-->

sosial media

Monday, 24 August 2026

YEREMIA 15 : 15 - 21 (FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU)


 FIRMAN TUHAN MENJADI KEGIRANGAN BAGIKU

Kajian Dogmatis-Teologis Berdasarkan Yeremia 15:15–21


I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Kitab Yeremia merupakan salah satu kitab kenabian yang memperlihatkan dengan sangat kuat pergumulan seorang hamba Allah dalam menjalankan panggilannya. Yeremia hidup dan melayani dalam suatu masa yang penuh dengan ketegangan, baik dalam kehidupan politik maupun kehidupan keagamaan bangsa Yehuda. Bangsa Yehuda berada dalam keadaan yang semakin jauh dari kehendak Allah. Penyembahan berhala, ketidakadilan, kemerosotan moral, dan ketidaksetiaan terhadap perjanjian dengan Tuhan menjadi persoalan yang terus-menerus disoroti oleh para nabi. Dalam situasi seperti itu, Yeremia dipanggil untuk menyampaikan firman Tuhan, sekalipun firman tersebut tidak selalu menyenangkan untuk didengar.

Panggilan Yeremia berbeda dari gambaran pelayanan yang sering kali dipahami secara sederhana. Menjadi nabi tidak berarti hidupnya menjadi mudah atau selalu dihormati oleh masyarakat. Justru sebaliknya, karena ia menyampaikan kebenaran Allah, Yeremia harus menghadapi penolakan, ancaman, penghinaan, kesepian, dan penderitaan. Firman yang disampaikannya sering kali bertentangan dengan keinginan bangsa dan para pemimpin pada zamannya. Ia tidak dapat menyesuaikan firman Tuhan hanya supaya dirinya diterima oleh masyarakat.

Di tengah situasi tersebut, Yeremia 15:15–21 memperlihatkan sisi pribadi seorang nabi yang sedang mengalami pergumulan yang sangat dalam. Yeremia datang kepada Tuhan dan mencurahkan isi hatinya. Ia meminta supaya Tuhan mengingat dirinya, memperhatikan dirinya, dan membela dirinya dari orang-orang yang menganiayanya. Ia menyadari bahwa penderitaan yang dialaminya berkaitan erat dengan kesetiaannya kepada Tuhan.

Namun, sesuatu yang sangat menarik terdapat dalam ayat 16. Setelah berbicara mengenai penderitaan dan kesulitan, Yeremia berkata:

“Apabila aku bertemu dengan perkataan-perkataan-Mu, maka aku menikmatinya; firman-Mu itu menjadi kegirangan bagiku dan menjadi kesukaan hatiku, sebab nama-Mu telah disebut atas diriku, ya TUHAN, Allah semesta alam.”

Pernyataan tersebut menjadi pusat dari kajian ini.

Secara manusiawi, keadaan Yeremia seharusnya membuatnya membenci tugas yang diberikan kepadanya. Firman Tuhan telah membuat hidupnya menjadi sulit. Firman tersebut menyebabkan ia harus berhadapan dengan orang-orang yang menolak kebenaran. Firman tersebut menempatkannya dalam posisi yang tidak nyaman. Namun demikian, Yeremia justru mengatakan bahwa firman Tuhan menjadi kegirangan dan kesukaan hatinya.

Di sinilah terdapat sebuah paradoks iman yang sangat penting. Firman yang menyebabkan penderitaan secara lahiriah justru menjadi sumber sukacita secara batiniah. Yeremia menderita karena firman, tetapi ia juga hidup oleh firman. Ia ditolak karena firman, tetapi ia menemukan identitasnya dalam firman. Ia mengalami kesepian karena panggilannya, tetapi dalam firman ia menemukan kehadiran dan kehendak Tuhan.

Hal ini menunjukkan bahwa sukacita iman tidak selalu sama dengan kenyamanan hidup. Seseorang dapat mengalami kesulitan tetapi tetap memiliki sukacita di dalam Tuhan. Sebaliknya, seseorang dapat hidup dalam kenyamanan tetapi tidak memiliki sukacita rohani. Sukacita yang dimiliki Yeremia tidak berasal dari keadaan di sekelilingnya, melainkan dari relasinya dengan Tuhan yang menyatakan diri melalui firman-Nya.

Tema “Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku” karena itu bukan hanya berbicara tentang perasaan senang ketika membaca Alkitab. Tema ini menyentuh persoalan yang jauh lebih dalam, yaitu bagaimana seorang percaya memandang firman Tuhan sebagai dasar kehidupannya. Firman Tuhan bukan sekadar kumpulan tulisan keagamaan. Firman merupakan penyataan Allah yang menyatakan siapa Dia, apa kehendak-Nya, bagaimana manusia harus hidup, dan ke mana kehidupan manusia diarahkan.

Dalam perspektif dogmatis-teologis, bagian ini sangat penting karena menyentuh berbagai pokok iman Kristen. Teks ini berbicara tentang Allah yang menyatakan diri-Nya, firman sebagai wahyu Allah, manusia yang memiliki kelemahan dan pergumulan, panggilan Allah, penderitaan dalam ketaatan, pemeliharaan Tuhan, serta hubungan antara firman dan kehidupan umat percaya.

Yang menarik, Yeremia tidak hanya mengatakan bahwa firman Tuhan benar. Ia mengatakan bahwa firman itu menjadi kegirangan dan kesukaan hatinya. Dengan demikian, firman bukan hanya memiliki otoritas atas pikiran, tetapi juga menyentuh hati dan membentuk seluruh kehidupan.

Dalam kehidupan gereja masa kini, hal ini merupakan persoalan yang sangat relevan. Tidak sedikit orang Kristen yang mengenal Alkitab tetapi belum tentu mencintai firman Tuhan. Ada yang membaca Alkitab hanya karena kewajiban. Ada yang membaca untuk mencari jawaban atas masalah pribadi. Ada pula yang hanya mengambil ayat-ayat yang memberikan kenyamanan, tetapi menghindari bagian-bagian yang menegur dosa dan menuntut perubahan.

Padahal, firman Tuhan tidak hanya berfungsi untuk menghibur. Firman juga menegur. Firman mengoreksi. Firman membongkar dosa. Firman memanggil manusia untuk bertobat. Firman menuntut ketaatan. Karena itu, mencintai firman berarti bersedia menerima seluruh kehendak Allah, termasuk ketika firman tersebut tidak sesuai dengan keinginan pribadi.

Yeremia menjadi teladan mengenai hal tersebut. Ia tidak mencintai firman karena firman membuat kehidupannya mudah. Ia mencintai firman karena firman berasal dari Tuhan. Dengan demikian, pusat kegembiraan Yeremia bukanlah manfaat yang diperoleh dari firman, tetapi Allah yang berbicara melalui firman tersebut.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, permasalahan utama dalam kajian ini adalah bagaimana Yeremia 15:15–21 memahami firman Tuhan sebagai sumber kegirangan bagi seorang hamba Allah yang sedang mengalami penderitaan. Dari persoalan utama tersebut muncul beberapa pertanyaan: bagaimana konteks teks tersebut, bagaimana memahami hubungan antara firman dan panggilan Yeremia, bagaimana teks memperlihatkan karakter Allah, bagaimana penderitaan dipahami dalam kehidupan orang yang taat kepada Tuhan, dan bagaimana makna firman sebagai sumber kegirangan dapat diterapkan dalam kehidupan gereja dan umat percaya masa kini.

1.3 Tujuan Penulisan

Penulisan ini bertujuan untuk mengkaji Yeremia 15:15–21 secara dogmatis-teologis dengan menempatkan firman Tuhan sebagai pusat pembahasan. Kajian ini juga bertujuan menunjukkan bahwa firman Allah bukan hanya sumber pengetahuan agama, tetapi merupakan sarana Allah menyatakan diri-Nya, membentuk manusia, mengoreksi kehidupan, memberikan kekuatan dalam penderitaan, dan meneguhkan panggilan umat-Nya.

II. KAJIAN BIBLIS DAN DOGMATIS-TEOLOGIS

2.1 Konteks Yeremia 15:15–21

Yeremia 15:15–21 harus dibaca dalam konteks kehidupan Yeremia sebagai nabi yang mengalami tekanan karena pelayanan kenabiannya. Yeremia bukan sedang berbicara dari keadaan hidup yang nyaman. Ia berada dalam pergumulan yang serius. Ia telah menyampaikan firman Tuhan kepada bangsa yang tidak mudah menerima pemberitaan tersebut. Karena itu, kehidupan kenabiannya membawa konsekuensi sosial dan pribadi.

Dalam konteks kitab Yeremia, bangsa Yehuda mengalami kemerosotan hubungan dengan Tuhan. Mereka memiliki identitas sebagai umat pilihan, tetapi kehidupan mereka tidak mencerminkan kesetiaan kepada Allah. Penyembahan kepada berhala, ketidakadilan, kekerasan, dan berbagai bentuk ketidaksetiaan menjadi persoalan yang terus muncul dalam pemberitaan nabi.

Yeremia kemudian tampil sebagai suara Tuhan yang menyerukan pertobatan. Ia tidak hanya berbicara tentang keadaan politik, tetapi menafsirkan keadaan bangsa dari sudut pandang perjanjian dengan Allah. Kehancuran yang mengancam Yehuda bukan sekadar persoalan politik. Di baliknya terdapat persoalan spiritual, yaitu ketidaksetiaan umat kepada Tuhan.

Karena itu, pelayanan Yeremia merupakan pelayanan yang sangat berat. Ia harus mengatakan sesuatu yang tidak ingin didengar. Ia harus berdiri di tengah masyarakat dan menyampaikan bahwa umat Tuhan sedang berada dalam keadaan yang serius. Hal ini menyebabkan dirinya mengalami penolakan.

Di dalam Yeremia 15:15–21, pergumulan tersebut terlihat dengan jelas. Yeremia datang kepada Tuhan bukan sebagai orang yang tidak memiliki iman, melainkan sebagai orang beriman yang sedang mengalami tekanan. Ia masih berbicara kepada Tuhan karena ia masih memiliki hubungan dengan Tuhan. Bahkan keluhannya sendiri merupakan bentuk dari relasinya dengan Allah.

Hal ini penting secara teologis. Iman tidak selalu berarti tidak mempunyai pertanyaan. Iman juga tidak berarti tidak pernah merasa lelah. Yeremia menunjukkan bahwa seorang hamba Tuhan dapat mengalami pergumulan yang berat tanpa harus kehilangan relasinya dengan Tuhan.

Yang menjadi pusat perhatian adalah bagaimana pergumulan tersebut akhirnya kembali kepada firman. Yeremia mengingat pengalaman ketika ia menerima perkataan Tuhan. Firman itu menjadi kegirangan baginya. Artinya, di tengah situasi yang penuh penderitaan, Yeremia memiliki sumber kehidupan yang lebih dalam daripada keadaan yang terlihat.

2.2 Firman Tuhan sebagai Penyataan Allah dan Sumber Kegirangan

Pernyataan Yeremia bahwa firman Tuhan menjadi kegirangan baginya mempunyai makna dogmatis yang sangat penting. Untuk memahami hal tersebut, pertama-tama perlu dipahami bahwa firman dalam konteks ini adalah perkataan Tuhan. Firman bukan berasal dari pikiran Yeremia sendiri. Ia menerima firman sebagai sesuatu yang berasal dari Allah dan karena itu memiliki otoritas.

Dalam doktrin Kristen, Allah dipahami sebagai Allah yang menyatakan diri. Allah tidak membiarkan manusia mengenal-Nya hanya berdasarkan dugaan atau spekulasi. Allah berinisiatif menyatakan siapa diri-Nya dan apa kehendak-Nya. Wahyu Allah merupakan dasar bagi manusia untuk mengenal Tuhan.

Dalam konteks Yeremia, firman merupakan salah satu bentuk penyataan tersebut. Tuhan berbicara melalui nabi. Yeremia menerima perkataan Tuhan dan menyampaikannya kepada umat. Oleh sebab itu, ketika Yeremia menikmati firman, sesungguhnya ia sedang menikmati perjumpaan dengan kehendak dan penyataan Allah.

Di sini terlihat bahwa firman Tuhan bukan sekadar informasi. Firman adalah komunikasi Allah kepada manusia. Karena itu, hubungan dengan firman seharusnya merupakan hubungan yang bersifat pribadi dan eksistensial.

Yeremia mengatakan bahwa ketika ia bertemu dengan perkataan Tuhan, ia “menikmatinya”. Bahasa ini menunjukkan adanya penerimaan yang mendalam. Firman masuk ke dalam kehidupan batinnya. Firman tidak berhenti sebagai sesuatu yang didengar oleh telinga, tetapi menjadi sesuatu yang diterima oleh hati.  Kemudian Yeremia mengatakan bahwa firman tersebut menjadi “kegirangan” dan “kesukaan hati”. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa firman Tuhan memiliki daya untuk membentuk kehidupan batin manusia. Firman bukan hanya memberi informasi mengenai apa yang benar, tetapi mengubah cara manusia memandang kehidupan.

Jika manusia memahami bahwa Tuhan berbicara, maka firman menjadi sesuatu yang berharga. Manusia tidak lagi datang kepada Alkitab hanya untuk mencari informasi, tetapi untuk mendengar suara kehendak Allah. Dalam arti ini, membaca firman menjadi sebuah tindakan iman.

Secara dogmatis, hal tersebut berhubungan dengan doktrin tentang Kitab Suci sebagai wahyu Allah yang berotoritas. Firman tidak boleh ditempatkan hanya sebagai salah satu sumber nasihat moral di antara banyak sumber lainnya. Firman memiliki tempat khusus karena kesaksiannya mengenai Allah dan karya-Nya.

Namun, otoritas firman tidak berarti bahwa manusia hanya harus takut terhadap firman. Yeremia menunjukkan dimensi lain, yaitu kasih terhadap firman. Ia tidak hanya tunduk karena takut dihukum. Ia menemukan kegirangan di dalamnya.

Inilah keseimbangan yang penting. Firman memiliki otoritas, tetapi otoritas itu tidak seharusnya menghasilkan hubungan yang mekanis. Firman membawa manusia kepada relasi dengan Allah.

Karena itu, orang percaya dipanggil bukan hanya untuk mengetahui isi firman, tetapi untuk mencintai firman. Mencintai firman berarti mencintai kebenaran Allah. Mencintai firman berarti menghargai kehendak Allah. Mencintai firman berarti bersedia membiarkan hidup dikoreksi oleh Tuhan.

Dalam kehidupan gereja, prinsip ini sangat penting. Gereja tidak boleh hanya mengejar banyaknya kegiatan tanpa memperhatikan kedalaman hubungan umat dengan firman. Banyak aktivitas gerejawi tidak otomatis menunjukkan kedewasaan iman. Ukuran yang lebih mendasar adalah apakah umat semakin mengenal Allah, semakin mengasihi firman, semakin bertumbuh dalam kekudusan, dan semakin taat kepada kehendak Tuhan.

2.3 Firman, Panggilan, Penderitaan, dan Pemeliharaan Allah

Bagian yang sangat penting dalam Yeremia 15:15–21 adalah hubungan antara firman dan penderitaan. Yeremia menikmati firman, tetapi pada saat yang sama ia menderita karena firman tersebut. Di sinilah kita menemukan salah satu realitas penting dalam teologi panggilan.

Panggilan Allah tidak selalu membawa manusia kepada kehidupan yang mudah. Dalam pemahaman yang dangkal, seseorang dapat berpikir bahwa jika Tuhan benar-benar memanggil, maka semuanya akan berjalan lancar. Namun, pengalaman Yeremia menunjukkan hal yang berbeda. Panggilan dapat membawa seseorang kepada situasi yang penuh tekanan.

Yeremia dipanggil untuk mengatakan kebenaran kepada bangsa yang tidak ingin mendengarnya. Karena itu, penderitaan menjadi bagian dari perjalanan panggilannya. Hal ini tidak berarti bahwa penderitaan harus dicari atau bahwa semua penderitaan otomatis berarti seseorang sedang melakukan kehendak Allah. Namun, dalam kasus Yeremia, penderitaannya berhubungan dengan kesetiaannya terhadap tugas yang diberikan Tuhan.

Secara dogmatis, hal ini berhubungan dengan doktrin tentang providensia atau pemeliharaan Allah. Allah yang memanggil adalah Allah yang tetap menyertai. Namun, penyertaan Allah tidak berarti bahwa semua bahaya akan dihilangkan.

Ini adalah pemahaman yang penting bagi kehidupan iman. Banyak orang menganggap penyertaan Tuhan berarti tidak akan mengalami masalah. Padahal Alkitab memperlihatkan bahwa penyertaan Tuhan dapat hadir justru di tengah masalah.

Allah tidak selalu mengeluarkan Yeremia dari penderitaan pada saat ia menginginkannya. Tetapi Allah memberikan jaminan bahwa Yeremia tidak akan ditinggalkan. Pada akhir bagian ini, Tuhan memberikan jawaban dan meneguhkan kembali panggilan Yeremia.

Di sinilah kita melihat karakter Allah yang tidak hanya memanggil tetapi juga memelihara. Allah mengetahui kelemahan hamba-Nya. Allah mendengar keluhannya. Allah tidak menolak Yeremia hanya karena ia mengalami pergumulan. Tetapi Allah juga tidak membiarkan Yeremia terus hidup dalam kepahitan. Tuhan menegur, memurnikan, dan mengembalikannya kepada panggilan.

Hal ini menunjukkan bahwa pemeliharaan Allah dapat bekerja melalui proses pembentukan. Kadang-kadang manusia berharap pemeliharaan Allah berarti Tuhan langsung menghapus semua persoalan. Namun, pemeliharaan juga dapat berarti Tuhan memberikan kekuatan untuk menjalani persoalan tersebut dan membentuk manusia melalui proses itu.

Dalam pengalaman Yeremia, Tuhan tidak membatalkan panggilannya karena nabi tersebut merasa lelah. Sebaliknya, Tuhan mengarahkan kembali hidup Yeremia supaya ia berdiri dengan benar.

Ini merupakan gambaran penting tentang anugerah Allah. Anugerah bukan berarti Tuhan membiarkan manusia terus berada dalam keadaan yang salah. Anugerah juga berarti Tuhan memperbaiki, menguduskan, dan memulihkan manusia supaya dapat kembali menjalankan kehendak-Nya.

Karena itu, Yeremia 15:15–21 menunjukkan bahwa Allah adalah Allah yang berelasi dengan umat-Nya. Ia mendengar, menegur, memulihkan, menguatkan, dan mengutus.

Allah tidak mencari manusia yang tidak pernah lemah. Allah bekerja melalui manusia yang bersedia kembali kepada-Nya.

III. REFLEKSI TEOLOGIS DAN RELEVANSI BAGI KEHIDUPAN GEREJA

3.1 Firman Tuhan sebagai Dasar Kehidupan Umat Percaya

Yeremia 15:15–21 memberikan tantangan yang sangat kuat bagi gereja masa kini. Di tengah dunia yang dipenuhi berbagai macam suara, umat percaya harus memiliki dasar yang jelas untuk menentukan arah kehidupan. Media sosial, budaya populer, opini publik, ideologi, kepentingan ekonomi, dan berbagai macam pandangan hidup terus menawarkan nilai-nilai kepada manusia. Dalam keadaan seperti ini, firman Tuhan harus tetap menjadi dasar kehidupan umat Allah.

Namun, menjadikan firman sebagai dasar kehidupan tidak cukup hanya dengan memiliki Alkitab. Firman harus benar-benar dibaca, dipahami, direnungkan, dan dilakukan. Alkitab yang hanya tersimpan di rumah tidak akan membentuk kehidupan jika tidak pernah dibuka. Demikian juga ayat yang hanya dihafalkan tanpa dipahami dan dilakukan tidak otomatis menghasilkan kedewasaan iman.

Yeremia memperlihatkan sesuatu yang lebih dalam. Ia mengatakan bahwa firman menjadi kegirangan bagi hatinya. Ini menunjukkan adanya hubungan yang hidup dengan firman. Orang percaya dipanggil untuk sampai pada tahap di mana firman bukan lagi sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan.

Sama seperti tubuh manusia membutuhkan makanan, kehidupan rohani membutuhkan firman. Tanpa firman, manusia mudah kehilangan arah. Ia dapat dengan mudah mengikuti apa yang dianggap benar oleh lingkungan tanpa terlebih dahulu menguji semuanya berdasarkan kehendak Tuhan.

Karena itu, gereja harus kembali menempatkan firman sebagai pusat kehidupan jemaat. Khotbah harus berakar pada firman. Pengajaran harus berakar pada firman. Pembinaan jemaat harus berakar pada firman. Pelayanan harus berakar pada firman. Bahkan keputusan-keputusan gereja harus diuji dalam terang prinsip-prinsip firman.

3.2 Firman Tidak Hanya Menghibur tetapi Juga Mengoreksi

Salah satu persoalan penting dalam kehidupan kekristenan masa kini adalah kecenderungan memilih firman yang hanya memberikan kenyamanan. Orang senang mendengar bahwa Tuhan mengasihi, memberkati, menyertai, dan menolong. Semua itu benar. Namun, firman Tuhan juga berbicara mengenai dosa, pertobatan, kekudusan, pengorbanan, ketaatan, keadilan, dan tanggung jawab.

Yeremia sendiri mengalami sisi firman yang keras. Firman yang diterimanya bukan sekadar pesan yang menyenangkan. Ia harus menyampaikan teguran kepada umat yang berdosa. Karena itu, jika kita mengatakan bahwa firman Tuhan menjadi kegirangan, kita tidak boleh memahami kegirangan itu sebagai keinginan untuk hanya mendengar hal-hal yang menyenangkan.

Kegirangan terhadap firman berarti kita bersedia menerima firman secara utuh.

Ketika firman menghibur, kita menerimanya.

Ketika firman menegur, kita juga menerimanya.

Ketika firman memberikan pengharapan, kita bersyukur.

Ketika firman membongkar dosa, kita bertobat.

Ketika firman meminta kita mengampuni, kita belajar mengampuni.

Ketika firman meminta kita berlaku adil, kita meninggalkan ketidakadilan.

Dengan demikian, kegirangan terhadap firman merupakan sikap hati yang terbuka terhadap seluruh kehendak Allah.

3.3 Firman sebagai Sumber Kekuatan dalam Penderitaan

Kehidupan Yeremia menunjukkan bahwa orang yang hidup dalam firman tidak otomatis bebas dari penderitaan. Justru dalam situasi sulit, firman dapat menjadi sumber kekuatan.

Hal ini sangat relevan bagi umat percaya yang sedang mengalami masalah. Ada orang yang ketika menghadapi penderitaan mulai mempertanyakan keberadaan Tuhan. Ada pula yang menganggap bahwa masalah merupakan bukti Tuhan meninggalkan mereka.

Yeremia memberikan perspektif yang berbeda. Ia sedang menderita, tetapi ia tetap datang kepada Tuhan. Ia memiliki keluhan, tetapi ia tidak meninggalkan Tuhan. Ia mengalami tekanan, tetapi ia masih mengingat firman Tuhan.

Ini menunjukkan bahwa iman yang matang bukan iman yang tidak pernah mengalami krisis. Iman yang matang adalah iman yang tetap mencari Tuhan ketika krisis terjadi.

Firman menjadi tempat seseorang kembali mengingat siapa Allah.

Ketika keadaan berubah, firman mengingatkan bahwa karakter Allah tidak berubah.

Ketika manusia mengecewakan, firman mengingatkan bahwa Tuhan tetap setia.

Ketika masa depan tidak jelas, firman memberikan arah.

Ketika hati menjadi lemah, firman memberikan pengharapan.

Karena itu, orang percaya perlu membangun kehidupan firman sebelum krisis datang. Jangan baru mencari firman ketika sedang mengalami masalah. Hubungan dengan firman harus dibangun setiap hari.

3.4 Firman dan Kehidupan Pelayan Tuhan

Bagi para pendeta, pengkhotbah, guru agama, mahasiswa teologi, dan seluruh pelayan gereja, Yeremia memberikan pelajaran yang sangat penting. Orang yang menyampaikan firman kepada orang lain harus terlebih dahulu bersedia dibentuk oleh firman tersebut.

Sangat mudah bagi seseorang untuk menggunakan Alkitab untuk menasihati orang lain. Yang lebih sulit adalah membiarkan firman Tuhan mengoreksi dirinya sendiri.

Seorang pelayan dapat mengetahui banyak ayat tetapi tetap memiliki hati yang keras. Ia dapat pandai berkhotbah tetapi tidak memiliki kehidupan doa. Ia dapat mengajar tentang kasih tetapi sulit mengampuni. Ia dapat berbicara mengenai kerendahan hati tetapi senang mencari pujian.

Karena itu, pelayanan firman harus selalu dimulai dari kehidupan yang tunduk kepada firman.

Yeremia tidak hanya menjadi penyampai pesan. Firman tersebut juga masuk ke dalam kehidupannya. Ia mengalami sendiri beratnya panggilan yang diterimanya.

Pelayan Tuhan perlu belajar bahwa keberhasilan pelayanan tidak terutama ditentukan oleh popularitas. Seorang pelayan mungkin tidak selalu diterima. Ia mungkin mengalami kritik. Ia mungkin mengalami kesalahpahaman. Namun, ukuran utama adalah kesetiaan kepada Tuhan.

3.5 Firman dan Gereja Masa Kini

Gereja masa kini hidup dalam konteks yang sangat berbeda dari zaman Yeremia, tetapi tantangannya memiliki kesamaan. Dunia tetap membutuhkan suara kebenaran. Manusia tetap bergumul dengan dosa. Ketidakadilan tetap terjadi. Keserakahan tetap ada. Penyalahgunaan kekuasaan tetap terjadi. Manusia tetap membutuhkan pertobatan dan pengharapan.

Karena itu, gereja tidak boleh kehilangan suara profetisnya.

Gereja harus mampu menyampaikan kebenaran tanpa kehilangan kasih. Gereja harus berani menegur dosa tanpa menjadi komunitas yang penuh kebencian. Gereja harus membela kebenaran tanpa menggunakan kebenaran sebagai senjata untuk merendahkan orang lain.

Dalam hal ini, gereja harus belajar dari Yeremia bahwa menyampaikan firman dapat memiliki konsekuensi. Tidak semua orang akan senang ketika gereja berbicara mengenai kebenaran. Namun, gereja tidak dipanggil untuk mencari popularitas. Gereja dipanggil untuk setia.

3.6 Firman dan Kehidupan Pribadi

Pada akhirnya, tema “Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku” harus menjadi pengakuan pribadi setiap orang percaya.

Pertanyaannya bukan hanya apakah gereja memiliki program membaca Alkitab.

Pertanyaannya bukan hanya apakah seorang pendeta berkhotbah dari Alkitab.

Pertanyaannya adalah: apakah firman Tuhan benar-benar menjadi kegirangan bagi hati kita?

Apakah kita mencari firman ketika sedang bahagia?

Apakah kita tetap mencari firman ketika sedang kecewa?

Apakah kita bersedia menerima teguran firman?

Apakah kita bersedia mengubah kehidupan ketika firman menunjukkan kesalahan kita?

Apakah firman menjadi dasar keputusan kita?

Apakah firman membentuk cara kita memperlakukan keluarga?

Apakah firman membentuk cara kita memperlakukan orang yang berbeda dengan kita?

Apakah firman membentuk cara kita bekerja?

Jika jawabannya semakin nyata dalam kehidupan, maka firman benar-benar sedang bekerja dalam diri kita.

PENUTUP

Yeremia 15:15–21 memberikan gambaran yang sangat mendalam mengenai hubungan antara seorang hamba Tuhan dengan firman Allah. Yeremia adalah seorang nabi yang tidak menjalani kehidupan yang mudah. Ia mengalami penolakan, kesepian, tekanan, dan penderitaan sebagai akibat dari kesetiaannya menjalankan panggilan Tuhan. Namun, di tengah semua penderitaan tersebut, ia tetap dapat mengakui bahwa firman Tuhan menjadi kegirangan dan kesukaan hatinya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa sumber sukacita Yeremia bukanlah keadaan hidupnya. Sumber sukacitanya adalah Tuhan dan firman-Nya. Ia tidak mencintai firman karena firman membuat hidupnya nyaman. Ia mencintai firman karena firman mempertemukannya dengan Allah.

Secara dogmatis-teologis, teks ini mengajarkan bahwa Allah adalah Allah yang menyatakan diri. Firman merupakan sarana penting bagi manusia untuk mengenal kehendak Allah. Firman memiliki otoritas, tetapi hubungan dengan firman tidak berhenti pada ketaatan formal. Firman harus diterima dalam hati dan menjadi sumber pembentukan kehidupan.

Teks ini juga mengajarkan bahwa panggilan Allah tidak selalu membawa manusia kepada kenyamanan. Kesetiaan kepada Tuhan dapat membawa seseorang kepada penderitaan. Namun, penderitaan tersebut tidak berarti bahwa Allah meninggalkan orang yang dipanggil-Nya. Allah tetap memelihara, menegur, memulihkan, dan meneguhkan.

Yeremia juga menunjukkan bahwa manusia yang beriman tetap dapat mengalami kelemahan. Ia dapat merasa lelah dan kecewa. Akan tetapi, kelemahan bukan alasan untuk meninggalkan Tuhan. Justru dalam kelemahan, manusia dipanggil untuk kembali kepada Allah.

Karena itu, tema “Firman Tuhan Menjadi Kegirangan Bagiku” harus dipahami sebagai sebuah pengakuan iman yang sangat dalam. Firman Tuhan menjadi kegirangan bukan karena firman selalu memberikan apa yang kita inginkan, tetapi karena melalui firman kita mengenal Allah yang menjadi dasar kehidupan kita.

Firman menghibur ketika kita terluka.

Firman menegur ketika kita berdosa.

Firman mengarahkan ketika kita bingung.

Firman menguatkan ketika kita lemah.

Firman mengingatkan ketika kita mulai menyimpang.

Firman memberikan pengharapan ketika masa depan tidak jelas.

Dan firman memanggil kita untuk tetap setia kepada Tuhan.

Dengan demikian, kehidupan orang percaya seharusnya tidak hanya ditandai oleh pengetahuan tentang firman, tetapi oleh kecintaan kepada firman dan ketaatan terhadap firman. Firman harus berpindah dari kepala menuju hati, dan dari hati menuju tindakan.

Seperti Yeremia, umat Tuhan dipanggil untuk menemukan kegirangan yang lebih dalam daripada keadaan dunia. Sebab keadaan dapat berubah, manusia dapat mengecewakan, pelayanan dapat menjadi berat, dan kehidupan dapat membawa penderitaan. Namun, firman Tuhan tetap menjadi dasar yang teguh.

Pada akhirnya, pengakuan Yeremia dapat menjadi doa bagi setiap orang percaya:

“Tuhan, biarlah firman-Mu bukan hanya menjadi sesuatu yang aku baca, tetapi menjadi sesuatu yang menghidupkan aku. Biarlah firman-Mu bukan hanya menjadi pengetahuan dalam pikiranku, tetapi menjadi kegirangan dalam hatiku. Dan biarlah melalui firman-Mu aku semakin mengenal, mengasihi, menaati, dan setia kepada-Mu.”

Tags :

BPPPWG MENARA KRISTEN

KOMITMEN DALAM MELAYANI

PRO DEO ET EIUS CREATURAM

  • PRO DEO ET EIUS CREATURAM
  • COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
  • ORA ET LABORA

INFORMASI KEPALA BPPPWG MENARA KRISTEN
  • : Pdt Hendra C Manullang
  • : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
  • : crisvinh@gmail.com
  • : menarakristen@gmail.com
/UMUM
New comments are not allowed.
Tedbree Logo
BPPPWG Menara Kristen Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu Anda
Halo, Ada yang bisa kami bantu? ...
Kirim