-->

sosial media

Wednesday, 24 December 2025

KHOTBAH; 2 Tesalonika 3:16–18 ( Kasih Karunia Tuhan yang Menyertai Jemaat )

 


Kasih Karunia Tuhan yang Menyertai Jemaat :
Suatu Kajian Eksegetis dan Homiletis terhadap 2 Tesalonika 3:16–18
 

PENULIS : PDT. HENDRA CRISVIN MANULLANG

 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Kasih karunia merupakan konsep fundamental dalam iman Kristen dan menjadi pusat teologi Rasul Paulus. Seluruh kehidupan orang percaya, menurut Paulus, dimulai, berlangsung, dan disempurnakan oleh kasih karunia Allah di dalam Yesus Kristus. Kasih karunia tidak hanya dipahami sebagai tindakan Allah yang menyelamatkan manusia dari dosa, tetapi juga sebagai penyertaan ilahi yang terus-menerus menopang jemaat dalam realitas hidup yang konkret, termasuk penderitaan, tekanan, dan ketidakpastian masa depan.

Dalam surat-surat Paulus, bagian penutup sering kali berbentuk doa dan berkat yang merangkum pesan teologis utama dari keseluruhan surat. Salah satu contoh yang sangat kaya makna terdapat dalam 2 Tesalonika 3:16–18. Teks ini muncul dalam konteks jemaat Tesalonika yang sedang mengalami berbagai pergumulan serius, baik secara eksternal maupun internal. Secara eksternal, jemaat menghadapi penganiayaan dan tekanan sosial karena iman mereka kepada Kristus. Secara internal, mereka bergumul dengan kebingungan teologis mengenai kedatangan Tuhan serta masalah kedisiplinan hidup, khususnya terkait etos kerja dan tanggung jawab sosial.

Dalam situasi seperti ini, Paulus tidak hanya memberikan nasihat dan teguran, tetapi menutup suratnya dengan sebuah doa yang menegaskan bahwa Tuhan sendiri adalah sumber damai dan bahwa kasih karunia Tuhan Yesus Kristus menyertai seluruh jemaat. Penekanan ini menunjukkan bahwa solusi utama bagi pergumulan jemaat bukan terletak pada kekuatan manusia, melainkan pada kehadiran dan anugerah Allah yang menyertai umat-Nya. Dengan demikian, 2 Tesalonika 3:16–18 bukanlah penutup yang bersifat formal atau liturgis semata, tetapi merupakan pernyataan teologis yang mendalam dan sarat makna pastoral.

Namun, dalam praktik pengajaran dan pemberitaan Firman di gereja, bagian penutup surat sering kali diperlakukan secara sekilas dan kurang mendapatkan perhatian yang memadai. Fokus khotbah dan studi Alkitab umumnya diarahkan pada bagian argumentatif atau nasihat etis, sementara doa dan berkat penutup dianggap sebagai pengulangan formula yang sudah dikenal. Akibatnya, jemaat kehilangan kesempatan untuk memahami kedalaman teologis yang terkandung dalam penegasan Paulus mengenai damai sejahtera dan kasih karunia sebagai penyertaan Allah yang nyata.

Selain itu, dalam konteks kehidupan gereja masa kini, tema kasih karunia sering kali dipersempit menjadi pengalaman awal pertobatan atau dipahami secara abstrak sebagai konsep teologis tanpa implikasi praktis yang jelas. Padahal, realitas hidup jemaat modern tidak jauh berbeda dengan jemaat Tesalonika: tekanan hidup, ketidakpastian ekonomi, konflik sosial, dan pergumulan iman masih menjadi bagian dari pengalaman sehari-hari. Oleh karena itu, pemahaman yang utuh dan mendalam tentang kasih karunia sebagai penyertaan Tuhan menjadi sangat relevan dan mendesak.

Berdasarkan pertimbangan tersebut, penelitian ini memandang perlu untuk mengkaji 2 Tesalonika 3:16–18 secara serius melalui pendekatan eksegetis dan teologis, serta mengaitkannya dengan implikasi homiletis. Dengan cara ini, teks Alkitab tidak hanya dipahami secara akademis, tetapi juga diberitakan secara setia dan kontekstual sebagai Firman Tuhan yang hidup dan relevan bagi jemaat masa kini.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, beberapa permasalahan utama yang dapat diidentifikasi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagian penutup surat Paulus, khususnya 2 Tesalonika 3:16–18, sering kali kurang mendapat perhatian dalam kajian teologi dan eksegesis.
  2. Konsep kasih karunia cenderung dipahami secara sempit sebagai awal keselamatan, bukan sebagai penyertaan Tuhan sepanjang hidup orang percaya.
  3. Pemahaman jemaat tentang damai sejahtera sering kali dikaitkan dengan kondisi eksternal, bukan dengan kehadiran Allah.
  4. Khotbah dan pengajaran gereja belum sepenuhnya menggali makna teologis dan pastoral dari doa dan berkat Paulus.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana makna teologis doa dan berkat Paulus dalam 2 Tesalonika 3:16–18 jika ditinjau dari konteks historis dan sastra surat?
  2. Bagaimana Paulus memahami konsep damai sejahtera dan kasih karunia sebagai penyertaan Tuhan bagi jemaat Tesalonika?
  3. Apa implikasi teologis dan homiletis dari teks 2 Tesalonika 3:16–18 bagi kehidupan dan pelayanan gereja masa kini?

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Mengkaji dan menjelaskan makna teologis 2 Tesalonika 3:16–18 melalui pendekatan eksegetis yang bertanggung jawab.
  2. Mengungkap pemahaman Paulus mengenai kasih karunia sebagai realitas penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat.
  3. Merumuskan implikasi teologis dan homiletis yang dapat diterapkan dalam pemberitaan Firman dan penggembalaan jemaat.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoretis

Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan studi teologi Paulus, khususnya dalam memahami peran kasih karunia dan damai sejahtera dalam bagian penutup surat. Penelitian ini juga diharapkan memperkaya kajian biblika Perjanjian Baru dengan menyoroti pentingnya doa dan berkat sebagai bagian integral dari pesan teologis rasuli.

1.5.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan rujukan bagi pendeta, pengkhotbah, dan pelayan gereja dalam menyusun khotbah dan pengajaran yang berakar kuat pada teks Alkitab. Selain itu, penelitian ini diharapkan dapat menolong jemaat untuk memahami dan menghidupi kasih karunia Tuhan sebagai penyertaan yang nyata dalam setiap aspek kehidupan.

 

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS

2.1 Pendahuluan

Bab ini bertujuan untuk menguraikan landasan teoretis dan kajian pustaka yang relevan dengan penelitian mengenai 2 Tesalonika 3:16–18. Dalam penelitian teologi biblika, tinjauan pustaka bukan sekadar ringkasan pendapat para ahli, melainkan dialog kritis dengan tradisi penafsiran yang telah berkembang. Oleh karena itu, Bab II akan memaparkan secara sistematis pandangan para penafsir terhadap surat 2 Tesalonika, konsep kasih karunia dalam teologi Paulus, pemahaman tentang damai sejahtera dalam Perjanjian Baru, serta pendekatan homiletis yang relevan dengan teks yang diteliti.

Bab ini juga menyusun kerangka teoretis yang akan digunakan dalam penelitian, sehingga metode dan pendekatan yang dipakai memiliki dasar akademis yang jelas. Dengan demikian, analisis teks pada bab-bab selanjutnya tidak berdiri secara lepas, tetapi terikat pada tradisi ilmiah dan metodologi teologi yang dapat dipertanggungjawabkan.

2.2 Studi Terdahulu tentang Surat 2 Tesalonika

2.2.1 Keaslian dan Penulis Surat

Salah satu diskusi utama dalam studi 2 Tesalonika adalah mengenai keaslian dan kepenulisan surat ini. Tradisi gereja mula-mula secara konsisten mengakui Rasul Paulus sebagai penulis surat ini. Hal ini tercermin dalam kanon Perjanjian Baru dan kesaksian para Bapa Gereja. Namun, dalam kajian kritis modern, sebagian sarjana mempertanyakan keaslian Paulus atas dasar perbedaan gaya bahasa dan fokus teologis dibandingkan dengan 1 Tesalonika.

Sebaliknya, banyak penafsir konservatif dan moderat berpendapat bahwa perbedaan tersebut dapat dijelaskan oleh konteks pastoral yang berbeda dan perkembangan situasi jemaat. Penekanan Paulus pada penandatanganan pribadi dalam 2 Tesalonika 3:17 justru memperkuat klaim keaslian surat ini. Ayat tersebut dipahami sebagai respons Paulus terhadap adanya surat-surat palsu yang beredar atas namanya.

Dalam konteks penelitian ini, penerimaan terhadap kepenulisan Paulus penting karena mempengaruhi pemahaman teologi kasih karunia dan otoritas apostolik yang terkandung dalam teks.

2.2.2 Tujuan dan Tema Utama Surat

Para penafsir umumnya sepakat bahwa tujuan utama 2 Tesalonika adalah untuk:

  1. Menguatkan jemaat yang sedang mengalami penganiayaan.
  2. Meluruskan kesalahpahaman tentang kedatangan Tuhan.
  3. Menegaskan tanggung jawab hidup Kristen, termasuk etos kerja.

Tema-tema tersebut membentuk latar belakang teologis dari doa dan berkat penutup dalam 2 Tesalonika 3:16–18. Dengan kata lain, penutup surat ini tidak terpisah dari isi surat, melainkan merangkum dan mengikat seluruh pesan Paulus.

2.3 Pandangan Para Penafsir terhadap 2 Tesalonika 3:16–18

2.3.1 Tafsiran Klasik

Penafsir klasik seperti Yohanes Krisostomus dan Agustinus melihat doa dan berkat Paulus sebagai ungkapan pastoral yang menegaskan bahwa damai dan kasih karunia hanya dapat berasal dari Allah. Mereka menekankan bahwa jemaat tidak boleh mencari ketenangan di luar Tuhan.

Reformator seperti Yohanes Calvin menafsirkan 2 Tesalonika 3:16 sebagai penegasan bahwa damai sejahtera Kristen tidak bergantung pada kondisi eksternal, melainkan pada kehadiran Allah yang berdaulat. Calvin juga menekankan bahwa penutup surat menunjukkan kerendahan hati Paulus, yang menyerahkan jemaat sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan.

2.3.2 Tafsiran Modern dan Kontemporer

Penafsir modern seperti Gordon D. Fee, Gene L. Green, dan F. F. Bruce menyoroti dimensi komunal dari doa dan berkat Paulus. Frasa “menyertai kamu sekalian” dipahami sebagai penegasan bahwa kasih karunia bersifat kolektif dan membentuk identitas jemaat sebagai tubuh Kristus.

Sebagian penafsir juga menekankan bahwa penggunaan istilah “Tuhan sumber damai” menunjukkan kristologi tinggi, karena Paulus mengaitkan damai sejahtera dengan kehadiran Tuhan Yesus Kristus sendiri.

2.4 Konsep Kasih Karunia (Charis) dalam Teologi Paulus

2.4.1 Pengertian Dasar Charis

Dalam tulisan Paulus, charis memiliki makna yang luas, mencakup:

  • Anugerah keselamatan,
  • Kuasa Allah yang mengubahkan,
  • Penyertaan Allah dalam kehidupan jemaat.

Kasih karunia tidak pernah dipisahkan dari relasi antara Allah dan manusia. Oleh karena itu, charis bukan sekadar status, tetapi dinamika hidup.

2.4.2 Kasih Karunia sebagai Penyertaan Hidup

Paulus sering menutup surat-suratnya dengan penegasan tentang kasih karunia, yang menunjukkan bahwa kasih karunia bukan hanya awal iman, tetapi juga akhir dan penggenapannya. Dalam 2 Tesalonika 3:18, kasih karunia ditempatkan sebagai penutup final, yang menegaskan bahwa seluruh kehidupan jemaat berada di bawah anugerah Kristus.

2.5 Konsep Damai Sejahtera (Eirēnē) dalam Perjanjian Baru

2.5.1 Damai dalam Latar Belakang Ibrani dan Yunani

Istilah eirēnē dalam PB berakar pada konsep shalom dalam PL, yang mencakup:

  • Keutuhan relasi dengan Allah,
  • Keharmonisan sosial,
  • Kesejahteraan hidup secara menyeluruh.

Dengan demikian, damai sejahtera bukan sekadar ketiadaan konflik, tetapi kehadiran Allah yang memulihkan.

2.5.2 Damai sebagai Karunia Kristologis

Dalam tulisan Paulus, damai sejahtera selalu dikaitkan dengan karya Kristus. Kristus adalah sumber dan pemberi damai, dan damai tersebut dialami oleh jemaat melalui relasi dengan-Nya.

2.6 Kerangka Teoretis Penelitian

2.6.1 Pendekatan Eksegetis

Penelitian ini menggunakan pendekatan eksegetis historis-gramatikal, dengan memperhatikan:

  • Konteks historis,
  • Struktur sastra,
  • Analisis bahasa Yunani.

2.6.2 Pendekatan Teologi Paulus

Teologi Paulus digunakan sebagai lensa untuk memahami:

  • Konsep kasih karunia,
  • Damai sejahtera,
  • Penyertaan Tuhan dalam kehidupan jemaat.

2.6.3 Pendekatan Homiletis

Pendekatan homiletis ekspositori dipakai untuk:

  • Menghubungkan teks dengan pemberitaan Firman,
  • Menjaga kesetiaan pada teks Alkitab,
  • Menghasilkan aplikasi pastoral yang relevan.

2.7 Sintesis Tinjauan Pustaka

Dari seluruh kajian pustaka di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. 2 Tesalonika 3:16–18 memiliki bobot teologis yang sangat kaya.
  2. Kasih karunia dan damai sejahtera merupakan tema sentral dalam teologi Paulus.
  3. Penutup surat Paulus berfungsi sebagai ringkasan teologis dan pastoral.

Sintesis ini menjadi dasar bagi analisis teks dan eksegesis pada bab selanjutnya.

 

III. KONTEKS HISTORIS DAN SASTRA SURAT 2 TESALONIKA

3.1 Pendahuluan Bab III

Pemahaman yang benar terhadap suatu teks Alkitab tidak dapat dilepaskan dari konteks historis dan sastra di mana teks tersebut lahir. Surat 2 Tesalonika bukanlah dokumen teologis yang berdiri di ruang hampa, melainkan respons rasuli terhadap situasi konkret jemaat Tesalonika. Oleh karena itu, kajian historis dan sastra menjadi langkah esensial sebelum memasuki analisis eksegetis yang lebih rinci terhadap 2 Tesalonika 3:16–18.

Bab ini bertujuan untuk menguraikan latar belakang jemaat Tesalonika, situasi sosial-religius yang mereka hadapi, tujuan penulisan surat, serta struktur dan karakter sastra surat 2 Tesalonika secara keseluruhan. Dengan memahami konteks ini, doa dan berkat penutup Paulus akan terlihat bukan sebagai formula liturgis semata, melainkan sebagai respons teologis yang sangat relevan terhadap kondisi jemaat.

3.2 Latar Belakang Historis Jemaat Tesalonika

3.2.1 Kota Tesalonika dalam Konteks Dunia Romawi

Tesalonika merupakan kota penting di wilayah Makedonia dan salah satu pusat perdagangan utama di Kekaisaran Romawi. Letaknya yang strategis di jalur Via Egnatia menjadikan kota ini pusat ekonomi, politik, dan budaya. Tesalonika juga dikenal sebagai kota kosmopolitan dengan penduduk yang beragam, termasuk orang Yunani, Romawi, dan komunitas Yahudi yang cukup signifikan.

Dalam konteks religius, kota Tesalonika dipenuhi dengan berbagai bentuk penyembahan dewa-dewi Yunani-Romawi, kultus kaisar, serta praktik keagamaan lokal. Kehadiran jemaat Kristen di tengah konteks seperti ini menempatkan mereka dalam posisi minoritas yang rentan terhadap tekanan sosial dan religius.

3.2.2 Berdirinya Jemaat Tesalonika

Menurut Kisah Para Rasul 17:1–9, jemaat Tesalonika lahir dari pelayanan misi Paulus, Silas, dan Timotius. Pelayanan Paulus di kota ini relatif singkat, namun menghasilkan komunitas orang percaya yang bertumbuh dengan cepat. Pertobatan mereka, terutama dari latar belakang non-Yahudi, menimbulkan konflik dengan kelompok Yahudi tertentu dan otoritas kota.

Sejak awal, jemaat Tesalonika telah mengalami penganiayaan karena iman mereka kepada Kristus. Pengalaman penderitaan ini membentuk identitas iman jemaat dan menjadi latar penting bagi isi surat-surat Paulus kepada mereka.

3.3 Situasi Jemaat Tesalonika saat Penulisan 2 Tesalonika

3.3.1 Penganiayaan dan Tekanan Sosial

Salah satu isu utama yang dihadapi jemaat Tesalonika adalah penganiayaan yang berkelanjutan. Paulus secara eksplisit menyebutkan penderitaan jemaat dalam 2 Tesalonika 1:4–5. Penganiayaan ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi, mengingat posisi minoritas jemaat Kristen di tengah masyarakat pagan.

Tekanan ini menimbulkan pertanyaan teologis dalam diri jemaat, khususnya mengenai keadilan Allah dan penggenapan janji keselamatan.

3.3.2 Kebingungan Eskatologis

Selain penganiayaan, jemaat Tesalonika juga mengalami kebingungan mengenai kedatangan Tuhan. Beberapa anggota jemaat tampaknya percaya bahwa hari Tuhan telah tiba atau akan terjadi dalam waktu sangat dekat. Kebingungan ini diperparah oleh adanya surat-surat atau ajaran palsu yang mengatasnamakan Paulus.

Akibatnya, sebagian jemaat hidup dalam ketakutan, sementara yang lain justru mengabaikan tanggung jawab hidup sehari-hari.

3.3.3 Masalah Disiplin dan Etos Kerja

Dampak praktis dari kebingungan eskatologis terlihat dalam masalah etos kerja. Paulus menegur dengan keras mereka yang hidup tidak tertib dan enggan bekerja (2 Tes. 3:6–12). Masalah ini menunjukkan bahwa pemahaman teologis yang keliru dapat berujung pada perilaku sosial yang tidak sehat.

Dalam konteks inilah, doa dan berkat Paulus dalam 2 Tesalonika 3:16–18 menjadi sangat signifikan, karena ia mengarahkan jemaat kembali kepada Tuhan sebagai sumber damai dan kasih karunia.

3.4 Tujuan Penulisan Surat 2 Tesalonika

Berdasarkan konteks di atas, tujuan penulisan 2 Tesalonika dapat dirumuskan sebagai berikut:

  1. Menguatkan jemaat yang menderita
    Paulus meneguhkan jemaat bahwa penderitaan mereka tidak sia-sia dan bahwa Allah adil.
  2. Meluruskan kesalahpahaman eskatologis
    Paulus menjelaskan bahwa hari Tuhan belum tiba dan memberikan kerangka teologis yang benar.
  3. Menegaskan tanggung jawab hidup Kristen
    Iman yang benar harus tercermin dalam kehidupan yang tertib dan bertanggung jawab.
  4. Menyerahkan jemaat kepada penyertaan Tuhan
    Penutup surat menegaskan bahwa pada akhirnya jemaat hidup dalam kasih karunia dan damai Tuhan.

3.5 Karakter Sastra Surat 2 Tesalonika

3.5.1 2 Tesalonika sebagai Surat Pastoral

Secara genre, 2 Tesalonika merupakan surat pastoral yang menggabungkan unsur:

  • pengajaran teologis,
  • nasihat etis,
  • teguran keras,
  • dan doa serta berkat.

Struktur ini mencerminkan pendekatan Paulus yang holistik terhadap kehidupan jemaat.

3.5.2 Struktur Umum Surat 2 Tesalonika

Struktur surat dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Salam pembuka (1:1–2)
  2. Penghiburan dan penguatan iman (1:3–12)
  3. Klarifikasi eskatologis (2:1–12)
  4. Dorongan untuk berdiri teguh (2:13–17)
  5. Nasihat etis dan disiplin jemaat (3:1–15)
  6. Doa dan berkat penutup (3:16–18)

Penempatan 2 Tesalonika 3:16–18 sebagai penutup menegaskan fungsinya sebagai rangkuman teologis.

3.6 Fungsi Teologis Doa dan Berkat Penutup (2 Tesalonika 3:16–18)

3.6.1 Doa sebagai Penyerahan Jemaat kepada Allah

Doa Paulus dalam ayat 16 menunjukkan bahwa setelah semua pengajaran dan teguran diberikan, jemaat akhirnya diserahkan kepada Tuhan sendiri. Hal ini menegaskan keterbatasan otoritas manusia dan supremasi kasih karunia Allah.

3.6.2 Berkat sebagai Peneguhan Iman Jemaat

Ayat 18 menutup surat dengan penegasan kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Dalam konteks sastra surat, berkat ini berfungsi sebagai:

  • peneguhan iman,
  • penghiburan pastoral,
  • dan jaminan penyertaan ilahi.

3.7 Hubungan BAB III dengan Analisis Eksegetis (BAB IV)

Bab ini menyiapkan landasan penting bagi analisis teks dalam BAB IV dengan menunjukkan bahwa:

  1. Damai dan kasih karunia dibutuhkan jemaat yang sedang bergumul.
  2. Doa dan berkat Paulus menjawab kebutuhan konkret jemaat.
  3. Teks 2 Tesalonika 3:16–18 harus dibaca dalam terang seluruh surat.

Tanpa pemahaman konteks ini, analisis bahasa dan eksegesis akan kehilangan kedalaman pastoralnya.

 

IV. ANALISIS TEKS DAN EKSEGESIS 2 TESALONIKA 3:16–18

4.1 Pendahuluan

Setelah membahas latar belakang historis, sastra, dan teologis surat 2 Tesalonika pada bab sebelumnya, bab ini memasuki inti penelitian, yaitu analisis teks dan eksegesis 2 Tesalonika 3:16–18. Tujuan utama bab ini adalah menggali makna asli teks berdasarkan bahasa Yunani, struktur kalimat, konteks sastra, serta maksud teologis penulis.

Eksegesis yang bertanggung jawab tidak hanya berfokus pada arti kata, tetapi juga pada relasi antarfrasa, tekanan gramatikal, dan nuansa pastoral yang terkandung di dalam teks. Dengan demikian, hasil analisis ini tidak hanya relevan bagi kajian akademis, tetapi juga memiliki nilai homiletis yang kuat bagi pelayanan gereja.

4.2 Teks Yunani dan Terjemahan

4.2.1 Teks Yunani (NA28)

2 Tesalonika 3:16–18

16 Αὐτὸς δὲ ὁ κύριος τῆς εἰρήνης δῴη ὑμῖν τὴν εἰρήνην διὰ παντὸς ἐν παντὶ τρόπῳ. Ὁ κύριος μετὰ πάντων ὑμῶν.
17 Ὁ ἀσπασμὸς τῇ ἐμῇ χειρὶ Παύλου, ὅ ἐστιν σημεῖον ἐν πάσῃ ἐπιστολῇ· οὕτως γράφω.
18 Ἡ χάρις τοῦ κυρίου ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ μετὰ πάντων ὑμῶν.

4.2.2 Terjemahan Harfiah

16 Dan kiranya Ia sendiri, Tuhan damai sejahtera, memberikan kepada kamu damai sejahtera senantiasa dalam segala cara. Tuhan menyertai kamu sekalian.
17 Salam ini kutulis dengan tanganku sendiri, Paulus; inilah tanda dalam setiap suratku; demikianlah aku menulis.
18 Kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus menyertai kamu sekalian.

4.3 Kritik Teks (Textual Criticism)

4.3.1 Variasi Manuskrip

Secara umum, 2 Tesalonika 3:16–18 memiliki stabilitas tekstual yang tinggi. Variasi yang muncul bersifat minor dan tidak memengaruhi makna teologis utama.

Ayat

Variasi

Manuskrip

Catatan

3:16

εἰρήνην / τὴν εἰρήνην

א, B, D

Artikel tertentu memperkuat sifat spesifik damai

3:18

πάντων / ὑμῶν

Mayoritas

Konsisten dengan gaya Paulus

Kesimpulan: Tidak ada alasan tekstual yang signifikan untuk meragukan keaslian teks NA28.

4.4 Analisis Struktur Kalimat

4.4.1 Struktur Umum

Teks 2 Tesalonika 3:16–18 dapat dibagi menjadi tiga unit besar:

  1. Doa akan damai dan penyertaan Tuhan (ay. 16)
  2. Autentikasi kerasulan Paulus (ay. 17)
  3. Berkat kasih karunia (ay. 18)

Struktur ini menunjukkan perpaduan antara dimensi ilahi (doa & berkat) dan dimensi manusiawi (tanda tangan rasul).

4.5 Eksegesis Ayat 16

4.5.1 “Αὐτὸς δὲ ὁ κύριος τῆς εἰρήνης”

Frasa ini menempatkan subjek utama secara sangat tegas:

  • Αὐτὸς (Ia sendiri) → penekanan eksklusif
  • ὁ κύριος τῆς εἰρήνης → Tuhan sebagai sumber damai

Damai (εἰρήνη, eirēnē) di sini bukan sekadar ketenangan psikologis, melainkan:

  • rekonsiliasi dengan Allah,
  • ketertiban hidup,
  • keutuhan relasi jemaat.

Paulus menegaskan bahwa damai sejati tidak berasal dari situasi eksternal, tetapi dari pribadi Tuhan sendiri.

4.5.2 “δῴη ὑμῖν τὴν εἰρήνην”

Kata kerja δῴη (optatif aorist) mengungkapkan:

  • doa yang penuh kerendahan hati,
  • pengharapan akan tindakan Allah.

Bentuk optatif menunjukkan bahwa damai adalah anugerah, bukan hasil usaha manusia.

4.5.3 “διὰ παντὸς ἐν παντὶ τρόπῳ”

Frasa ini sangat kuat secara retoris:

  • διὰ παντός → setiap waktu
  • ἐν παντὶ τρόπῳ → dalam segala keadaan

Ini menegaskan sifat kontinu dan menyeluruh dari damai Tuhan.

4.5.4 “Ὁ κύριος μετὰ πάντων ὑμῶν”

Penyertaan Tuhan bersifat:

  • komunal (πάντων ὑμῶν),
  • inklusif,
  • tidak terbatas pada jemaat “ideal”.

Ini penting dalam konteks jemaat yang sedang mengalami konflik internal.

4.6 Eksegesis Ayat 17

4.6.1 Fungsi Tanda Tangan Paulus

Ayat 17 tampak administratif, tetapi memiliki fungsi teologis dan pastoral:

  • Menegaskan keaslian kerasulan
  • Melindungi jemaat dari ajaran palsu
  • Menyatakan tanggung jawab pribadi Paulus

4.6.2 “σημεῖον ἐν πάσῃ ἐπιστολῇ”

Kata σημεῖον (tanda) menegaskan otoritas rasuli dan keabsahan pengajaran. Paulus tidak hanya mengajar, tetapi bertanggung jawab penuh atas isi surat.

4.7 Eksegesis Ayat 18

4.7.1 “Ἡ χάρις τοῦ κυρίου ἡμῶν Ἰησοῦ Χριστοῦ”

Kasih karunia (χάρις) adalah:

  • dasar keselamatan,
  • kuasa pemeliharaan,
  • sumber kehidupan Kristen.

Paulus menutup surat dengan Kristosentrisme yang kuat.

4.7.2 “μετὰ πάντων ὑμῶν”

Sekali lagi, penekanan pada komunitas:

  • Kasih karunia bukan hanya individual
  • Jemaat hidup dalam ruang anugerah yang sama

4.8 Sintesis Teologis BAB IV

Dari analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa:

  1. Damai sejati berasal dari Tuhan sendiri
  2. Kasih karunia menyertai jemaat dalam segala situasi
  3. Penyertaan Allah bersifat komunal dan berkelanjutan
  4. Otoritas kerasulan Paulus menopang iman jemaat

4.9 Signifikansi Eksegetis bagi Khotbah

Teks ini sangat kaya untuk khotbah karena:

  • berakar kuat dalam konteks jemaat,
  • bersifat penghiburan dan penguatan,
  • menegaskan kasih karunia sebagai realitas hidup.

 

V. IMPLIKASI TEOLOGIS DAN HOMILETIS 2 TESALONIKA 3:16–18

Kasih Karunia Tuhan Menyertai Jemaat

5.1 Pendahuluan BAB V

Setelah melalui kajian historis, sastra, dan eksegetis yang mendalam terhadap 2 Tesalonika 3:16–18, bab ini bertujuan untuk menguraikan implikasi teologis dan homiletis dari teks tersebut. BAB V merupakan ruang refleksi kritis di mana hasil eksegesis tidak berhenti pada tataran akademis, melainkan ditransformasikan menjadi pemahaman teologis yang hidup dan relevan bagi gereja.

Dalam tradisi teologi Paulus, teologi tidak pernah bersifat spekulatif semata, tetapi selalu diarahkan pada pembentukan iman dan kehidupan jemaat. Oleh sebab itu, implikasi teologis selalu berujung pada praksis gerejawi, khususnya melalui pelayanan pemberitaan Firman. Dengan kerangka ini, BAB V dibagi ke dalam dua fokus utama: implikasi teologis dan implikasi homiletis.

5.2 Implikasi Teologis

5.2.1 Kasih Karunia sebagai Kerangka Hidup Jemaat

Hasil eksegesis menunjukkan bahwa kasih karunia (χάρις) dalam 2 Tesalonika 3:18 bukan sekadar formula penutup, melainkan penegasan realitas hidup jemaat. Paulus memahami kasih karunia sebagai ruang eksistensial tempat jemaat hidup, bergerak, dan bertumbuh.

Secara teologis, hal ini menegaskan bahwa:

  1. Jemaat tidak hidup dari kekuatan moral atau ketaatan hukum semata.
  2. Seluruh dinamika kehidupan gereja berada dalam cakupan anugerah Allah.
  3. Kasih karunia bersifat berkelanjutan, bukan peristiwa sesaat.

Implikasi ini menantang gereja masa kini yang sering kali menekankan keberhasilan program, kedisiplinan organisasi, dan performa pelayanan, namun melupakan bahwa fondasi utama kehidupan gereja adalah kasih karunia Tuhan.

5.2.2 Damai Sejahtera sebagai Anugerah Ilahi, Bukan Kondisi Sosial

Ayat 16 menegaskan bahwa Tuhan adalah “Tuhan damai sejahtera”, dan damai itu diberikan “senantiasa dalam segala cara”. Ini mengoreksi pemahaman teologis yang mengidentikkan damai dengan ketiadaan konflik atau penderitaan.

Secara teologis, damai:

  • Tidak identik dengan kenyamanan
  • Tidak bergantung pada stabilitas sosial-politik
  • Berakar pada relasi yang benar dengan Allah

Dalam konteks jemaat Tesalonika yang mengalami penganiayaan, damai justru hadir di tengah penderitaan. Dengan demikian, damai sejahtera menjadi tanda kehadiran Allah, bukan tanda absennya masalah.

5.2.3 Penyertaan Tuhan sebagai Realitas Komunal

Penekanan Paulus pada frasa μετὰ πάντων ὑμῶν (menyertai kamu sekalian) mengandung implikasi eklesiologis yang kuat. Penyertaan Tuhan tidak bersifat individualistis, melainkan komunal.

Implikasinya:

  1. Gereja adalah komunitas anugerah, bukan kumpulan individu saleh.
  2. Kasih karunia tidak boleh dimonopoli oleh kelompok tertentu.
  3. Penyertaan Tuhan mencakup jemaat yang lemah, bermasalah, dan sedang ditegur.

Teologi ini menantang gereja untuk bersikap inklusif dan pastoral.

5.2.4 Kristosentrisme dalam Penutup Surat Paulus

Paulus menutup surat dengan “kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus”, bukan sekadar “kasih karunia Allah”. Ini menunjukkan bahwa seluruh damai dan penyertaan Allah dimediasi melalui Kristus.

Implikasi teologisnya:

  • Kristus adalah pusat kehidupan gereja
  • Kasih karunia tidak dapat dipisahkan dari salib dan kebangkitan
  • Gereja tidak boleh menggantikan Kristus dengan ideologi, tradisi, atau figur pemimpin

5.2.5 Ketegangan antara Disiplin Gereja dan Kasih Karunia

Konteks langsung 2 Tesalonika 3 memperlihatkan adanya teguran keras terhadap jemaat yang tidak tertib. Namun, surat ini tidak diakhiri dengan ancaman, melainkan dengan kasih karunia.

Implikasinya:

  • Disiplin gereja harus selalu berada dalam bingkai anugerah
  • Teguran tidak boleh memutuskan relasi
  • Kasih karunia tidak meniadakan kebenaran, tetapi menopangnya

5.3 Implikasi Eklesiologis

5.3.1 Gereja sebagai Komunitas Damai

Gereja dipanggil untuk menjadi ruang di mana damai Allah dialami dan dipraktikkan. Ini mencakup:

  • relasi antarjemaat,
  • penyelesaian konflik,
  • sikap terhadap perbedaan.

Damai bukan hanya dikhotbahkan, tetapi dihidupi.

5.3.2 Gereja di Tengah Dunia yang Tidak Damai

Dalam dunia yang ditandai oleh ketegangan, polarisasi, dan kekerasan, gereja menjadi tanda profetis damai Allah. Gereja tidak melarikan diri dari dunia, tetapi hadir sebagai saksi damai Kristus.

5.4 Implikasi Pastoral

5.4.1 Penggembalaan Berbasis Kasih Karunia

Pelayanan pastoral yang berakar pada teks ini:

  • tidak menghakimi secara legalistik,
  • tidak permisif terhadap dosa,
  • tetapi mengarahkan jemaat kepada pemulihan.

5.4.2 Penghiburan bagi Jemaat yang Menderita

Teks ini memberi dasar teologis yang kuat bagi pelayanan penghiburan:

  • Tuhan hadir dalam penderitaan
  • Damai Allah melampaui situasi
  • Kasih karunia menopang iman

5.5 Implikasi Homiletis

5.5.1 Prinsip Dasar Khotbah dari 2 Tesalonika 3:16–18

Beberapa prinsip homiletis penting:

  1. Khotbah harus berangkat dari teks, bukan dari pengalaman semata
  2. Khotbah harus menyatukan pengajaran dan penghiburan
  3. Khotbah harus berakhir pada kasih karunia, bukan beban moral

5.5.2 Struktur Khotbah yang Diusulkan

Tema: Kasih Karunia Tuhan Menyertai Kita

Pendahuluan:
Realitas hidup jemaat yang penuh tekanan dan ketidakpastian.

Isi:

  1. Tuhan sumber damai sejati
  2. Damai yang melampaui situasi
  3. Penyertaan Tuhan bagi seluruh jemaat

Penutup:
Kasih karunia Kristus sebagai jaminan hidup iman.

5.5.3 Contoh Garis Besar Khotbah

Judul: Damai yang Menyertai dalam Segala Keadaan

  1. Damai berasal dari Tuhan, bukan dari dunia
  2. Damai hadir dalam segala situasi
  3. Kasih karunia Kristus menyertai jemaat

5.6 Relevansi Kontekstual bagi Gereja Indonesia

Dalam konteks gereja di Indonesia:

  • hidup sebagai minoritas,
  • menghadapi tekanan sosial dan ekonomi,
  • bergumul dengan internal gereja,

teks ini menjadi sangat relevan. Kasih karunia Tuhan menjadi sumber pengharapan dan keteguhan iman.

5.7 Sintesis Teologis–Homiletis

Seluruh penelitian ini menegaskan bahwa:

  1. Kasih karunia adalah pusat kehidupan Kristen
  2. Damai Allah adalah anugerah yang menyertai jemaat
  3. Khotbah harus mengalir dari eksegesis yang bertanggung jawab
  4. Gereja hidup dalam ruang kasih karunia Kristus

 

Tags :

BPPPWG MENARA KRISTEN

KOMITMEN DALAM MELAYANI

PRO DEO ET EIUS CREATURAM

  • PRO DEO ET EIUS CREATURAM
  • COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
  • ORA ET LABORA

INFORMASI KEPALA BPPPWG MENARA KRISTEN
  • : Pdt Hendra C Manullang
  • : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
  • : crisvinh@gmail.com
  • : menarakristen@gmail.com
/UMUM

Post a Comment

Tedbree Logo
BPPPWG Menara Kristen Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu Anda
Halo, Ada yang bisa kami bantu? ...
Kirim