ketika berada dalam tekanan, seseorang harus tetap
jujur.
Ketika menghadapi musuh, seseorang tidak boleh
menggunakan segala cara.
Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, seseorang
tidak boleh menghalalkan penipuan.
Ketika menghadapi konflik, seseorang harus tetap
menjaga perkataan.
Dengan demikian, “mata yang terarah kepada Tuhan”
menghasilkan kehidupan yang terarah kepada kebenaran.
3.9 Ketulusan dalam Kehidupan
Ketulusan berarti tidak hidup dengan kepura-puraan.
Pemazmur ingin hidup dengan hati yang benar di
hadapan Tuhan.
Ini menjadi tantangan bagi kehidupan modern yang
sering menekankan citra.
Manusia dapat membangun citra di depan orang lain,
tetapi Tuhan melihat hati.
Karena itu, kehidupan yang terarah kepada Tuhan
harus dibangun di atas ketulusan, bukan sekadar penampilan.
3.10 Menghadapi Musuh Tanpa
Kehilangan Iman
Pemazmur memiliki musuh.
Namun, ia tidak membiarkan kebencian musuh
menentukan arah hidupnya.
Ia menyerahkan persoalan kepada Tuhan.
Ini tidak berarti orang percaya harus membiarkan
ketidakadilan.
Sebaliknya, orang percaya tetap dapat mencari
keadilan, perlindungan, dan penyelesaian yang benar.
Tetapi semua itu dilakukan tanpa menjadikan
kebencian sebagai pusat kehidupan.
3.11 Mengarahkan Mata kepada
Tuhan dalam Keluarga
Keluarga merupakan tempat pertama untuk menerapkan
tema ini.
Keluarga dapat mengalami berbagai persoalan.
Ada konflik antara suami dan istri.
Ada masalah antara orang tua dan anak.
Ada persoalan ekonomi.
Ada perbedaan karakter.
Ada luka masa lalu.
Dalam situasi tersebut, keluarga dipanggil untuk
tetap mengarahkan hidup kepada Tuhan.
Artinya, keputusan keluarga tidak hanya didasarkan
pada emosi atau kepentingan pribadi, tetapi juga pada nilai-nilai iman.
3.12 Mengarahkan Mata kepada
Tuhan dalam Pekerjaan
Dunia kerja juga dapat menjadi tempat ujian iman.
Seseorang dapat menghadapi persaingan, tekanan,
ketidakadilan, kegagalan, atau perlakuan yang tidak menyenangkan.
Dalam keadaan seperti itu, integritas menjadi
penting.
Orang percaya dipanggil untuk bekerja dengan jujur
meskipun orang lain tidak jujur.
Ia dipanggil untuk tetap bertanggung jawab meskipun
tidak selalu mendapatkan penghargaan.
Ia dipanggil untuk tidak mengorbankan prinsip hanya
demi keuntungan.
Dengan demikian, mata yang terarah kepada Tuhan
memengaruhi etika kerja.
3.13 Mengarahkan Mata kepada
Tuhan dalam Pendidikan
Bagi pelajar dan mahasiswa, tekanan akademik dapat
menjadi “jaring” yang membuat seseorang merasa terperangkap.
Kegagalan dalam ujian, tuntutan akademik,
persaingan, dan kekhawatiran terhadap masa depan dapat menyebabkan tekanan.
Mazmur 25 mengajarkan bahwa keberhasilan akademik
tidak boleh menjadi pusat identitas.
Nilai dan prestasi penting, tetapi tidak menentukan
seluruh nilai diri manusia.
Manusia tetap memiliki martabat di hadapan Tuhan.
3.14 Mengarahkan Mata kepada
Tuhan dalam Pelayanan Gereja
Pelayanan gereja juga dapat menjadi tempat
pergumulan.
Seorang pelayan dapat mengalami kritik, konflik,
kelelahan, kekecewaan, atau kurangnya penghargaan.
Dalam situasi seperti itu, seseorang dapat
kehilangan motivasi.
Mazmur 25 mengingatkan bahwa pelayanan tidak boleh
terutama diarahkan kepada manusia.
Mata harus tetap kepada Tuhan.
Jika seseorang melayani hanya demi penghargaan
manusia, ia mudah kecewa.
Jika ia melayani karena Tuhan, ia dapat belajar
bertahan bahkan ketika tidak mendapatkan penghargaan.
3.15 Gereja sebagai Tempat bagi
Orang yang Tertekan
Mazmur 25 memberikan dasar pastoral bahwa gereja
harus menjadi tempat yang aman bagi orang yang sedang mengalami pergumulan.
Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat bagi orang
yang terlihat kuat.
Gereja juga harus menerima orang yang sedang
menangis, takut, bingung, jatuh, dan membutuhkan pengampunan.
Jika pemazmur dapat membawa kesesakannya kepada
Tuhan, gereja juga harus menciptakan ruang di mana umat dapat membawa
pergumulannya tanpa takut dihakimi.
3.16 Doa sebagai Cara Mengarahkan
Mata kepada Tuhan
Doa merupakan salah satu cara utama untuk menjaga
mata tetap terarah kepada Tuhan.
Ketika seseorang berdoa, ia mengakui bahwa hidupnya
tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya sendiri.
Doa mengajarkan ketergantungan.
Namun, doa bukan sekadar meminta.
Dalam Mazmur 25, doa juga merupakan pengakuan dosa,
pencarian kehendak Tuhan, dan pengungkapan pergumulan.
Karena itu, kehidupan doa yang sehat mencakup
permohonan, pengakuan, ucapan syukur, ratapan, dan penyerahan diri.
3.17 Mengingat Kesetiaan Tuhan
Seseorang dapat tetap mengarahkan matanya kepada
Tuhan karena mengingat siapa Tuhan.
Jika manusia hanya mengandalkan perasaannya, iman
mudah berubah.
Tetapi ketika manusia mengingat kesetiaan Tuhan, ia
memiliki dasar yang lebih kuat.
Karena itu, umat percaya perlu mengingat
pertolongan Tuhan dalam kehidupannya.
Kesaksian tentang pertolongan Tuhan dapat menjadi
sumber kekuatan ketika menghadapi persoalan baru.
3.18 Pengampunan dan Pemulihan
Mazmur 25 mengajarkan bahwa ketika manusia jatuh,
ia dapat kembali kepada Tuhan.
Pengampunan bukan berarti menganggap dosa tidak
penting.
Sebaliknya, pengampunan dimulai dengan pengakuan
bahwa dosa memang salah.
Setelah mengakui dosa, manusia dapat memohon
pengampunan dan mengalami pemulihan.
Secara etis, orang yang menerima pengampunan juga
dipanggil untuk belajar mengampuni orang lain.
3.19 Dari “Aku” kepada “Kita”
Perubahan dari doa pribadi kepada doa bagi Israel
merupakan pelajaran penting.
Iman tidak boleh menjadi egoistis.
Seseorang tidak boleh hanya berdoa:
“Tuhan, selamatkan saya.”
Ia juga harus belajar berkata:
“Tuhan, selamatkan keluarga saya.”
“Tuhan, tolong gereja saya.”
“Tuhan, tolong orang yang sedang menderita.”
“Tuhan, berikan damai bagi bangsa kami.”
Dengan demikian, pengalaman pribadi dengan Tuhan
menghasilkan kepedulian sosial.
3.20 Mengarahkan Mata kepada
Tuhan dan Kepedulian terhadap Sesama
Mengarahkan mata kepada Tuhan tidak berarti menutup
mata terhadap manusia.
Justru sebaliknya.
Ketika seseorang melihat Tuhan sebagai Allah yang
penuh kasih dan peduli, ia dipanggil untuk menunjukkan kasih dan kepedulian
kepada sesama.
Karena itu, spiritualitas yang benar tidak boleh
membuat manusia menjadi egoistis.
Doa kepada Tuhan harus menghasilkan kasih kepada
manusia.
3.21 Tuhan sebagai Arah Hidup
Tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” pada
akhirnya berbicara tentang orientasi hidup.
Tuhan bukan hanya tempat meminta pertolongan ketika
masalah datang.
Tuhan adalah arah kehidupan sehari-hari.
Jika Tuhan menjadi arah, maka seluruh aspek
kehidupan harus disesuaikan dengan kehendak-Nya.
Cara menggunakan uang.
Cara berbicara.
Cara memperlakukan pasangan.
Cara mendidik anak.
Cara bekerja.
Cara menggunakan media sosial.
Cara menghadapi konflik.
Cara menghadapi musuh.
Cara memperlakukan orang miskin.
Semuanya menjadi bagian dari kehidupan yang terarah
kepada Tuhan.
3.22 Tantangan Spiritual di Era
Modern
Pada zaman sekarang, manusia menghadapi begitu
banyak hal yang dapat mengalihkan pandangan dari Tuhan.
Media sosial, popularitas, materialisme,
persaingan, konsumsi berlebihan, dan pencarian pengakuan dapat menjadi pusat
kehidupan.
Manusia dapat menghabiskan begitu banyak waktu
untuk melihat kehidupan orang lain sampai lupa melihat Tuhan.
Dalam konteks seperti itu, Mazmur 25 menjadi
panggilan untuk kembali menentukan arah pandangan.
Apa yang menjadi pusat perhatian kita?
Apa yang paling kita takutkan?
Apa yang paling kita kejar?
Apa yang paling menentukan kebahagiaan kita?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita
melihat kepada siapa sebenarnya mata kehidupan kita diarahkan.
3.23 Kritik terhadap Penafsiran
yang Terlalu Spiritual
Mazmur 25 juga tidak boleh ditafsirkan hanya secara
spiritual sehingga persoalan nyata manusia diabaikan.
Ketika pemazmur berbicara mengenai musuh,
kesengsaraan, dan kesesakan, ia sedang berbicara mengenai kehidupan yang nyata.
Karena itu, orang percaya tidak boleh hanya berkata
kepada seseorang yang sedang menderita, “Arahkan saja matamu kepada Tuhan,”
tanpa memberikan pertolongan nyata.
Iman harus menghasilkan kepedulian.
Jika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, gereja
perlu membantu jika mampu.
Jika seseorang mengalami kesepian, gereja perlu
hadir.
Jika seseorang mengalami ketidakadilan, gereja
perlu memperjuangkan kebenaran.
Jika seseorang mengalami kejatuhan moral, gereja
perlu menolong dalam proses pertobatan dan pemulihan.
Dengan demikian, teologi Mazmur harus menghasilkan
tindakan nyata.
3.24 Implikasi bagi Kepemimpinan
Gereja
Pemimpin gereja juga dapat belajar dari Mazmur 25.
Pemimpin tidak boleh menjadi pusat perhatian
jemaat.
Pemimpin harus mengarahkan jemaat kepada Tuhan.
Ketika gereja menghadapi krisis, pemimpin harus
membantu jemaat tetap memiliki pengharapan.
Ketika terjadi konflik, pemimpin harus mendorong
rekonsiliasi.
Ketika jemaat mengalami kesulitan, pemimpin harus
hadir.
Pemimpin yang matanya terarah kepada Tuhan akan
lebih mampu memimpin dengan kerendahan hati.
3.25 Implikasi bagi Kehidupan
Sosial
Mazmur 25 juga memiliki implikasi sosial.
Doa bagi Israel menunjukkan bahwa kehidupan iman
memiliki dimensi komunitas.
Orang percaya dipanggil untuk peduli terhadap kondisi
masyarakat.
Ketika ada ketidakadilan, orang percaya tidak boleh
diam.
Ketika ada orang tertindas, orang percaya dipanggil
untuk memperhatikan.
Ketika ada perpecahan, orang percaya dipanggil
untuk menjadi pembawa damai.
Dengan demikian, mata yang terarah kepada Tuhan
harus menghasilkan mata yang terbuka terhadap penderitaan manusia.
3.26 Pengharapan yang Berakar
pada Karakter Tuhan
Pengharapan pemazmur bukan terutama karena ia yakin
dirinya kuat.
Ia berharap karena ia mengenal Tuhan.
Ini merupakan prinsip penting dalam teologi
Kristen.
Pengharapan tidak dibangun terutama atas kemampuan
manusia mengontrol masa depan.
Pengharapan dibangun atas kesetiaan Allah.
Manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi
besok.
Tetapi manusia dapat percaya bahwa Tuhan tetap
menyertainya.
3.27 Kesimpulan
Mazmur 25:15–22 merupakan teks yang sangat kaya
untuk memahami kehidupan iman di tengah pergumulan. Pemazmur berada dalam
keadaan yang sulit. Ia menghadapi kesendirian, kesesakan, dosa, musuh, dan
ancaman terhadap kehidupannya. Namun, di tengah semua keadaan tersebut, ia
menyatakan bahwa matanya tetap terarah kepada Tuhan.
Secara historis, Mazmur 25 berada dalam tradisi doa
Israel dan secara khusus dikaitkan dengan Daud. Meskipun konteks sejarah
spesifiknya tidak dapat dipastikan secara mutlak, isi mazmur memperlihatkan
bahwa pemazmur berada dalam keadaan penuh tekanan dan membutuhkan pertolongan
Tuhan.
Secara biblis, Mazmur 25:15–22 menunjukkan gerakan
yang sangat jelas. Pemazmur melihat dirinya berada dalam “jaring,” mengalami
kesendirian, merasakan kesusahan hati, mengakui dosa, menghadapi musuh, meminta
perlindungan, dan akhirnya membawa doa bagi seluruh Israel. Dengan demikian,
teks bergerak dari pergumulan pribadi menuju kepedulian terhadap komunitas.
Secara teologis, Mazmur ini memperkenalkan Tuhan
sebagai Allah yang membebaskan, melindungi, mengampuni, mendengar,
memperhatikan, dan menjadi tempat pengharapan. Pemazmur tidak mengandalkan
kekuatannya sendiri. Ia datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati.
Secara etis, teks menekankan pentingnya ketulusan
dan kejujuran. Tekanan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan
integritas. Orang yang sungguh-sungguh mengarahkan hidupnya kepada Tuhan
dipanggil untuk tetap hidup benar sekalipun berada dalam keadaan sulit.
Kritik terhadap teks asli memperlihatkan bahwa
Mazmur 25 merupakan karya sastra akrostik yang memiliki beberapa persoalan
dalam struktur alfabetisnya. Ketidakteraturan tersebut membuka ruang bagi
kajian kritik teks dan menunjukkan bahwa teks Alkitab memiliki sejarah
transmisi. Namun, persoalan tekstual tersebut tidak menghilangkan pesan utama
mazmur. Sebaliknya, kritik teks membantu pembaca mendekati teks dengan lebih
teliti dan bertanggung jawab.
Tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan”
pada akhirnya merupakan panggilan untuk memiliki orientasi hidup yang benar.
Ketika masalah datang, mata tetap kepada Tuhan.
Ketika doa belum terjawab, mata tetap kepada Tuhan.
Ketika hati merasa sendiri, mata tetap kepada
Tuhan.
Ketika kesalahan masa lalu menghantui, mata tetap
kepada Tuhan.
Ketika musuh banyak, mata tetap kepada Tuhan.
Ketika masa depan belum jelas, mata tetap kepada
Tuhan.
Mengarahkan mata kepada Tuhan bukan berarti tidak
melihat kenyataan. Pemazmur justru melihat kenyataan dengan sangat jelas. Ia
melihat penderitaan, musuh, dosa, kesesakan, dan kesendirian. Namun, ia tidak
membiarkan semua itu menjadi pusat terakhir hidupnya.
Inilah kedalaman iman yang ditampilkan Mazmur 25.
Iman tidak berarti manusia tidak pernah takut. Iman
berarti ketakutan tidak menjadi tuan atas kehidupan.
Iman tidak berarti manusia tidak pernah jatuh. Iman
berarti ketika jatuh, manusia dapat kembali kepada Tuhan.
Iman tidak berarti manusia selalu mengetahui jalan
di depan. Iman berarti manusia tetap berjalan karena percaya kepada Tuhan yang
memegang jalan tersebut.
Iman tidak berarti masalah selalu langsung hilang.
Iman berarti manusia tetap memiliki pengharapan meskipun masalah belum selesai.
Karena itu, “mataku tetap terarah kepada Tuhan”
dapat menjadi sebuah prinsip kehidupan orang percaya. Tuhan bukan hanya tempat
manusia datang ketika membutuhkan pertolongan. Tuhan adalah pusat kehidupan,
arah perjalanan, sumber pengharapan, tempat perlindungan, dan dasar bagi
kehidupan yang benar.
Pemazmur akhirnya tidak hanya berdoa untuk dirinya
sendiri, tetapi juga untuk Israel. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan yang
terarah kepada Tuhan akan menghasilkan kepedulian terhadap sesama.
Orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan
dipanggil untuk menjadi sumber penguatan bagi orang lain.
Orang yang telah mengalami pengampunan dipanggil
untuk belajar mengampuni.
Orang yang telah mengalami perlindungan Tuhan
dipanggil untuk melindungi mereka yang lemah.
Orang yang telah menerima kasih Tuhan dipanggil
untuk menunjukkan kasih kepada sesama.
Dengan demikian, orientasi kepada Tuhan memiliki
dampak pribadi sekaligus sosial.
Pada akhirnya, Mazmur 25:15–22 mengajarkan bahwa
manusia tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan hidupnya. Ada saat ketika
manusia berada dalam “jaring” yang tidak dapat dilepaskan dengan kekuatannya
sendiri. Ada masa ketika musuh terasa terlalu banyak. Ada saat ketika kesusahan
hati bertambah-tambah. Ada keadaan ketika manusia merasa sendirian.
Tetapi di tengah semuanya itu, manusia masih
memiliki pilihan iman: ke mana ia akan mengarahkan matanya?
Pemazmur memilih Tuhan.
Pilihan tersebut menjadi inti dari seluruh
pergumulannya.
Karena itu, tema “Mataku Tetap Terarah kepada
Tuhan” bukan sekadar kalimat penghiburan, tetapi merupakan pengakuan iman
yang menuntut ketekunan. Mata harus terus diarahkan kepada Tuhan, bukan hanya
ketika Tuhan memberikan jawaban sesuai keinginan, tetapi juga ketika manusia
masih menunggu.
Di situlah pengharapan menjadi nyata.
Tuhan mungkin belum mengubah keadaan, tetapi Ia
dapat mengubah cara manusia menghadapi keadaan.
Tuhan mungkin belum menunjukkan seluruh jalan,
tetapi Ia dapat memberikan cukup terang untuk langkah berikutnya.
Tuhan mungkin belum menghilangkan seluruh
kesesakan, tetapi Ia tetap menjadi tempat perlindungan.
Dan ketika manusia tetap mengarahkan matanya kepada
Tuhan, ia belajar bahwa kehidupan tidak ditentukan hanya oleh apa yang terlihat
di depan mata, tetapi oleh siapa yang menjadi dasar pengharapannya.
Mataku tetap terarah kepada Tuhan, sebab Tuhan
adalah sumber pertolonganku, tempat perlindunganku, pengampun kesalahanku, dan
dasar pengharapanku.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta:
Lembaga Alkitab Indonesia.
Allen, Leslie C. Psalms 101–150. Word
Biblical Commentary. Dallas: Word Books.
Brueggemann, Walter. The Message of the Psalms:
A Theological Commentary. Minneapolis: Augsburg Publishing House.
Craigie, Peter C. Psalms 1–50. Word Biblical
Commentary. Waco: Word Books.
Goldingay, John. Psalms, Volume 1: Psalms 1–41.
Grand Rapids: Baker Academic.
Kraus, Hans-Joachim. Psalms 1–59: A Commentary.
Minneapolis: Augsburg Publishing House.
Mays, James L. Psalms. Interpretation: A
Bible Commentary for Teaching and Preaching. Louisville: John Knox Press.
Tate, Marvin E. Psalms 1–50. Word Biblical
Commentary. Dallas: Word Books.
Weiser, Artur. The Psalms: A Commentary.
Philadelphia: Westminster Press.
Tags :
BPPPWG MENARA KRISTEN
KOMITMEN DALAM MELAYANI
PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
- ORA ET LABORA
- : Pdt Hendra C Manullang
- : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
- : crisvinh@gmail.com
- : menarakristen@gmail.com
