-->

sosial media

Monday, 24 August 2026

MAZMUR 25 : 15 - 22 ( MATAKU TETAP TERARAH KEPADA TUHAN )

 



MATAKU TETAP TERARAH KEPADA TUHAN

Kajian Historis, Biblis, Teologis, dan Etis Berdasarkan Mazmur 25:15–22

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kitab Mazmur merupakan salah satu kitab yang sangat penting dalam kehidupan iman umat Allah karena di dalamnya terdapat berbagai macam ungkapan manusia ketika berhadapan dengan Allah. Mazmur tidak hanya berisi nyanyian pujian kepada Tuhan ketika manusia mengalami sukacita, tetapi juga berisi ratapan, tangisan, pengakuan dosa, permohonan pertolongan, ketakutan, pergumulan, serta pengharapan. Oleh sebab itu, kitab Mazmur memberikan gambaran yang sangat realistis mengenai kehidupan iman. Iman tidak selalu digambarkan sebagai kehidupan yang bebas dari persoalan, melainkan sebagai kehidupan yang tetap mencari dan mengandalkan Allah di tengah berbagai persoalan.

Mazmur 25 merupakan salah satu mazmur yang memperlihatkan hubungan erat antara pergumulan manusia dan kepercayaan kepada Tuhan. Mazmur ini secara tradisional dikaitkan dengan Daud. Isinya merupakan doa seseorang yang sedang menghadapi berbagai persoalan kehidupan, tetapi pada saat yang sama tetap mengarahkan hidupnya kepada Tuhan. Pemazmur memohon agar Tuhan menunjukkan jalan-Nya, mengajarkan kebenaran-Nya, mengampuni dosa-dosanya, melindungi dirinya dari musuh, dan membebaskannya dari kesesakan.

Mazmur 25:15–22 secara khusus merupakan bagian yang memperlihatkan kedalaman pergumulan pemazmur. Dalam bagian ini pemazmur berbicara tentang jaring, kesendirian, kesengsaraan, kesesakan hati, dosa, musuh, rasa malu, perlindungan, integritas, dan keselamatan Israel. Semua unsur tersebut menunjukkan bahwa pemazmur sedang menghadapi keadaan yang tidak mudah.

Namun, di tengah situasi tersebut muncul sebuah pernyataan iman yang sangat kuat dalam Mazmur 25:15:

“Mataku tetap terarah kepada TUHAN, sebab Ia mengeluarkan kakiku dari jaring.”

Pernyataan ini menjadi pusat perhatian dalam kajian ini. Pemazmur tidak mengatakan bahwa hidupnya tidak memiliki masalah. Sebaliknya, ia sedang berada dalam keadaan yang sulit. Ia merasa terancam, kesepian, tertindas, dan membutuhkan pertolongan. Akan tetapi, di tengah semua keadaan tersebut, ia tetap memilih untuk mengarahkan matanya kepada Tuhan.

Ungkapan “mataku tetap terarah kepada Tuhan” memiliki makna yang sangat mendalam. Mata dalam bahasa simbolis Alkitab bukan hanya organ untuk melihat, tetapi dapat menggambarkan perhatian, arah, keinginan, harapan, dan orientasi hidup. Apa yang seseorang pandang dan kepada siapa ia mengarahkan matanya dapat menunjukkan apa yang menjadi pusat kehidupannya.

Ketika pemazmur mengatakan bahwa matanya tetap terarah kepada Tuhan, ia sedang menyatakan bahwa Tuhan merupakan pusat perhatian dan pengharapannya. Pemazmur tidak membiarkan penderitaan menjadi pusat kehidupannya. Ia tidak membiarkan musuh menjadi satu-satunya hal yang memenuhi pikirannya. Ia juga tidak membiarkan dosa dan kegagalan masa lalu menentukan seluruh masa depannya. Ia membawa semuanya kepada Tuhan.

Hal ini sangat relevan bagi kehidupan manusia masa kini. Manusia hidup dalam dunia yang penuh dengan ketidakpastian. Berbagai persoalan dapat muncul dalam kehidupan pribadi, keluarga, pekerjaan, pendidikan, ekonomi, masyarakat, maupun kehidupan bergereja. Tekanan hidup dapat membuat seseorang kehilangan arah dan pengharapan.

Tidak jarang manusia lebih mudah memusatkan perhatian kepada masalah daripada kepada Tuhan. Ketika mengalami kegagalan, seseorang dapat terus memikirkan kegagalannya. Ketika menghadapi konflik, seseorang dapat terus memikirkan orang yang menyakitinya. Ketika menghadapi persoalan ekonomi, seseorang dapat terus dikuasai kecemasan. Ketika merasa bersalah, seseorang dapat terus terjebak dalam masa lalu. Ketika menghadapi masa depan, seseorang dapat dikuasai ketakutan.

Mazmur 25 memberikan perspektif yang berbeda. Pemazmur mengakui semua persoalan tersebut, tetapi ia tidak menjadikannya sebagai pusat terakhir kehidupan. Ia tetap mengarahkan matanya kepada Tuhan.

Dengan demikian, tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” bukanlah tema yang berbicara tentang kehidupan tanpa masalah. Sebaliknya, tema ini berbicara tentang sikap iman di tengah masalah. Seseorang dapat berada dalam kesesakan tetapi tetap memiliki pengharapan. Seseorang dapat merasa sendiri tetapi tetap percaya bahwa Tuhan memperhatikannya. Seseorang dapat menyadari kesalahannya tetapi tetap datang kepada Tuhan untuk memohon pengampunan. Seseorang dapat menghadapi musuh tetapi tidak kehilangan keyakinan bahwa Tuhan adalah tempat perlindungannya.

Mazmur 25 juga memperlihatkan bahwa kehidupan iman memiliki dimensi moral dan etis. Pada ayat 21 pemazmur berkata bahwa ketulusan dan kejujuran menjadi sesuatu yang diharapkannya. Hal ini menunjukkan bahwa ketika seseorang berada dalam tekanan, ia tetap dipanggil untuk hidup dalam integritas.

Tekanan hidup sering kali membuat manusia tergoda mengambil jalan yang salah. Seseorang dapat tergoda berbohong demi menyelamatkan diri, membalas kejahatan dengan kejahatan, melakukan manipulasi, atau mengorbankan prinsip moral demi kepentingan pribadi. Pemazmur justru menunjukkan bahwa pengharapan kepada Tuhan harus berjalan bersama kehidupan yang tulus dan jujur.

Dengan demikian, mengarahkan mata kepada Tuhan tidak hanya berarti berdoa agar Tuhan menolong. Mengarahkan mata kepada Tuhan berarti mengarahkan seluruh kehidupan kepada kehendak-Nya. Jika Tuhan menjadi pusat kehidupan, maka cara seseorang berbicara, berpikir, mengambil keputusan, memperlakukan orang lain, menghadapi musuh, mengakui kesalahan, dan menghadapi penderitaan juga harus mencerminkan iman kepada Tuhan.

Selain pendekatan teologis dan etis, Mazmur 25 juga menarik untuk dikaji dari perspektif historis dan tekstual. Mazmur ini merupakan mazmur akrostik, yaitu sebuah puisi yang pada dasarnya mengikuti urutan huruf alfabet Ibrani. Struktur seperti ini merupakan salah satu ciri sastra puisi Ibrani. Namun, struktur akrostik Mazmur 25 tidak sepenuhnya sempurna. Terdapat beberapa persoalan mengenai urutan huruf dan kemungkinan variasi dalam proses transmisi teks.

Hal ini penting untuk dikaji karena pembaca masa kini menerima Mazmur melalui tradisi teks yang telah mengalami sejarah panjang penyalinan. Dengan memperhatikan teks Ibrani, pembaca dapat melihat bahwa ada beberapa persoalan yang tidak selalu terlihat dalam terjemahan. Kritik teks tidak dimaksudkan untuk meruntuhkan kewibawaan Alkitab, tetapi untuk memahami dengan lebih teliti bagaimana teks tersebut diwariskan dan bagaimana bagian-bagian tertentu perlu ditafsirkan.

Oleh karena itu, kajian terhadap Mazmur 25:15–22 perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pendekatan historis, biblis, teologis, dan etis. Pendekatan historis membantu memahami dunia kehidupan pemazmur dan tradisi yang melatarbelakangi mazmur. Pendekatan biblis membantu memahami isi, struktur, dan kata-kata penting dalam teks. Pendekatan teologis membantu memahami siapa Allah dan bagaimana relasi manusia dengan-Nya digambarkan. Pendekatan etis membantu melihat bagaimana iman pemazmur menghasilkan sikap hidup yang benar.

Melalui kajian tersebut, tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” dapat dipahami bukan sekadar sebagai sebuah ungkapan puitis, tetapi sebagai sebuah pernyataan iman. Pemazmur mengajarkan bahwa ketika kehidupan penuh dengan ketidakpastian, manusia harus memiliki pusat yang tetap. Pusat itu adalah Tuhan.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam tulisan ini adalah:

  1. Bagaimana latar belakang historis Mazmur 25:15–22?
  2. Bagaimana struktur dan konteks biblis Mazmur 25:15–22?
  3. Apa makna ungkapan “Mataku tetap terarah kepada Tuhan” dalam Mazmur 25:15?
  4. Bagaimana teks menggambarkan pergumulan pemazmur dengan kesesakan, dosa, musuh, dan kesendirian?
  5. Apa makna teologis Mazmur 25:15–22 mengenai Tuhan sebagai pembebas, pelindung, pengampun, dan sumber pengharapan?
  6. Apa nilai-nilai etis yang dapat ditemukan dalam Mazmur 25:15–22?
  7. Bagaimana kritik terhadap teks asli Ibrani dapat membantu memperdalam pemahaman terhadap Mazmur 25?
  8. Bagaimana relevansi Mazmur 25:15–22 bagi kehidupan umat percaya pada masa kini?

1.3 Tujuan Penulisan

Tulisan ini bertujuan:

  1. Menjelaskan latar belakang historis Mazmur 25.
  2. Menganalisis Mazmur 25:15–22 secara biblis.
  3. Menjelaskan makna teologis dari sikap pemazmur yang tetap mengarahkan matanya kepada Tuhan.
  4. Mengidentifikasi nilai-nilai etis yang terkandung dalam teks.
  5. Memberikan kritik terhadap salah satu aspek teks asli Ibrani Mazmur 25.
  6. Menjelaskan relevansi teks bagi kehidupan pribadi, keluarga, gereja, dan masyarakat.
  7. Menunjukkan bahwa iman kepada Tuhan bukan berarti hidup tanpa masalah, tetapi tetap mengarahkan hidup kepada Tuhan di tengah masalah.

II. KAJIAN HISTORIS DAN BIBLIS MAZMUR 25:15–22

2.1 Latar Belakang Historis Kitab Mazmur

Kitab Mazmur merupakan kumpulan puisi dan doa yang terbentuk melalui proses yang panjang dalam kehidupan umat Israel. Mazmur-mazmur digunakan dalam kehidupan ibadah, doa pribadi, perayaan, dan kehidupan komunitas.

Karena merupakan kumpulan yang berasal dari berbagai situasi kehidupan, kitab Mazmur tidak memiliki satu konteks sejarah tunggal. Ada mazmur yang berkaitan dengan kerajaan, ibadah di Bait Allah, pengalaman pribadi, konflik, pertobatan, penderitaan, dan ucapan syukur.

Keanekaragaman tersebut menunjukkan bahwa iman Israel tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari. Tuhan tidak hanya dibicarakan dalam ruang ibadah, tetapi juga dalam persoalan keluarga, peperangan, penyakit, musuh, dosa, ketakutan, dan kematian.

Mazmur 25 termasuk salah satu doa pribadi yang kemudian memiliki fungsi bagi komunitas. Pemazmur membawa persoalan pribadi kepada Tuhan, tetapi pada akhirnya doa tersebut diperluas menjadi doa bagi Israel.

2.2 Judul “Dari Daud”

Mazmur 25 memiliki judul yang dalam tradisi Ibrani dikaitkan dengan Daud. Hubungan dengan Daud memberikan mazmur tersebut nuansa seorang raja atau seorang yang mengalami berbagai tekanan dan ancaman.

Daud dalam tradisi Alkitab dikenal bukan hanya sebagai raja, tetapi juga sebagai tokoh yang mengalami berbagai pergumulan. Ia mengalami ancaman dari musuh, konflik internal, rasa bersalah, pengkhianatan, dan persoalan dalam kehidupan keluarganya.

Namun, secara historis-kritis, hubungan antara mazmur dan Daud harus diperlakukan secara hati-hati. Keterangan “dari Daud” tidak secara otomatis membuktikan bahwa Daud sendiri menuliskan bentuk final mazmur tersebut.

Tradisi Daud dapat berarti bahwa mazmur tersebut dikaitkan dengan Daud, berasal dari tradisi yang berhubungan dengan Daud, atau digunakan dalam konteks yang berhubungan dengan tokoh Daud.

Oleh sebab itu, kita tidak dapat memastikan dengan tepat peristiwa sejarah apa yang menjadi latar Mazmur 25:15–22. Yang lebih penting adalah mengamati situasi yang muncul dari teks itu sendiri.

2.3 Situasi Pemazmur dalam Mazmur 25

Teks memperlihatkan bahwa pemazmur sedang berada dalam keadaan sulit. Beberapa istilah yang muncul adalah “jaring,” “kesengsaraan,” “kesesakan,” “kesukaran,” “dosa,” “musuh,” “kebencian,” dan “rasa malu.”

Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pemazmur bersifat kompleks.

Ia tidak hanya menghadapi satu masalah.

Pertama, ia menghadapi persoalan spiritual berupa dosa dan kebutuhan akan pengampunan.

Kedua, ia mengalami persoalan emosional berupa kesepian dan kesusahan hati.

Ketiga, ia menghadapi persoalan sosial berupa musuh yang banyak dan membencinya.

Keempat, ia membutuhkan keselamatan dan perlindungan.

Dengan demikian, Mazmur 25:15–22 merupakan doa seseorang yang kehidupannya sedang berada dalam tekanan dari berbagai arah.

2.4 Mazmur sebagai Doa di Tengah Pergumulan

Mazmur 25 memperlihatkan bahwa doa tidak harus menunggu sampai keadaan menjadi baik.

Pemazmur justru berdoa ketika keadaan sedang buruk.

Hal ini penting karena dalam kehidupan iman sering muncul pemahaman bahwa seseorang harus kuat terlebih dahulu baru datang kepada Tuhan. Mazmur menunjukkan kebalikannya. Manusia datang kepada Tuhan justru karena dirinya lemah.

Pemazmur tidak menyembunyikan keadaan hatinya.

Ia berkata bahwa kesusahan hatinya bertambah.

Ia mengakui bahwa dirinya tertindas.

Ia mengakui dosa.

Ia mengakui adanya musuh.

Semua itu dibawa ke hadapan Tuhan.

2.5 Struktur Mazmur 25

Mazmur 25 secara keseluruhan dapat dibagi menjadi beberapa bagian pemikiran.

Bagian awal merupakan permohonan dan pengakuan bahwa Tuhan adalah tempat pengharapan.

Bagian berikutnya berisi permintaan agar Tuhan menunjukkan jalan dan mengajarkan kebenaran.

Kemudian pemazmur berbicara mengenai kasih setia Tuhan dan memohon pengampunan.

Mazmur 25:15–22 menjadi bagian yang semakin personal. Pemazmur mengungkapkan kesesakan, kesendirian, dosa, musuh, dan permohonan pembebasan.

Menariknya, mazmur berakhir dengan doa bagi seluruh Israel.

Dengan demikian, terdapat gerakan:

Tuhan → aku → pergumulan → pertolongan → komunitas.

Gerakan tersebut menunjukkan bahwa pengalaman pribadi pemazmur dengan Tuhan pada akhirnya mengarah kepada kepedulian terhadap umat.

2.6 Struktur Akrostik

Mazmur 25 merupakan puisi akrostik alfabetis. Secara umum, ayat-ayatnya mengikuti urutan alfabet Ibrani.

Dalam sastra Ibrani, akrostik dapat berfungsi sebagai alat untuk membantu mengingat teks, memberikan struktur, dan menunjukkan kelengkapan.

Penggunaan alfabet dari awal hingga akhir dapat memberikan kesan bahwa pemazmur membawa seluruh aspek kehidupannya kepada Tuhan.

Namun, struktur tersebut tidak sepenuhnya sempurna.

Hal ini penting karena pembaca tidak boleh memaksakan pola alfabetis seolah-olah setiap ayat harus secara sempurna mengikuti urutan yang sama.

2.7 Kritik terhadap Teks Asli Mazmur 25

Salah satu poin penting dalam kajian teks asli adalah adanya persoalan pada struktur akrostik Mazmur 25.

Dalam teks Masoretik, urutan alfabet tidak selalu tampak sempurna. Beberapa huruf tampak tidak memiliki pasangan yang jelas, sementara terdapat bagian yang menunjukkan kemungkinan adanya masalah transmisi atau variasi tradisi.

Hal tersebut menimbulkan pertanyaan apakah bentuk teks yang kita miliki sekarang sama persis dengan bentuk awalnya.

Namun, kritik teks harus dilakukan secara hati-hati. Ketidaksempurnaan akrostik tidak otomatis berarti teks tersebut telah rusak secara keseluruhan. Penyair dapat menggunakan kebebasan artistik, dan penyalin juga dapat melakukan perubahan kecil tanpa mengubah pesan utama.

Hal yang lebih penting adalah bahwa kritik teks membantu pembaca menyadari adanya sejarah dalam proses pewarisan teks.

Dalam konteks Mazmur 25, persoalan tersebut justru memperlihatkan bahwa pesan teologis tidak harus bergantung pada kesempurnaan mekanis struktur sastra.

Pesan utama tetap dapat ditemukan dengan jelas: pemazmur mengarahkan dirinya kepada Tuhan, mengakui dosa, memohon perlindungan, dan berharap pada keselamatan Tuhan.

2.8 Mazmur 25:15 dan Kata “Mataku”

Ungkapan “mataku” dalam ayat 15 menggunakan gambaran visual untuk menyatakan orientasi batin.

Mata bukan sekadar alat melihat. Dalam bahasa puitis Alkitab, mata dapat berhubungan dengan perhatian, keinginan, dan arah hidup.

Karena itu, ketika pemazmur mengatakan bahwa matanya terarah kepada Tuhan, maksudnya lebih dalam daripada sekadar “melihat Tuhan.”

Ia menyatakan bahwa Tuhan adalah pusat perhatiannya.

Dalam situasi sulit, pusat perhatian manusia sangat menentukan sikapnya.

Jika seseorang hanya memandang masalah, masalah dapat menjadi semakin besar dalam pikirannya.

Jika seseorang hanya memandang musuh, kebencian dapat menguasai dirinya.

Jika seseorang hanya memandang masa lalu, rasa bersalah dapat menghancurkan pengharapan.

Pemazmur memilih untuk memandang Tuhan.

2.9 “Tetap Terarah” kepada Tuhan

Kata “tetap” sangat penting dalam tema ini.

Mengarahkan mata kepada Tuhan sekali saja bukanlah persoalan yang sulit.

Yang sulit adalah tetap mengarahkan mata kepada Tuhan.

Ketika masalah belum selesai, apakah iman tetap ada?

Ketika doa belum terjawab, apakah pengharapan masih ada?

Ketika orang lain menyakiti kita, apakah kita masih percaya kepada Tuhan?

Ketika kesalahan masa lalu terus menghantui, apakah kita masih percaya pada pengampunan Tuhan?

Mazmur 25 memberikan gambaran bahwa iman bukan hanya keputusan sesaat, tetapi orientasi yang terus dipertahankan.

2.10 “Jaring” sebagai Gambaran Ancaman

Pemazmur mengatakan bahwa Tuhan mengeluarkan kakinya dari jaring.

Jaring merupakan gambaran yang kuat tentang jebakan.

Orang yang terjebak dalam jaring tidak dapat bergerak bebas.

Dalam konteks kehidupan, jaring dapat melambangkan keadaan yang mengikat manusia.

Jaring dapat berupa dosa, ketakutan, konflik, tekanan, kebiasaan buruk, fitnah, atau ancaman.

Pemazmur percaya bahwa Tuhan dapat membebaskannya dari jaring tersebut.

2.11 Mazmur 25:16 dan Kesendirian

Pemazmur berkata bahwa ia sendirian dan tertindas.

Kesendirian merupakan salah satu pengalaman manusia yang paling berat.

Seseorang dapat berada di tengah banyak orang tetapi tetap merasa sendirian.

Kesendirian dapat muncul ketika seseorang merasa tidak dipahami, ditolak, kehilangan orang yang dikasihi, atau tidak memiliki tempat untuk mencurahkan isi hati.

Pemazmur membawa pengalaman tersebut kepada Tuhan.

Ia meminta Tuhan berpaling kepadanya.

Ini menunjukkan bahwa Allah dipahami sebagai Pribadi yang memperhatikan manusia secara pribadi.

2.12 Tuhan yang “Berpaling” kepada Manusia

Pemazmur memohon agar Tuhan berpaling kepadanya.

Ungkapan tersebut memiliki nuansa relasional.

Pemazmur tidak hanya membutuhkan sesuatu dari Tuhan.

Ia membutuhkan kehadiran Tuhan.

Ini penting secara teologis.

Sering kali manusia berdoa hanya untuk meminta sesuatu: kesehatan, pekerjaan, keberhasilan, keselamatan, atau jalan keluar.

Mazmur 25 mengajarkan bahwa kebutuhan terdalam manusia adalah kehadiran Tuhan.

Pertolongan terbesar bukan hanya perubahan keadaan, tetapi keyakinan bahwa Tuhan hadir.

2.13 Mazmur 25:17 dan Kesusahan Hati

“Kesusahan hatiku bertambah-tambah.”

Ungkapan ini memperlihatkan kedalaman tekanan batin pemazmur.

Ia tidak menggunakan bahasa yang dangkal.

Ia mengakui bahwa penderitaannya semakin berat.

Ini memberikan legitimasi teologis terhadap ratapan.

Ratapan bukan tanda kurang iman.

Ratapan dapat menjadi bentuk iman karena orang yang meratap tetap berbicara kepada Tuhan.

Orang yang tidak percaya mungkin memilih untuk diam atau meninggalkan Tuhan.

Pemazmur justru mengeluh kepada Tuhan karena ia masih percaya bahwa Tuhan mendengar.

2.14 Mazmur 25:18 dan Pengakuan Dosa

Pemazmur meminta Tuhan melihat sengsara dan kesukarannya serta mengampuni segala dosanya.

Bagian ini sangat penting karena menunjukkan hubungan antara penderitaan dan pertobatan.

Namun, tidak tepat jika ayat ini ditafsirkan sebagai pernyataan bahwa setiap penderitaan pasti merupakan akibat dari dosa tertentu.

Alkitab sendiri mengenal penderitaan yang tidak dapat dijelaskan secara sederhana sebagai hukuman pribadi.

Yang terlihat dalam teks adalah bahwa pemazmur menggunakan penderitaannya sebagai kesempatan untuk memeriksa dirinya sendiri.

Ia tidak hanya menyalahkan musuh.

Ia juga bertanya mengenai dirinya di hadapan Tuhan.

Ini merupakan sikap pertobatan yang sehat.

2.15 Pengampunan sebagai Karya Allah

Pemazmur meminta Tuhan mengampuni segala dosanya.

Ini menunjukkan bahwa pengampunan merupakan bagian penting dari relasi dengan Allah.

Dosa bukan sekadar kesalahan moral, tetapi juga masalah relasional. Dosa merusak hubungan manusia dengan Tuhan.

Karena itu, pemulihan tidak hanya membutuhkan perubahan keadaan, tetapi juga pemulihan hubungan dengan Allah.

Pemazmur memahami bahwa Tuhan adalah sumber pengampunan.

2.16 Mazmur 25:19 dan Ancaman Musuh

Pemazmur memohon agar Tuhan melihat musuh-musuhnya yang banyak.

Kata “banyak” memperlihatkan bahwa ancaman tersebut terasa besar.

Ketika seseorang merasa dikelilingi oleh musuh, ia dapat mengalami ketakutan dan kehilangan rasa aman.

Pemazmur tidak menyembunyikan hal itu.

Namun, ia tidak membangun keselamatan dengan kekuatan balas dendam.

Ia menyerahkan persoalan tersebut kepada Tuhan.

2.17 Mazmur 25:20 dan Perlindungan Jiwa

Pemazmur meminta agar Tuhan menjaga jiwanya dan melepaskannya.

Dalam konteks Ibrani, “jiwa” tidak hanya menunjuk pada aspek spiritual manusia secara terpisah dari tubuh. Kata tersebut dapat menunjuk pada kehidupan atau keberadaan seseorang secara keseluruhan.

Dengan demikian, permohonan pemazmur adalah permohonan agar Tuhan menjaga hidupnya.

Ia menginginkan keselamatan secara utuh.

2.18 Berlindung kepada Tuhan

Pemazmur menyatakan bahwa ia berlindung kepada Tuhan.

Gambaran perlindungan merupakan tema yang sering ditemukan dalam kitab Mazmur.

Tuhan digambarkan sebagai tempat aman ketika manusia menghadapi bahaya.

Namun, perlindungan Tuhan bukan berarti kehidupan tanpa risiko.

Justru dalam risiko, pemazmur memilih untuk berlindung kepada Tuhan.

2.19 Mazmur 25:21 dan Ketulusan

Ayat 21 menyatakan bahwa ketulusan dan kejujuran menjadi sesuatu yang diharapkan pemazmur.

Ini adalah bagian penting dalam kajian etis.

Ketika menghadapi tekanan, pemazmur tidak meminta agar ia diberi kemampuan untuk membalas musuh.

Ia justru ingin tetap berada dalam ketulusan dan kejujuran.

Ini menunjukkan bahwa iman kepada Tuhan memiliki konsekuensi moral.

2.20 Mazmur 25:22 dan Peralihan kepada Israel

Pada ayat terakhir, pemazmur berdoa agar Allah membebaskan Israel dari segala kesesakannya.

Perubahan dari “aku” menjadi “Israel” menunjukkan adanya kesadaran komunitas.

Pemazmur tidak berhenti pada keselamatan pribadi.

Ia membawa seluruh umat kepada Tuhan.

Ini merupakan salah satu ciri penting spiritualitas Israel: hubungan pribadi dengan Tuhan tidak menghilangkan tanggung jawab terhadap komunitas.

III. KAJIAN TEOLOGIS, ETIS, DAN RELEVANSI MAZMUR 25:15–22

3.1 Allah sebagai Pusat Kehidupan

Tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” pertama-tama berbicara tentang Allah sebagai pusat kehidupan.

Manusia selalu memiliki sesuatu yang menjadi pusat perhatiannya.

Ada orang yang menjadikan uang sebagai pusat kehidupan. Ada yang menjadikan pekerjaan. Ada yang menjadikan keluarga. Ada yang menjadikan keberhasilan. Ada pula yang menjadikan masalah sebagai pusat kehidupannya.

Mazmur 25 mengajarkan bahwa pusat kehidupan yang benar adalah Tuhan.

Ketika Tuhan menjadi pusat, manusia belajar melihat segala sesuatu dalam hubungan dengan-Nya.

3.2 Allah sebagai Pembebas

Pemazmur percaya bahwa Tuhan dapat mengeluarkan kakinya dari jaring.

Dengan demikian, Tuhan dipahami sebagai pembebas.

Allah bukan hanya Allah yang menciptakan dan memelihara, tetapi juga Allah yang membebaskan.

Pembebasan dalam teks tidak hanya berarti bebas dari musuh, tetapi juga bebas dari kesesakan, rasa bersalah, ketakutan, dan berbagai keadaan yang mengikat.

Bagi umat percaya, hal ini menjadi dasar pengharapan.

3.3 Allah sebagai Pelindung

Tuhan menjadi tempat pemazmur berlindung.

Secara teologis, perlindungan Tuhan menunjukkan relasi kepercayaan.

Pemazmur menyadari bahwa kekuatan dirinya sendiri tidak cukup.

Ia membutuhkan Tuhan.

Hal ini mengajarkan kerendahan hati.

Manusia tidak diciptakan untuk hidup seolah-olah tidak membutuhkan Allah.

3.4 Allah sebagai Pengampun

Pemazmur menyadari dosanya dan meminta pengampunan.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah bukan hanya pelindung dari bahaya eksternal, tetapi juga penyembuh relasi yang rusak akibat dosa.

Pengampunan menjadi dasar bagi kehidupan baru.

Orang yang telah menerima pengampunan tidak seharusnya terus hidup dalam pola dosa yang sama.

3.5 Allah yang Dekat dengan Orang yang Kesepian

Pemazmur berkata bahwa dirinya sendirian dan tertindas.

Dalam keadaan tersebut, Tuhan menjadi tempat ia berpaling.

Ini memperlihatkan karakter Allah yang dekat dengan manusia.

Allah bukan hanya Allah yang besar dan berkuasa, tetapi juga Allah yang memperhatikan orang yang sedang lemah.

Pemahaman ini sangat penting bagi pelayanan pastoral gereja.

Gereja harus memperhatikan orang yang merasa sendirian.

3.6 Iman Tidak Menghilangkan Realitas Penderitaan

Salah satu pelajaran penting dari Mazmur 25 adalah bahwa iman tidak menghilangkan realitas penderitaan.

Pemazmur tetap mengalami kesengsaraan.

Ia tetap mengalami kesesakan.

Ia tetap memiliki musuh.

Namun, ia tidak kehilangan arah.

Di sinilah letak kekuatan imannya.

Iman bukan kemampuan untuk berkata bahwa tidak ada masalah.

Iman adalah kemampuan untuk berkata bahwa masalah bukan Tuhan.

3.7 Pengharapan di Tengah Kesulitan

Pengharapan pemazmur tidak didasarkan pada kepastian bahwa semua masalah segera selesai.

Pengharapannya didasarkan pada karakter Tuhan.

Ia percaya bahwa Tuhan setia.

Ia percaya bahwa Tuhan mendengar.

Ia percaya bahwa Tuhan mengampuni.

Ia percaya bahwa Tuhan melindungi.

Karena itu, ia tetap mengarahkan matanya kepada Tuhan.

3.8 Integritas sebagai Bentuk Iman

Ayat 21 menghubungkan iman dengan integritas.

Ini sangat penting.

Seseorang tidak dapat berkata bahwa ia percaya kepada Tuhan tetapi hidup dalam ketidakjujuran secara terus-menerus.

Iman harus membentuk karakter.

Ketika berada dalam tekanan, seseorang harus tetap jujur.

Ketika menghadapi musuh, seseorang tidak boleh menggunakan segala cara.

Ketika menghadapi kesulitan ekonomi, seseorang tidak boleh menghalalkan penipuan.

Ketika menghadapi konflik, seseorang harus tetap menjaga perkataan.

Dengan demikian, “mata yang terarah kepada Tuhan” menghasilkan kehidupan yang terarah kepada kebenaran.

3.9 Ketulusan dalam Kehidupan

Ketulusan berarti tidak hidup dengan kepura-puraan.

Pemazmur ingin hidup dengan hati yang benar di hadapan Tuhan.

Ini menjadi tantangan bagi kehidupan modern yang sering menekankan citra.

Manusia dapat membangun citra di depan orang lain, tetapi Tuhan melihat hati.

Karena itu, kehidupan yang terarah kepada Tuhan harus dibangun di atas ketulusan, bukan sekadar penampilan.

3.10 Menghadapi Musuh Tanpa Kehilangan Iman

Pemazmur memiliki musuh.

Namun, ia tidak membiarkan kebencian musuh menentukan arah hidupnya.

Ia menyerahkan persoalan kepada Tuhan.

Ini tidak berarti orang percaya harus membiarkan ketidakadilan.

Sebaliknya, orang percaya tetap dapat mencari keadilan, perlindungan, dan penyelesaian yang benar.

Tetapi semua itu dilakukan tanpa menjadikan kebencian sebagai pusat kehidupan.

3.11 Mengarahkan Mata kepada Tuhan dalam Keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama untuk menerapkan tema ini.

Keluarga dapat mengalami berbagai persoalan.

Ada konflik antara suami dan istri.

Ada masalah antara orang tua dan anak.

Ada persoalan ekonomi.

Ada perbedaan karakter.

Ada luka masa lalu.

Dalam situasi tersebut, keluarga dipanggil untuk tetap mengarahkan hidup kepada Tuhan.

Artinya, keputusan keluarga tidak hanya didasarkan pada emosi atau kepentingan pribadi, tetapi juga pada nilai-nilai iman.

3.12 Mengarahkan Mata kepada Tuhan dalam Pekerjaan

Dunia kerja juga dapat menjadi tempat ujian iman.

Seseorang dapat menghadapi persaingan, tekanan, ketidakadilan, kegagalan, atau perlakuan yang tidak menyenangkan.

Dalam keadaan seperti itu, integritas menjadi penting.

Orang percaya dipanggil untuk bekerja dengan jujur meskipun orang lain tidak jujur.

Ia dipanggil untuk tetap bertanggung jawab meskipun tidak selalu mendapatkan penghargaan.

Ia dipanggil untuk tidak mengorbankan prinsip hanya demi keuntungan.

Dengan demikian, mata yang terarah kepada Tuhan memengaruhi etika kerja.

3.13 Mengarahkan Mata kepada Tuhan dalam Pendidikan

Bagi pelajar dan mahasiswa, tekanan akademik dapat menjadi “jaring” yang membuat seseorang merasa terperangkap.

Kegagalan dalam ujian, tuntutan akademik, persaingan, dan kekhawatiran terhadap masa depan dapat menyebabkan tekanan.

Mazmur 25 mengajarkan bahwa keberhasilan akademik tidak boleh menjadi pusat identitas.

Nilai dan prestasi penting, tetapi tidak menentukan seluruh nilai diri manusia.

Manusia tetap memiliki martabat di hadapan Tuhan.

3.14 Mengarahkan Mata kepada Tuhan dalam Pelayanan Gereja

Pelayanan gereja juga dapat menjadi tempat pergumulan.

Seorang pelayan dapat mengalami kritik, konflik, kelelahan, kekecewaan, atau kurangnya penghargaan.

Dalam situasi seperti itu, seseorang dapat kehilangan motivasi.

Mazmur 25 mengingatkan bahwa pelayanan tidak boleh terutama diarahkan kepada manusia.

Mata harus tetap kepada Tuhan.

Jika seseorang melayani hanya demi penghargaan manusia, ia mudah kecewa.

Jika ia melayani karena Tuhan, ia dapat belajar bertahan bahkan ketika tidak mendapatkan penghargaan.

3.15 Gereja sebagai Tempat bagi Orang yang Tertekan

Mazmur 25 memberikan dasar pastoral bahwa gereja harus menjadi tempat yang aman bagi orang yang sedang mengalami pergumulan.

Gereja tidak boleh hanya menjadi tempat bagi orang yang terlihat kuat.

Gereja juga harus menerima orang yang sedang menangis, takut, bingung, jatuh, dan membutuhkan pengampunan.

Jika pemazmur dapat membawa kesesakannya kepada Tuhan, gereja juga harus menciptakan ruang di mana umat dapat membawa pergumulannya tanpa takut dihakimi.

3.16 Doa sebagai Cara Mengarahkan Mata kepada Tuhan

Doa merupakan salah satu cara utama untuk menjaga mata tetap terarah kepada Tuhan.

Ketika seseorang berdoa, ia mengakui bahwa hidupnya tidak sepenuhnya berada dalam kendalinya sendiri.

Doa mengajarkan ketergantungan.

Namun, doa bukan sekadar meminta.

Dalam Mazmur 25, doa juga merupakan pengakuan dosa, pencarian kehendak Tuhan, dan pengungkapan pergumulan.

Karena itu, kehidupan doa yang sehat mencakup permohonan, pengakuan, ucapan syukur, ratapan, dan penyerahan diri.

3.17 Mengingat Kesetiaan Tuhan

Seseorang dapat tetap mengarahkan matanya kepada Tuhan karena mengingat siapa Tuhan.

Jika manusia hanya mengandalkan perasaannya, iman mudah berubah.

Tetapi ketika manusia mengingat kesetiaan Tuhan, ia memiliki dasar yang lebih kuat.

Karena itu, umat percaya perlu mengingat pertolongan Tuhan dalam kehidupannya.

Kesaksian tentang pertolongan Tuhan dapat menjadi sumber kekuatan ketika menghadapi persoalan baru.

3.18 Pengampunan dan Pemulihan

Mazmur 25 mengajarkan bahwa ketika manusia jatuh, ia dapat kembali kepada Tuhan.

Pengampunan bukan berarti menganggap dosa tidak penting.

Sebaliknya, pengampunan dimulai dengan pengakuan bahwa dosa memang salah.

Setelah mengakui dosa, manusia dapat memohon pengampunan dan mengalami pemulihan.

Secara etis, orang yang menerima pengampunan juga dipanggil untuk belajar mengampuni orang lain.

3.19 Dari “Aku” kepada “Kita”

Perubahan dari doa pribadi kepada doa bagi Israel merupakan pelajaran penting.

Iman tidak boleh menjadi egoistis.

Seseorang tidak boleh hanya berdoa:

“Tuhan, selamatkan saya.”

Ia juga harus belajar berkata:

“Tuhan, selamatkan keluarga saya.”

“Tuhan, tolong gereja saya.”

“Tuhan, tolong orang yang sedang menderita.”

“Tuhan, berikan damai bagi bangsa kami.”

Dengan demikian, pengalaman pribadi dengan Tuhan menghasilkan kepedulian sosial.

3.20 Mengarahkan Mata kepada Tuhan dan Kepedulian terhadap Sesama

Mengarahkan mata kepada Tuhan tidak berarti menutup mata terhadap manusia.

Justru sebaliknya.

Ketika seseorang melihat Tuhan sebagai Allah yang penuh kasih dan peduli, ia dipanggil untuk menunjukkan kasih dan kepedulian kepada sesama.

Karena itu, spiritualitas yang benar tidak boleh membuat manusia menjadi egoistis.

Doa kepada Tuhan harus menghasilkan kasih kepada manusia.

3.21 Tuhan sebagai Arah Hidup

Tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” pada akhirnya berbicara tentang orientasi hidup.

Tuhan bukan hanya tempat meminta pertolongan ketika masalah datang.

Tuhan adalah arah kehidupan sehari-hari.

Jika Tuhan menjadi arah, maka seluruh aspek kehidupan harus disesuaikan dengan kehendak-Nya.

Cara menggunakan uang.

Cara berbicara.

Cara memperlakukan pasangan.

Cara mendidik anak.

Cara bekerja.

Cara menggunakan media sosial.

Cara menghadapi konflik.

Cara menghadapi musuh.

Cara memperlakukan orang miskin.

Semuanya menjadi bagian dari kehidupan yang terarah kepada Tuhan.

3.22 Tantangan Spiritual di Era Modern

Pada zaman sekarang, manusia menghadapi begitu banyak hal yang dapat mengalihkan pandangan dari Tuhan.

Media sosial, popularitas, materialisme, persaingan, konsumsi berlebihan, dan pencarian pengakuan dapat menjadi pusat kehidupan.

Manusia dapat menghabiskan begitu banyak waktu untuk melihat kehidupan orang lain sampai lupa melihat Tuhan.

Dalam konteks seperti itu, Mazmur 25 menjadi panggilan untuk kembali menentukan arah pandangan.

Apa yang menjadi pusat perhatian kita?

Apa yang paling kita takutkan?

Apa yang paling kita kejar?

Apa yang paling menentukan kebahagiaan kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu kita melihat kepada siapa sebenarnya mata kehidupan kita diarahkan.

3.23 Kritik terhadap Penafsiran yang Terlalu Spiritual

Mazmur 25 juga tidak boleh ditafsirkan hanya secara spiritual sehingga persoalan nyata manusia diabaikan.

Ketika pemazmur berbicara mengenai musuh, kesengsaraan, dan kesesakan, ia sedang berbicara mengenai kehidupan yang nyata.

Karena itu, orang percaya tidak boleh hanya berkata kepada seseorang yang sedang menderita, “Arahkan saja matamu kepada Tuhan,” tanpa memberikan pertolongan nyata.

Iman harus menghasilkan kepedulian.

Jika seseorang mengalami kesulitan ekonomi, gereja perlu membantu jika mampu.

Jika seseorang mengalami kesepian, gereja perlu hadir.

Jika seseorang mengalami ketidakadilan, gereja perlu memperjuangkan kebenaran.

Jika seseorang mengalami kejatuhan moral, gereja perlu menolong dalam proses pertobatan dan pemulihan.

Dengan demikian, teologi Mazmur harus menghasilkan tindakan nyata.

3.24 Implikasi bagi Kepemimpinan Gereja

Pemimpin gereja juga dapat belajar dari Mazmur 25.

Pemimpin tidak boleh menjadi pusat perhatian jemaat.

Pemimpin harus mengarahkan jemaat kepada Tuhan.

Ketika gereja menghadapi krisis, pemimpin harus membantu jemaat tetap memiliki pengharapan.

Ketika terjadi konflik, pemimpin harus mendorong rekonsiliasi.

Ketika jemaat mengalami kesulitan, pemimpin harus hadir.

Pemimpin yang matanya terarah kepada Tuhan akan lebih mampu memimpin dengan kerendahan hati.

3.25 Implikasi bagi Kehidupan Sosial

Mazmur 25 juga memiliki implikasi sosial.

Doa bagi Israel menunjukkan bahwa kehidupan iman memiliki dimensi komunitas.

Orang percaya dipanggil untuk peduli terhadap kondisi masyarakat.

Ketika ada ketidakadilan, orang percaya tidak boleh diam.

Ketika ada orang tertindas, orang percaya dipanggil untuk memperhatikan.

Ketika ada perpecahan, orang percaya dipanggil untuk menjadi pembawa damai.

Dengan demikian, mata yang terarah kepada Tuhan harus menghasilkan mata yang terbuka terhadap penderitaan manusia.

3.26 Pengharapan yang Berakar pada Karakter Tuhan

Pengharapan pemazmur bukan terutama karena ia yakin dirinya kuat.

Ia berharap karena ia mengenal Tuhan.

Ini merupakan prinsip penting dalam teologi Kristen.

Pengharapan tidak dibangun terutama atas kemampuan manusia mengontrol masa depan.

Pengharapan dibangun atas kesetiaan Allah.

Manusia tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok.

Tetapi manusia dapat percaya bahwa Tuhan tetap menyertainya.

3.27 Kesimpulan

Mazmur 25:15–22 merupakan teks yang sangat kaya untuk memahami kehidupan iman di tengah pergumulan. Pemazmur berada dalam keadaan yang sulit. Ia menghadapi kesendirian, kesesakan, dosa, musuh, dan ancaman terhadap kehidupannya. Namun, di tengah semua keadaan tersebut, ia menyatakan bahwa matanya tetap terarah kepada Tuhan.

Secara historis, Mazmur 25 berada dalam tradisi doa Israel dan secara khusus dikaitkan dengan Daud. Meskipun konteks sejarah spesifiknya tidak dapat dipastikan secara mutlak, isi mazmur memperlihatkan bahwa pemazmur berada dalam keadaan penuh tekanan dan membutuhkan pertolongan Tuhan.

Secara biblis, Mazmur 25:15–22 menunjukkan gerakan yang sangat jelas. Pemazmur melihat dirinya berada dalam “jaring,” mengalami kesendirian, merasakan kesusahan hati, mengakui dosa, menghadapi musuh, meminta perlindungan, dan akhirnya membawa doa bagi seluruh Israel. Dengan demikian, teks bergerak dari pergumulan pribadi menuju kepedulian terhadap komunitas.

Secara teologis, Mazmur ini memperkenalkan Tuhan sebagai Allah yang membebaskan, melindungi, mengampuni, mendengar, memperhatikan, dan menjadi tempat pengharapan. Pemazmur tidak mengandalkan kekuatannya sendiri. Ia datang kepada Tuhan dengan kerendahan hati.

Secara etis, teks menekankan pentingnya ketulusan dan kejujuran. Tekanan hidup tidak boleh menjadi alasan untuk meninggalkan integritas. Orang yang sungguh-sungguh mengarahkan hidupnya kepada Tuhan dipanggil untuk tetap hidup benar sekalipun berada dalam keadaan sulit.

Kritik terhadap teks asli memperlihatkan bahwa Mazmur 25 merupakan karya sastra akrostik yang memiliki beberapa persoalan dalam struktur alfabetisnya. Ketidakteraturan tersebut membuka ruang bagi kajian kritik teks dan menunjukkan bahwa teks Alkitab memiliki sejarah transmisi. Namun, persoalan tekstual tersebut tidak menghilangkan pesan utama mazmur. Sebaliknya, kritik teks membantu pembaca mendekati teks dengan lebih teliti dan bertanggung jawab.

Tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” pada akhirnya merupakan panggilan untuk memiliki orientasi hidup yang benar.

Ketika masalah datang, mata tetap kepada Tuhan.

Ketika doa belum terjawab, mata tetap kepada Tuhan.

Ketika hati merasa sendiri, mata tetap kepada Tuhan.

Ketika kesalahan masa lalu menghantui, mata tetap kepada Tuhan.

Ketika musuh banyak, mata tetap kepada Tuhan.

Ketika masa depan belum jelas, mata tetap kepada Tuhan.

Mengarahkan mata kepada Tuhan bukan berarti tidak melihat kenyataan. Pemazmur justru melihat kenyataan dengan sangat jelas. Ia melihat penderitaan, musuh, dosa, kesesakan, dan kesendirian. Namun, ia tidak membiarkan semua itu menjadi pusat terakhir hidupnya.

Inilah kedalaman iman yang ditampilkan Mazmur 25.

Iman tidak berarti manusia tidak pernah takut. Iman berarti ketakutan tidak menjadi tuan atas kehidupan.

Iman tidak berarti manusia tidak pernah jatuh. Iman berarti ketika jatuh, manusia dapat kembali kepada Tuhan.

Iman tidak berarti manusia selalu mengetahui jalan di depan. Iman berarti manusia tetap berjalan karena percaya kepada Tuhan yang memegang jalan tersebut.

Iman tidak berarti masalah selalu langsung hilang. Iman berarti manusia tetap memiliki pengharapan meskipun masalah belum selesai.

Karena itu, “mataku tetap terarah kepada Tuhan” dapat menjadi sebuah prinsip kehidupan orang percaya. Tuhan bukan hanya tempat manusia datang ketika membutuhkan pertolongan. Tuhan adalah pusat kehidupan, arah perjalanan, sumber pengharapan, tempat perlindungan, dan dasar bagi kehidupan yang benar.

Pemazmur akhirnya tidak hanya berdoa untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Israel. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan yang terarah kepada Tuhan akan menghasilkan kepedulian terhadap sesama.

Orang yang telah mengalami pertolongan Tuhan dipanggil untuk menjadi sumber penguatan bagi orang lain.

Orang yang telah mengalami pengampunan dipanggil untuk belajar mengampuni.

Orang yang telah mengalami perlindungan Tuhan dipanggil untuk melindungi mereka yang lemah.

Orang yang telah menerima kasih Tuhan dipanggil untuk menunjukkan kasih kepada sesama.

Dengan demikian, orientasi kepada Tuhan memiliki dampak pribadi sekaligus sosial.

Pada akhirnya, Mazmur 25:15–22 mengajarkan bahwa manusia tidak dapat mengendalikan seluruh keadaan hidupnya. Ada saat ketika manusia berada dalam “jaring” yang tidak dapat dilepaskan dengan kekuatannya sendiri. Ada masa ketika musuh terasa terlalu banyak. Ada saat ketika kesusahan hati bertambah-tambah. Ada keadaan ketika manusia merasa sendirian.

Tetapi di tengah semuanya itu, manusia masih memiliki pilihan iman: ke mana ia akan mengarahkan matanya?

Pemazmur memilih Tuhan.

Pilihan tersebut menjadi inti dari seluruh pergumulannya.

Karena itu, tema “Mataku Tetap Terarah kepada Tuhan” bukan sekadar kalimat penghiburan, tetapi merupakan pengakuan iman yang menuntut ketekunan. Mata harus terus diarahkan kepada Tuhan, bukan hanya ketika Tuhan memberikan jawaban sesuai keinginan, tetapi juga ketika manusia masih menunggu.

Di situlah pengharapan menjadi nyata.

Tuhan mungkin belum mengubah keadaan, tetapi Ia dapat mengubah cara manusia menghadapi keadaan.

Tuhan mungkin belum menunjukkan seluruh jalan, tetapi Ia dapat memberikan cukup terang untuk langkah berikutnya.

Tuhan mungkin belum menghilangkan seluruh kesesakan, tetapi Ia tetap menjadi tempat perlindungan.

Dan ketika manusia tetap mengarahkan matanya kepada Tuhan, ia belajar bahwa kehidupan tidak ditentukan hanya oleh apa yang terlihat di depan mata, tetapi oleh siapa yang menjadi dasar pengharapannya.

Mataku tetap terarah kepada Tuhan, sebab Tuhan adalah sumber pertolonganku, tempat perlindunganku, pengampun kesalahanku, dan dasar pengharapanku.

DAFTAR PUSTAKA

Alkitab. Alkitab Terjemahan Baru. Jakarta: Lembaga Alkitab Indonesia.

Allen, Leslie C. Psalms 101–150. Word Biblical Commentary. Dallas: Word Books.

Brueggemann, Walter. The Message of the Psalms: A Theological Commentary. Minneapolis: Augsburg Publishing House.

Craigie, Peter C. Psalms 1–50. Word Biblical Commentary. Waco: Word Books.

Goldingay, John. Psalms, Volume 1: Psalms 1–41. Grand Rapids: Baker Academic.

Kraus, Hans-Joachim. Psalms 1–59: A Commentary. Minneapolis: Augsburg Publishing House.

Mays, James L. Psalms. Interpretation: A Bible Commentary for Teaching and Preaching. Louisville: John Knox Press.

Tate, Marvin E. Psalms 1–50. Word Biblical Commentary. Dallas: Word Books.

Weiser, Artur. The Psalms: A Commentary. Philadelphia: Westminster Press.

 

Tags :

BPPPWG MENARA KRISTEN

KOMITMEN DALAM MELAYANI

PRO DEO ET EIUS CREATURAM

  • PRO DEO ET EIUS CREATURAM
  • COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
  • ORA ET LABORA

INFORMASI KEPALA BPPPWG MENARA KRISTEN
  • : Pdt Hendra C Manullang
  • : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
  • : crisvinh@gmail.com
  • : menarakristen@gmail.com
/UMUM
New comments are not allowed.
Tedbree Logo
BPPPWG Menara Kristen Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu Anda
Halo, Ada yang bisa kami bantu? ...
Kirim