-->

sosial media

Saturday, 20 December 2025

KHOTBAH; MAZMUR 105:1–6 ( MEMPERKENALKAN PERBUATAN TUHAN )

 


MEMPERKENALKAN PERBUATAN TUHAN : KAJIAN EKSEGETIS, KRITIK TEKS, DAN IMPLIKASI HOMILETIS ATAS 

MAZMUR 105:1–6

PENULIS : PDT. HENDRA CRISVIN MANULLANG 

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Mazmur 105 merupakan salah satu mazmur sejarah (historical psalm) yang menempatkan karya Allah sebagai pusat iman umat Israel. Secara khusus, Mazmur 105:1–6 membuka keseluruhan mazmur ini dengan serangkaian seruan imperatif yang menegaskan panggilan umat untuk bersyukur, memanggil nama TUHAN, mengingat perbuatan-perbuatan-Nya, serta memperkenalkannya di tengah bangsa-bangsa. Dengan demikian, teks ini bukan sekadar liturgi pujian, melainkan suatu deklarasi teologis mengenai relasi antara karya Allah, identitas umat, dan tanggung jawab kesaksian.

Dalam konteks Perjanjian Lama, iman tidak dipahami sebagai pengalaman individual semata, tetapi sebagai respons komunal terhadap tindakan Allah yang nyata dalam sejarah. Oleh karena itu, perintah untuk “memperkenalkan perbuatan Tuhan” tidak dapat dilepaskan dari praktik mengingat (זָכַר, zakar) dan menceritakan karya-karya-Nya sebagai bagian dari pewarisan iman lintas generasi. Mazmur 105:1–6 memperlihatkan bahwa kesaksian iman berakar pada pengenalan yang benar akan Allah melalui perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib.

Namun, dalam praktik pemberitaan Firman dan pengajaran gereja masa kini, teks Mazmur 105:1–6 sering kali dipahami secara devosional dan tematis tanpa kajian eksegetis yang memadai. Akibatnya, makna teologis yang terkandung dalam pilihan kata, struktur puisi Ibrani, serta konteks historis teks kurang disampaikan secara utuh kepada jemaat. Selain itu, minimnya perhatian terhadap kritik teks dan analisis bahasa Ibrani menyebabkan penafsiran yang cenderung umum dan kurang berakar pada maksud asli pemazmur.

Padahal, pendekatan kritik teks dan analisis bahasa sangat penting untuk memahami nuansa makna kata-kata imperatif dalam teks ini, seperti הוֹדוּ (bersyukurlah), הוֹדִיעוּ (perkenalkanlah), dan זִכְרוּ (ingatlah). Kata-kata tersebut menunjukkan bahwa tindakan memperkenalkan perbuatan Tuhan bersifat aktif, disengaja, dan berorientasi keluar, yakni kepada bangsa-bangsa. Dengan demikian, Mazmur 105:1–6 memiliki dimensi teologis, pedagogis, dan misioner yang kuat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini dipandang penting untuk mengkaji Mazmur 105:1–6 secara lebih mendalam melalui pendekatan kritik teks dan analisis bahasa, serta mengintegrasikan hasil kajian tersebut ke dalam implikasi homiletis. Dengan demikian, teks Alkitab tidak hanya dipahami secara akademis, tetapi juga diberitakan secara setia dan relevan dalam kehidupan gereja.

 

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, beberapa permasalahan utama yang dapat diidentifikasi adalah sebagai berikut:

  1. Kurangnya kajian kritik teks terhadap Mazmur 105:1–6 dalam penelitian dan khotbah gerejawi.
  2. Terbatasnya pemahaman terhadap makna leksikal dan teologis istilah-istilah bahasa Ibrani dalam teks tersebut.
  3. Kecenderungan pemisahan antara studi eksegetis dan praktik homiletika dalam pemberitaan Firman.
  4. Belum optimalnya penggunaan Mazmur 105:1–6 sebagai dasar teologis untuk membangun kesadaran kesaksian jemaat.

 

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana bentuk dan karakter teks Mazmur 105:1–6 berdasarkan kajian kritik teks Perjanjian Lama?
  2. Apa makna leksikal, sintaksis, dan teologis dari istilah-istilah kunci dalam teks Ibrani Mazmur 105:1–6?
  3. Bagaimana pesan teologis Mazmur 105:1–6 tentang “memperkenalkan perbuatan Tuhan” dapat diimplementasikan dalam khotbah dan pengajaran gereja?

1.4 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menganalisis Mazmur 105:1–6 melalui pendekatan kritik teks untuk memperoleh pemahaman yang lebih akurat terhadap teks Alkitab.
  2. Mengkaji bahasa dan struktur sastra Mazmur 105:1–6 guna mengungkap pesan teologis yang terkandung di dalamnya.
  3. Merumuskan implikasi teologis dan homiletis dari Mazmur 105:1–6 bagi pemberitaan Firman di gereja.

1.5 Manfaat Penelitian

1.5.1 Manfaat Teoretis

Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian biblika Perjanjian Lama, khususnya dalam studi Mazmur sejarah, serta memberikan kontribusi bagi pengembangan metodologi eksegesis yang mengintegrasikan kritik teks, analisis bahasa, dan teologi.

1.5.2 Manfaat Praktis

Secara praktis, penelitian ini diharapkan menjadi bahan rujukan bagi pendeta, pengkhotbah, dan pengajar Alkitab dalam menyusun khotbah yang setia pada teks, berakar pada kajian ilmiah, dan relevan bagi kehidupan jemaat.

II. TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA TEORETIS

 

2.1 Tinjauan Umum Penelitian tentang Mazmur 105

Mazmur 105 telah mendapat perhatian luas dalam studi Perjanjian Lama, khususnya sebagai bagian dari mazmur sejarah (historical psalms). Para penafsir umumnya sepakat bahwa mazmur ini berfungsi sebagai sarana liturgis untuk mengingat dan mengajarkan kembali karya penyelamatan Allah dalam sejarah Israel, mulai dari panggilan Abraham hingga masuknya bangsa Israel ke tanah perjanjian.

Penelitian-penelitian terdahulu cenderung menekankan Mazmur 105 sebagai teks naratif-teologis yang bersifat retrospektif, yakni mengingat kembali perbuatan Allah di masa lalu untuk membangun iman umat di masa kini. Namun, bagian pembuka Mazmur 105:1–6 sering kali hanya dipahami sebagai pengantar liturgis, tanpa kajian mendalam terhadap struktur bahasa, kritik teks, dan implikasi teologisnya bagi kesaksian iman.

Beberapa tafsiran klasik menekankan fungsi Mazmur 105 sebagai pengajaran iman bagi generasi berikutnya, sedangkan tafsiran modern melihatnya sebagai bagian dari pembentukan identitas kolektif Israel pasca-pembuangan. Meskipun demikian, masih terdapat celah penelitian dalam mengkaji secara khusus Mazmur 105:1–6 dengan pendekatan terpadu yang mencakup kritik teks, analisis bahasa, dan homiletika.

2.2 Mazmur sebagai Sastra dan Teologi

2.2.1 Karakteristik Kitab Mazmur

Kitab Mazmur merupakan kumpulan puisi dan nyanyian yang mencerminkan kehidupan iman umat Israel dalam berbagai situasi sejarah. Secara sastra, Mazmur menggunakan bahasa puitis, paralelisme, metafora, dan struktur ritmis untuk menyampaikan pesan teologis. Oleh karena itu, penafsiran Mazmur menuntut perhatian khusus terhadap bentuk sastra dan struktur bahasanya.

Mazmur tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi emosional, tetapi juga sebagai sarana pendidikan teologis. Melalui mazmur, umat diajar untuk mengenal Allah, memahami karya-Nya, serta merespons-Nya dengan iman, syukur, dan ketaatan.

2.2.2 Mazmur Sejarah (Historical Psalms)

Mazmur sejarah merupakan jenis mazmur yang menarasikan kembali karya Allah dalam sejarah Israel. Mazmur 105 termasuk dalam kategori ini, bersama dengan Mazmur 78, 106, dan 136. Ciri utama mazmur sejarah adalah penekanan pada inisiatif dan kesetiaan Allah, bukan pada kehebatan manusia.

Mazmur 105 secara khusus menampilkan sejarah keselamatan sebagai bukti kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya. Pembukaan Mazmur 105:1–6 berfungsi sebagai ajakan teologis agar umat tidak melupakan karya Allah dan secara aktif memperkenalkannya kepada bangsa-bangsa.

2.3 Teori Kritik Teks Perjanjian Lama

2.3.1 Pengertian dan Tujuan Kritik Teks

Kritik teks Perjanjian Lama merupakan disiplin ilmu yang bertujuan untuk merekonstruksi teks Alkitab sedekat mungkin dengan bentuk aslinya. Hal ini dilakukan melalui perbandingan berbagai tradisi naskah, mengingat tidak adanya manuskrip asli (autograph) yang masih tersedia.

Tujuan utama kritik teks bukan untuk meragukan keabsahan Alkitab, melainkan untuk memahami teks secara lebih akurat dan bertanggung jawab secara ilmiah.

2.3.2 Tradisi Naskah Perjanjian Lama

Beberapa tradisi naskah utama yang relevan dalam kritik teks Mazmur 105 adalah:

  1. Teks Masoret (MT) Merupakan teks Ibrani standar yang menjadi dasar sebagian besar terjemahan Alkitab modern.
  2. Septuaginta (LXX) Terjemahan Yunani kuno yang kadang memperlihatkan perbedaan redaksi dan pilihan kata.
  3. Targum dan Peshitta Terjemahan Aram dan Siria yang membantu memahami tradisi penafsiran awal.
  4. Naskah Laut Mati (Qumran) Memberikan bukti tekstual yang lebih tua dan berguna untuk membandingkan stabilitas teks Mazmur.

 

2.3.3 Prinsip-Prinsip Kritik Teks

Dalam penelitian ini digunakan beberapa prinsip dasar kritik teks, antara lain:

  • Lectio difficilior potior (bacaan yang lebih sulit sering kali lebih asli)
  • Lectio brevior potior (bacaan yang lebih singkat sering kali lebih awal)
  • Konsistensi konteks sastra dan teologis

Prinsip-prinsip ini membantu mengevaluasi variasi teks dalam Mazmur 105:1–6.

2.4 Teori Analisis Bahasa Ibrani

2.4.1 Analisis Leksikal

Analisis leksikal bertujuan untuk mengkaji makna kata dalam konteksnya. Dalam Mazmur 105:1–6, beberapa kata kunci seperti הוֹדוּ (bersyukur), הוֹדִיעוּ (memperkenalkan), dan זִכְרוּ (mengingat) memiliki makna teologis yang kaya dan tidak dapat dipahami secara memadai tanpa analisis bahasa aslinya.

2.4.2 Analisis Morfologi dan Sintaksis

Analisis morfologi meneliti bentuk kata, sedangkan analisis sintaksis mengkaji hubungan antarkata dalam kalimat. Dalam Mazmur 105:1–6, penggunaan bentuk imperatif jamak menunjukkan bahwa seruan pemazmur ditujukan kepada komunitas umat, bukan individu semata.

2.4.3 Analisis Semantik dan Wacana

Analisis semantik dan wacana membantu memahami bagaimana rangkaian perintah dalam teks membentuk alur teologis. Urutan imperatif dalam Mazmur 105:1–6 memperlihatkan progresi iman dari respons batiniah (syukur) menuju tindakan keluar (kesaksian).

 

2.5 Teologi Ingatan dan Kesaksian dalam Perjanjian Lama

Dalam teologi Perjanjian Lama, mengingat karya Allah merupakan tindakan iman yang esensial. Ingatan bukan sekadar aktivitas mental, melainkan komitmen teologis untuk hidup berdasarkan karya Allah di masa lalu. Konsep ini tampak jelas dalam perintah untuk mengingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan menceritakannya kepada generasi berikutnya.

Mazmur 105:1–6 mengaitkan ingatan dengan kesaksian. Umat yang mengingat karya Allah dipanggil untuk memperkenalkannya kepada bangsa-bangsa, sehingga iman tidak bersifat tertutup, melainkan bersifat misioner.

2.6 Teori Homiletika Berbasis Teks

2.6.1 Khotbah sebagai Proklamasi Firman

Homiletika memandang khotbah sebagai proklamasi Firman Allah yang berakar pada teks Alkitab. Oleh karena itu, khotbah yang bertanggung jawab harus lahir dari eksegesis yang cermat.

2.6.2 Khotbah Ekspositori

Khotbah ekspositori menempatkan teks Alkitab sebagai pusat pemberitaan. Dalam pendekatan ini, struktur dan pesan khotbah mengikuti struktur dan pesan teks. Mazmur 105:1–6 sangat sesuai untuk pendekatan ini karena memiliki struktur imperatif yang jelas dan progresif.

2.7 Kerangka Teoretis Penelitian

Berdasarkan tinjauan pustaka di atas, penelitian ini dibangun di atas tiga pilar teoretis utama:

  1. Kritik Teks Perjanjian Lama untuk memastikan keandalan teks Mazmur 105:1–6.
  2. Analisis Bahasa dan Sastra Ibrani untuk mengungkap makna teologis teks.
  3. Homiletika Berbasis Eksegesis untuk mengaplikasikan pesan teks dalam khotbah.

Ketiga pilar ini digunakan secara terpadu untuk memahami dan memberitakan Mazmur 105:1–6 secara setia, mendalam, dan relevan.

III.KRITIK TEKS MAZMUR 105:1–6

3.1 Pendahuluan Kritik Teks

Kritik teks merupakan langkah awal yang fundamental dalam studi eksegetis Perjanjian Lama. Tanpa pemahaman yang memadai mengenai kondisi dan tradisi teks, penafsiran teologis berisiko berdiri di atas pembacaan yang tidak akurat. Oleh karena itu, sebelum melakukan analisis bahasa dan teologi Mazmur 105:1–6, penelitian ini terlebih dahulu mengkaji teks secara kritis berdasarkan tradisi naskah yang tersedia.

Mazmur 105:1–6 berfungsi sebagai pembukaan liturgis yang menentukan arah teologis seluruh mazmur. Bagian ini terdiri dari serangkaian imperatif yang menuntun umat untuk bersyukur, memanggil nama TUHAN, memperkenalkan perbuatan-perbuatan-Nya, menyanyi bagi-Nya, bermegah di dalam Dia, mencari TUHAN, dan mengingat karya-Nya. Kepadatan teologis ini menuntut pembacaan teks yang cermat dan bertanggung jawab.

3.2 Tradisi Teks Mazmur 105

3.2.1 Teks Masoret (MT)

Teks Masoret merupakan sumber utama bagi penelitian ini. Mazmur 105 dalam MT termasuk dalam Kumpulan Mazmur IV (Mazmur 90–106). Teks Masoret menunjukkan stabilitas yang relatif tinggi dalam kitab Mazmur, meskipun tetap ditemukan variasi kecil dalam tradisi penyalinan.

Mazmur 105:1–6 dalam MT disusun dengan pola paralelisme puitis dan penggunaan imperatif jamak maskulin, yang menunjukkan bahwa seruan ini ditujukan kepada komunitas umat secara kolektif.

3.2.2 Septuaginta (LXX)

Dalam Septuaginta, Mazmur 105 MT bernomor sebagai Mazmur 104 LXX. Perbedaan penomoran ini perlu diperhatikan dalam studi perbandingan teks. LXX sering kali memperlihatkan kecenderungan interpretatif, bukan sekadar terjemahan literal.

Pada Mazmur 105:1–6, LXX secara umum mengikuti MT, tetapi terdapat perbedaan nuansa dalam pilihan kata Yunani, khususnya pada istilah yang berkaitan dengan “memperkenalkan” dan “mengingat”.

3.2.3 Tradisi Lain: Targum, Peshitta, dan Qumran

·        Targum Mazmur menunjukkan kecenderungan parafrastik dan teologis, sering kali menambahkan unsur penafsiran eksplisit.

·        Peshitta Siria cenderung dekat dengan MT tetapi memberikan wawasan tentang pemahaman komunitas Kristen awal berbahasa Siria.

·        Naskah Laut Mati (Qumran) memperlihatkan bahwa teks Mazmur sudah cukup stabil sebelum periode Masoret, meskipun ada variasi minor dalam ejaan dan susunan kata.

3.3 Prinsip Metodologis Kritik Teks yang Digunakan

Penelitian ini menggunakan prinsip-prinsip kritik teks klasik Perjanjian Lama, antara lain:

1.     Lectio difficilior potior – Bacaan yang lebih sulit sering kali lebih asli.

2.     Lectio brevior potior – Bacaan yang lebih singkat cenderung lebih awal.

3.     Koherensi kontekstual – Bacaan harus sesuai dengan konteks sastra dan teologi mazmur.

4.     Konsistensi gaya penulis – Imperatif beruntun merupakan ciri khas liturgi mazmur.

3.4 Kritik Teks Ayat demi Ayat

3.4.1 Mazmur 105:1

Teks Ibrani (MT):
הוֹדוּ לַיהוָה קִרְאוּ בִשְׁמוֹ הוֹדִיעוּ בָעַמִּים עֲלִילוֹתָיו

a. Analisis Bentuk Teks

Ayat ini terdiri dari tiga imperatif jamak:

1.     הוֹדוּ – bersyukurlah

2.     קִרְאוּ – panggillah

3.     הוֹדִיעוּ – perkenalkanlah

Struktur ini menunjukkan progresi dari ibadah internal menuju kesaksian eksternal.

b. Perbandingan dengan LXX

LXX menggunakan kata ἐξομολογεῖσθε (mengaku/bersyukur), yang memiliki nuansa pengakuan publik. Ini memperkuat gagasan bahwa “syukur” bersifat deklaratif, bukan privat.

c. Isu Kritik Teks

Tidak terdapat variasi signifikan dalam naskah, namun pilihan kata הוֹדִיעוּ (Hifil) menegaskan tindakan aktif: umat menyebabkan bangsa-bangsa mengetahui karya Allah.

3.4.2 Mazmur 105:2

Teks Ibrani:
שִׁירוּ־לוֹ זַמְּרוּ־לוֹ שִׂיחוּ בְּכָל־נִפְלְאוֹתָיו

Ayat ini melanjutkan pola imperatif, kini dengan fokus liturgis dan pedagogis.

a. Variasi Teks

Sebagian tradisi terjemahan menggabungkan שִׁירוּ dan זַמְּרוּ sebagai sinonim, namun MT mempertahankan keduanya untuk penekanan intensitas pujian.

b. Implikasi Kritik Teks

Tidak ada indikasi interpolasi; pengulangan justru merupakan gaya puitis Ibrani.

3.4.3 Mazmur 105:3

Teks Ibrani:
הִתְהַלְלוּ בְּשֵׁם קָדְשׁוֹ יִשְׂמַח לֵב מְבַקְשֵׁי יְהוָה

a. Isu Semantik

Kata הִתְהַלְלוּ (bermegahlah) sering disalahpahami sebagai kesombongan manusia. Kritik teks dan konteks menunjukkan bahwa kemegahan diarahkan eksklusif kepada Nama TUHAN.

b. LXX dan Tradisi Awal

LXX menggunakan καυχᾶσθε, yang dalam konteks Yunani memiliki nuansa positif jika objeknya adalah Allah.

3.4.4 Mazmur 105:4

Teks Ibrani:
דִּרְשׁוּ יְהוָה וְעֻזּוֹ בַּקְּשׁוּ פָנָיו תָּמִיד

a. Variasi Minor

Beberapa manuskrip menunjukkan variasi ejaan pada עֻזּוֹ, tetapi tidak mengubah makna.

b. Teologi dalam Kritik Teks

Kata תָּמִיד (senantiasa) menegaskan bahwa pencarian akan TUHAN bersifat berkelanjutan, bukan sesaat.

3.4.5 Mazmur 105:5

Teks Ibrani:
זִכְרוּ נִפְלְאוֹתָיו אֲשֶׁר־עָשָׂה מֹפְתָיו וּמִשְׁפְּטֵי־פִיו

a. Kata Kunci: זִכְרוּ

Dalam kritik teks, kata ini tidak pernah digantikan dengan sinonim lain, menunjukkan stabilitas konsep “ingat” dalam tradisi Israel.

b. LXX

LXX menambahkan nuansa hukum pada מִשְׁפְּטֵי־פִיו, menekankan otoritas firman Allah.

3.4.6 Mazmur 105:6

Teks Ibrani:
זֶרַע אַבְרָהָם עַבְדּוֹ בְּנֵי יַעֲקֹב בְּחִירָיו

a. Fungsi Redaksional

Ayat ini mengikat seruan universal (bangsa-bangsa) dengan identitas partikular Israel sebagai umat pilihan.

b. Isu Kritik Teks

Tidak ada varian signifikan; stabilitas ayat ini menunjukkan pentingnya identitas perjanjian.

3.5 Evaluasi Keseluruhan Kritik Teks

Dari seluruh analisis di atas, dapat disimpulkan bahwa:

1.     Teks Mazmur 105:1–6 relatif stabil dalam tradisi naskah.

2.     Tidak terdapat varian tekstual yang mengubah pesan teologis utama.

3.     Kritik teks justru menegaskan intensitas misioner dan pedagogis teks.

3.6 Implikasi Kritik Teks bagi Eksegesis dan Khotbah

Kritik teks memperlihatkan bahwa seruan “memperkenalkan perbuatan Tuhan” bukan hasil interpretasi modern, melainkan tertanam kuat dalam teks asli. Dengan demikian, khotbah yang lahir dari Mazmur 105:1–6 harus bersifat:

·        Berakar pada karya Allah

·        Bersifat publik dan misioner

·        Berorientasi pada pewarisan iman

3.7 Mazmur 105:1–6 dalam Kerangka Redaksional Kitab Mazmur

3.7.1 Posisi Mazmur 105 dalam Buku IV Mazmur

Mazmur 105 terletak dalam Buku IV Kitab Mazmur (Mazmur 90–106), suatu bagian yang secara teologis menegaskan kembali kedaulatan dan kesetiaan TUHAN setelah trauma pembuangan. Dalam konteks redaksional ini, Mazmur 105 berfungsi sebagai pengingat bahwa sejarah Israel tidak ditentukan oleh kegagalan umat, melainkan oleh kesetiaan Allah terhadap perjanjian-Nya.

Pembukaan Mazmur 105:1–6 memiliki fungsi strategis, karena menjadi kerangka hermeneutis bagi seluruh narasi sejarah yang akan diuraikan dalam ayat-ayat selanjutnya. Oleh sebab itu, kritik teks atas bagian pembuka ini menjadi sangat penting.

3.7.2 Indikasi Redaksi Liturgis

Banyak sarjana menilai bahwa Mazmur 105:1–6 kemungkinan digunakan dalam konteks liturgi nasional atau perayaan perjanjian. Hal ini terlihat dari:

·        penggunaan imperatif jamak

·        pengulangan kata kerja pujian

·        seruan identitas umat (ay. 6)

Kritik teks menunjukkan bahwa bentuk ini bukan hasil redaksi belakangan, melainkan bagian integral dari teks awal, karena konsisten di semua tradisi naskah utama.

3.8 Analisis Filologis dan Kritik Penyalinan

3.8.1 Pola Imperatif Beruntun dan Stabilitas Teks

Salah satu ciri khas Mazmur 105:1–6 adalah rangkaian imperatif tanpa konjungsi naratif panjang. Dalam kritik teks, struktur seperti ini rawan:

·        penghilangan kata oleh penyalin

·        harmonisasi dengan mazmur lain

·        penyederhanaan gaya

Namun, data tekstual menunjukkan bahwa rangkaian imperatif ini dipertahankan secara konsisten, yang memperkuat keasliannya.

3.8.2 Potensi Kesalahan Penyalinan (Scribal Errors)

Secara teoritis, beberapa potensi kesalahan penyalinan yang mungkin terjadi dalam teks ini meliputi:

1.     Haplografi
→ Tidak ditemukan bukti penghilangan kata penting.

2.     Dittografi
→ Pengulangan kata justru bersifat stilistis, bukan kesalahan.

3.     Harmonisasi Liturgis → Tidak ada indikasi penyelarasan paksa dengan Mazmur 96 atau 136, meskipun terdapat kesamaan tema.

Dengan demikian, kritik teks menilai teks Mazmur 105:1–6 memiliki tingkat transmisi yang sangat baik.

3.9 Kritik Teks Ayat demi Ayat (Pendalaman Lanjutan)

3.9.1 Mazmur 105:1 – Kritik Tekstual Mendalam

a. Struktur Sintagmatis

Tiga imperatif utama (hodu – qir’u – hodi‘u) membentuk satu kesatuan sintaksis yang tidak dapat dipisahkan. Dalam kritik teks, tidak ditemukan naskah yang menghilangkan salah satu unsur ini, menunjukkan bahwa ketiganya merupakan elemen teologis esensial.

b. Isu Terjemahan LXX

LXX menerjemahkan hodi‘u dengan kata kerja yang menekankan “pewartaan”, bukan sekadar “informasi”. Hal ini menunjukkan bahwa penerjemah memahami ayat ini secara misioner.

Implikasi kritik teks: memperkenalkan perbuatan Tuhan bukan aktivitas opsional, melainkan mandat liturgis.

3.9.2 Mazmur 105:2 – Paralelisme dan Intensifikasi

Kritik teks menunjukkan bahwa pengulangan šîrû dan zammerû bukan hasil kesalahan penyalinan, tetapi bentuk paralelisme intensif.

Dalam beberapa tradisi terjemahan modern, salah satu kata ini disederhanakan, namun MT mempertahankan keduanya. Kritik teks mendukung bacaan MT karena:

·        konsisten dengan gaya mazmur pujian

·        selaras dengan fungsi liturgis

3.9.3 Mazmur 105:3 – Kritik Makna “Bermegah”

Dalam sejarah penafsiran, ayat ini kadang dipahami secara moralistik. Kritik teks menegaskan bahwa:

·        objek kemegahan (bĕšēm qodšô) tidak pernah dipindahkan

·        tidak ada varian yang mengarahkan kemegahan kepada manusia

Dengan demikian, teks asli secara eksplisit mencegah penyalahgunaan teologis.

3.9.4 Mazmur 105:4 – Dimensi Kontinuitas Iman

Kata tamid (“senantiasa”) sering diabaikan dalam pembacaan devosional. Kritik teks menunjukkan bahwa kata ini hadir di seluruh tradisi utama tanpa variasi, menandakan pentingnya konsep pencarian Allah yang berkelanjutan.

3.9.5 Mazmur 105:5 – Ingatan sebagai Kategori Teologis

Kritik teks memperlihatkan bahwa zikru selalu muncul dalam bentuk imperatif, tidak pernah naratif. Ini menunjukkan bahwa “mengingat” adalah tindakan aktif dan disengaja, bukan sekadar refleksi pasif.

3.9.6 Mazmur 105:6 – Identitas Umat dan Eksklusivitas Perjanjian

Tidak ada varian yang mengganti “keturunan Abraham” atau “anak-anak Yakub”. Kritik teks menegaskan bahwa identitas perjanjian merupakan fondasi teologis mazmur ini, bukan tambahan belakangan.

3.10 Sintesis Kritik Teks Mazmur 105:1–6

Dari keseluruhan analisis kritik teks, dapat disintesiskan beberapa temuan utama:

1.     Stabilitas teks sangat tinggi, khususnya pada istilah teologis utama.

2.     Tidak ada varian yang melemahkan mandat kesaksian.

3.     Struktur imperatif menunjukkan maksud liturgis dan pedagogis yang jelas.

4.     Kritik teks mendukung pembacaan misioner Mazmur 105:1–6.

3.11 Kontribusi Kritik Teks terhadap Penafsiran Teologis

Kritik teks tidak hanya bersifat teknis, tetapi:

·        melindungi teks dari interpretasi subjektif

·        memastikan bahwa khotbah berdiri di atas Firman, bukan opini

·        menegaskan bahwa mandat memperkenalkan perbuatan Tuhan berasal dari teks asli

IV. ANALISIS BAHASA IBRANI DAN EKSEGETIS MAZMUR 105:1–6

4.1 Pendahuluan Analisis Bahasa dan Eksegesis

Setelah kritik teks pada BAB III menunjukkan bahwa Mazmur 105:1–6 memiliki stabilitas tekstual yang tinggi dan tidak mengalami distorsi redaksional yang signifikan, maka langkah berikutnya adalah melakukan analisis bahasa dan eksegetis secara mendalam. Analisis ini bertujuan untuk menggali makna teks berdasarkan bahasa aslinya (Ibrani), struktur puisi, relasi sintaksis, serta muatan semantik dan teologis yang terkandung di dalamnya.

Dalam tradisi studi Perjanjian Lama, analisis bahasa bukan sekadar kegiatan linguistik, melainkan sarana untuk memahami bagaimana wahyu Allah dikomunikasikan melalui bahasa manusia. Oleh karena itu, analisis Mazmur 105:1–6 harus dilakukan dengan memperhatikan bahwa teks ini merupakan puisi liturgis yang sarat dengan makna teologis, bukan prosa naratif biasa.

4.2 Struktur Sastra Mazmur 105:1–6

4.2.1 Mazmur 105:1–6 sebagai Unit Sastra Mandiri

Mazmur 105:1–6 membentuk satu unit sastra yang utuh dan koheren. Secara struktural, ayat-ayat ini berfungsi sebagai:

  1. Panggilan liturgis (call to worship)
  2. Kerangka teologis bagi keseluruhan mazmur
  3. Fondasi pedagogis untuk narasi sejarah selanjutnya

Struktur ini ditandai oleh rangkaian imperatif jamak yang mengikat seluruh ayat menjadi satu seruan kolektif.

4.2.2 Pola Paralelisme Ibrani

Puisi Ibrani tidak bergantung pada rima, melainkan pada paralelisme makna. Dalam Mazmur 105:1–6 ditemukan beberapa jenis paralelisme:

  1. Paralelisme sinonim
    • שִׁירוּ לוֹ // זַמְּרוּ לוֹ
  2. Paralelisme sintetis
    • seruan → alasan → identitas umat
  3. Paralelisme klimaks
    • syukur → kesaksian → pencarian → ingatan → identitas

Paralelisme ini menunjukkan progresi iman yang disengaja.

4.3 Analisis Morfologi dan Sintaksis Mazmur 105:1–6

4.3.1 Dominasi Bentuk Imperatif Jamak

Salah satu ciri paling menonjol dari Mazmur 105:1–6 adalah penggunaan kata kerja imperatif jamak maskulin secara beruntun. Bentuk ini menunjukkan bahwa:

  • seruan ditujukan kepada komunitas
  • iman bersifat komunal
  • tanggung jawab kesaksian bersifat kolektif

Imperatif yang muncul antara lain:

  • הוֹדוּ (bersyukurlah)
  • קִרְאוּ (panggillah)
  • הוֹדִיעוּ (perkenalkanlah)
  • שִׁירוּ (menyanyilah)
  • זִכְרוּ (ingatlah)

4.3.2 Urutan Sintaksis sebagai Teologi Tindakan

Urutan imperatif tidak bersifat acak. Secara sintaksis dan teologis, urutan ini menunjukkan tahapan iman:

  1. Respons batiniah (syukur)
  2. Pengakuan verbal (memanggil nama TUHAN)
  3. Kesaksian publik (memperkenalkan perbuatan-Nya)
  4. Pujian liturgis (menyanyi dan bermeditasi)
  5. Orientasi hidup (mencari TUHAN)
  6. Memori iman (mengingat karya Allah)

4.4 Analisis Leksikal dan Semantik Ayat demi Ayat

4.4.1 Mazmur 105:1 – Bahasa Kesaksian yang Aktif

הוֹדוּ לַיהוָה (hodû laYHWH)
Kata יָדָה dalam bentuk Hifil imperatif tidak hanya berarti “mengucap syukur”, tetapi juga “mengaku secara terbuka”. Ini menunjukkan bahwa syukur bersifat deklaratif dan publik.

הוֹדִיעוּ בָעַמִּים עֲלִילוֹתָיו
Kata הוֹדִיעוּ (Hifil) menekankan tindakan aktif: umat menyebabkan bangsa-bangsa mengetahui karya Allah. Ini bukan penyebaran informasi netral, tetapi pewartaan iman.

Secara semantik, ayat ini mengandung dimensi misi universal.

4.4.2 Mazmur 105:2 – Bahasa Liturgi dan Pendidikan Iman

שִׂיחוּ בְּכָל־נִפְלְאוֹתָיו
Kata שִׂיחוּ berarti “merenungkan dengan suara”, bukan sekadar berpikir dalam hati. Ini menunjukkan bahwa perbuatan Tuhan harus dibicarakan, diceritakan, dan diajarkan.

Kata נִפְלְאוֹת berasal dari akar פלא (ajaib, melampaui kemampuan manusia). Secara teologis, ini menekankan transendensi karya Allah.

4.4.3 Mazmur 105:3 – Kemegahan yang Teosentris

הִתְהַלְלוּ בְּשֵׁם קָדְשׁוֹ
Kata הִתְהַלְלוּ (Hitpael) menunjukkan tindakan reflektif: umat menemukan identitas dan sukacita mereka di dalam Nama TUHAN.

Kemegahan di sini bukan antropologis, melainkan teologis.

4.4.4 Mazmur 105:4 – Bahasa Pencarian Relasional

דִּרְשׁוּ יְהוָה וְעֻזּוֹ
Kata דָּרַשׁ berarti mencari dengan intensionalitas dan ketekunan. Ini bukan pencarian intelektual semata, tetapi relasional.

בַּקְּשׁוּ פָנָיו תָּמִיד
Mencari wajah TUHAN berarti mencari kehadiran-Nya, bukan sekadar berkat-Nya.

4.4.5 Mazmur 105:5 – Ingatan sebagai Praktik Teologis

זִכְרוּ נִפְלְאוֹתָיו
Ingatan (זָכַר) dalam PL selalu berkaitan dengan ketaatan dan kesetiaan. Mengingat berarti hidup sesuai dengan karya Allah.

Kata מֹפְתָיו (tanda-tanda) menegaskan bahwa sejarah Israel adalah ruang pewahyuan Allah.

4.4.6 Mazmur 105:6 – Bahasa Identitas Perjanjian

זֶרַע אַבְרָהָם עַבְדּוֹ
Identitas umat ditentukan oleh relasi perjanjian, bukan prestasi moral.

Kata בְּחִירָיו (orang-orang pilihan-Nya) menegaskan inisiatif ilahi.

4.5 Analisis Wacana dan Alur Teologis

Secara wacana, Mazmur 105:1–6 membangun narasi iman:

  • Allah bertindak
  • umat mengingat
  • umat bersaksi
  • umat hidup dalam relasi

Bahasa yang digunakan menolak iman yang pasif dan privat.

4.6 Tema Teologis Utama dalam Analisis Bahasa

  1. Teologi Kesaksian
  2. Teologi Ingatan
  3. Teologi Perjanjian
  4. Teologi Misi dalam PL

Mazmur 105:1–6 menunjukkan bahwa misi bukan konsep PB semata, tetapi berakar kuat dalam PL.

4.7 Relevansi Hermeneutis bagi Gereja Masa Kini

Analisis bahasa menegaskan bahwa:

  • iman tidak boleh dibungkam
  • gereja dipanggil untuk mengajar dan bersaksi
  • khotbah harus berangkat dari teks, bukan tema

4.8 Sintesis Eksegetis Mazmur 105:1–6

Mazmur 105:1–6 menyatakan bahwa memperkenalkan perbuatan Tuhan adalah:

  • perintah eksplisit
  • tindakan komunal
  • ekspresi iman sejati
  • bagian dari identitas umat perjanjian

Bab ini menunjukkan bahwa analisis bahasa Ibrani dan eksegesis Mazmur 105:1–6 membuka kedalaman teologis yang tidak terlihat dalam pembacaan permukaan. Bahasa puisi, struktur sintaksis, dan pilihan leksikal pemazmur menyatakan dengan jelas bahwa iman yang hidup adalah iman yang mengingat, memuji, dan memperkenalkan perbuatan Tuhan kepada dunia.

4.9 Analisis Gramatikal Mendalam: Kata Kerja Imperatif dalam Mazmur 105:1–6

4.9.1 Tabel Analisis Morfologi Kata Kerja Utama

Ayat

Kata Ibrani

Akar

Binyan

Bentuk

Makna Gramatikal

1

הוֹדוּ

ידה

Hifil

Imperatif mp

Mengaku / menyatakan syukur

1

קִרְאוּ

קרא

Qal

Imperatif mp

Memanggil secara verbal

1

הוֹדִיעוּ

ידע

Hifil

Imperatif mp

Menyebabkan orang lain mengetahui

2

שִׁירוּ

שיר

Qal

Imperatif mp

Menyanyi

2

שִׂיחוּ

שיח

Qal

Imperatif mp

Merenungkan dengan ucapan

5

זִכְרוּ

זכר

Qal

Imperatif mp

Mengingat secara aktif

Implikasi linguistik:
Semua kata kerja utama berbentuk imperatif jamak maskulin, menegaskan bahwa:

  • subjeknya adalah umat secara kolektif
  • tidak ada satu pun bentuk opsional
  • teks bersifat normatif, bukan deskriptif

4.10 Analisis Sintaksis Makro: Imperatif sebagai Rangka Teologi

4.10.1 Imperatif dan Teologi Perintah

Dalam PL, imperatif sering kali bukan sekadar perintah moral, tetapi:

  • ekspresi relasi perjanjian
  • respons terhadap tindakan Allah

Mazmur 105:1–6 tidak diawali dengan perintah etis, melainkan dengan perintah liturgis dan naratif, yang berarti:

ketaatan dimulai dari pengenalan akan karya Allah

4.10.2 Urutan Imperatif sebagai Alur Iman

Secara sintaksis, urutan perintah membentuk teologi progresif:

  1. הוֹדוּ – respons iman
  2. קִרְאוּ – pengakuan iman
  3. הוֹדִיעוּ – kesaksian iman
  4. שִׁירוּ / שִׂיחוּ – perayaan iman
  5. דִּרְשׁוּ – orientasi hidup
  6. זִכְרוּ – kontinuitas iman

Kesimpulan sintaksis:
Iman yang tidak sampai pada kesaksian adalah iman yang terhenti di tengah jalan.

4.11 Analisis Semantik Istilah Kunci (Pendalaman)

4.11.1 “Mengingat” (זָכַר) dalam Teologi PL

Dalam PL, zakar tidak pernah netral. Kata ini:

  • selalu terkait dengan tindakan
  • sering diikuti ketaatan

Contoh paralel:

  • Kel. 20:8 – “Ingatlah hari Sabat” → hidup sesuai hukum
  • Ul. 8:2 – “Ingatlah perjalananmu” → rendah hati

Dalam Mazmur 105:5, zakar berarti:

membiarkan sejarah keselamatan membentuk kehidupan kini

4.11.2 “Memperkenalkan” (הוֹדִיעוּ) sebagai Bahasa Misi

Akar ידע (mengetahui) dalam Hifil berarti:

menyebabkan orang lain masuk ke dalam pengenalan

Ini bukan pengetahuan kognitif, melainkan:

  • pengenalan relasional
  • pengenalan eksistensial

Teologi penting:
Mazmur 105 menunjukkan bahwa misi bukan dimulai di PB, tetapi berakar dalam ibadah Israel.

4.12 Analisis Wacana (Discourse Analysis)

4.12.1 Subjek Implisit dan Audiens Ganda

Teks ini memiliki dua audiens:

  1. Umat Israel (subjek imperatif)
  2. Bangsa-bangsa (objek kesaksian)

Wacana ini menciptakan dinamika:

  • ke dalam (pembentukan identitas)
  • ke luar (kesaksian universal)

4.12.2 Ayat 6 sebagai Penutup Wacana

Ayat 6 bukan informasi baru, tetapi:

  • deklarasi identitas
  • legitimasi teologis perintah sebelumnya

Tanpa ayat 6, kesaksian kehilangan dasar perjanjian.

4.13 Perbandingan Tafsiran Para Penafsir (Contoh Akademik)

4.13.1 Tafsiran Klasik (Calvin)

Calvin menekankan bahwa:

mengingat karya Allah adalah sarana menjaga iman dari kejatuhan

Namun Calvin kurang mengembangkan dimensi misioner ayat 1.

4.13.2 Tafsiran Modern (Goldingay, Kraus)

Goldingay melihat Mazmur 105:1–6 sebagai:

deklarasi iman publik yang membentuk komunitas penyembah

Kraus menekankan fungsi liturgis dan historis.

Sintesis:
Analisis bahasa menunjukkan bahwa kedua pendekatan ini benar, tetapi belum cukup tanpa pendekatan linguistik.

4.14 Analisis Intertekstual

4.14.1 Paralel dengan 1 Tawarikh 16:8–12

Teks ini hampir identik, menunjukkan:

  • penggunaan liturgis resmi
  • stabilitas teologis

Namun Mazmur 105 lebih puitis dan reflektif.

4.14.2 Paralel dengan Mazmur 96

Mazmur 96 memerintahkan:

“Ceritakanlah kemuliaan-Nya di antara bangsa-bangsa”

Ini menunjukkan satu tradisi teologi kesaksian dalam Kitab Mazmur.

4.15 Implikasi Teologis dari Analisis Bahasa

  1. Allah dikenal melalui karya-Nya
  2. Umat dibentuk melalui ingatan
  3. Kesaksian adalah konsekuensi iman
  4. Ibadah dan misi tidak terpisah

4.16 Relevansi Hermeneutis bagi Pemberitaan Firman

Analisis ini menuntut agar:

  • khotbah tidak berhenti pada aplikasi moral
  • gereja memberitakan karya Allah, bukan pengalaman subjektif
  • iman diajarkan sebagai narasi, bukan slogan

V. IMPLIKASI TEOLOGIS DAN HOMILETIS MAZMUR 105:1–6

5.1 Pendahuluan Bab V

Setelah dilakukan kritik teks (BAB III) dan analisis bahasa serta eksegesis mendalam (BAB IV), maka tahap selanjutnya adalah menarik implikasi teologis dan homiletis dari Mazmur 105:1–6. Tahap ini sangat penting karena penelitian teologi biblika tidak berhenti pada pemahaman teks secara akademis, tetapi harus berujung pada pemaknaan iman dan praksis gerejawi.

Mazmur 105:1–6 tidak hanya menyampaikan informasi teologis tentang Allah, tetapi memanggil umat untuk merespons karya Allah secara aktif melalui syukur, ingatan, pencarian, dan kesaksian. Oleh karena itu, implikasi yang ditarik dari teks ini mencakup dua ranah utama:

  1. Implikasi teologis (apa yang teks ini ajarkan tentang Allah, umat, dan relasi keduanya), dan
  2. Implikasi homiletis (bagaimana teks ini diberitakan secara setia dan relevan dalam khotbah).

5.2 Implikasi Teologis Mazmur 105:1–6

5.2.1 Allah sebagai Subjek Utama Sejarah Keselamatan

Mazmur 105:1–6 secara konsisten menempatkan Allah sebagai subjek utama dalam seluruh narasi iman. Umat tidak dipanggil untuk memperkenalkan diri mereka, melainkan memperkenalkan perbuatan-perbuatan Tuhan. Hal ini mengandung implikasi teologis penting bahwa:

  1. Sejarah keselamatan bukan hasil inisiatif manusia.
  2. Identitas umat dibentuk oleh tindakan Allah, bukan prestasi umat.
  3. Pusat iman bukan pengalaman religius subjektif, melainkan karya objektif Allah dalam sejarah.

Teologi ini menentang kecenderungan antropo-sentris dalam pemberitaan Firman yang menempatkan manusia sebagai tokoh utama. Mazmur 105:1–6 mengoreksi arah tersebut dengan menegaskan bahwa Allah adalah aktor utama, sementara umat adalah saksi.

5.2.2 Teologi Ingatan sebagai Fondasi Iman

Perintah “ingatlah” (זִכְרוּ) dalam Mazmur 105:5 menunjukkan bahwa iman alkitabiah sangat bergantung pada ingatan teologis. Ingatan di sini bukan sekadar memori psikologis, melainkan tindakan iman yang aktif dan normatif.

Implikasi teologisnya adalah:

  1. Iman tidak dapat dipisahkan dari sejarah.
  2. Lupa akan karya Allah adalah awal kemerosotan iman.
  3. Pengajaran iman harus berbasis narasi karya Allah, bukan hanya prinsip moral.

Dengan demikian, gereja dipanggil menjadi komunitas yang mengingat dan mewariskan ingatan iman, bukan sekadar komunitas aktivitas religius.

5.2.3 Teologi Kesaksian sebagai Panggilan Komunal

Mazmur 105:1 menggunakan bentuk imperatif jamak dan menyebut bangsa-bangsa (בָעַמִּים), yang menunjukkan bahwa kesaksian bukan tugas individual semata, melainkan panggilan kolektif umat Allah.

Implikasi teologisnya:

  1. Kesaksian adalah bagian dari identitas umat perjanjian.
  2. Ibadah sejati selalu memiliki dimensi keluar (ekstroversif).
  3. Tidak ada dikotomi antara ibadah dan misi.

Mazmur ini menunjukkan bahwa misi lahir dari ibadah, dan ibadah yang sejati selalu menghasilkan kesaksian.

5.2.4 Teologi Perjanjian dan Identitas Umat

Ayat 6 menegaskan identitas umat sebagai “keturunan Abraham” dan “orang-orang pilihan-Nya”. Identitas ini bukan dasar eksklusivisme, melainkan dasar tanggung jawab.

Implikasinya:

  1. Pemilihan Allah bersifat fungsional, bukan privilese kosong.
  2. Umat dipilih untuk menjadi alat pewahyuan Allah.
  3. Kesaksian kepada bangsa-bangsa berakar pada perjanjian, bukan ambisi ekspansi.

Dengan demikian, teologi pemilihan dalam Mazmur 105 bersifat misioner, bukan eksklusif.

5.3 Implikasi Eklesiologis (Bagi Gereja)

5.3.1 Gereja sebagai Komunitas Ingatan

Gereja dipanggil menjadi komunitas yang:

  • mengingat karya Allah dalam Kitab Suci,
  • mengenang karya Allah dalam sejarah gereja,
  • dan mengenali karya Allah dalam kehidupan jemaat.

Liturgi, katekisasi, dan khotbah seharusnya membentuk memori iman kolektif.

5.3.2 Gereja sebagai Komunitas Kesaksian

Mazmur 105:1–6 menolak gereja yang tertutup dan hanya berorientasi ke dalam. Gereja yang setia pada teks ini akan:

  • mendorong jemaat bersaksi,
  • mengajarkan iman secara naratif,
  • dan menghadirkan kesaksian sebagai gaya hidup.

5.4 Implikasi Homiletis Mazmur 105:1–6

5.4.1 Khotbah sebagai Proklamasi Karya Allah

Mazmur 105:1–6 menegaskan bahwa khotbah bukan sekadar:

  • nasihat etis,
  • motivasi moral, atau
  • refleksi psikologis.

Khotbah adalah proklamasi karya Allah. Oleh karena itu:

  1. Subjek utama khotbah adalah Allah.
  2. Isi utama khotbah adalah perbuatan Tuhan.
  3. Respons jemaat adalah syukur, iman, dan kesaksian.

5.4.2 Khotbah Ekspositori sebagai Pendekatan Ideal

Struktur imperatif Mazmur 105:1–6 sangat cocok untuk khotbah ekspositori, karena:

  • teks memiliki alur logis,
  • pesan teologis jelas,
  • dan aplikasi lahir langsung dari teks.

Khotbah yang setia harus mengikuti:

  • urutan teks,
  • tekanan bahasa,
  • dan maksud teologis pemazmur.

5.4.3 Bahaya Khotbah yang Lepas dari Teks

Tanpa eksegesis yang kuat, Mazmur 105:1–6 mudah direduksi menjadi:

  • ajakan bersyukur yang dangkal,
  • motivasi bersaksi tanpa dasar teologis,
  • atau slogan rohani.

Analisis dalam penelitian ini menegaskan bahwa khotbah yang bertanggung jawab harus berakar pada bahasa dan struktur teks.

5.5 Model Khotbah Berdasarkan Mazmur 105:1–6

5.5.1 Tema Khotbah

“Iman yang Mengingat dan Bersaksi”

5.5.2 Tujuan Khotbah

Jemaat memahami bahwa iman sejati:

  • mengingat karya Tuhan,
  • hidup dalam relasi dengan Tuhan,
  • dan memperkenalkan perbuatan Tuhan kepada dunia.

5.5.3 Garis Besar Khotbah Ekspositori

Pendahuluan
Iman Kristen bukan iman yang diam, tetapi iman yang bersuara.

I. Bersyukur dan Memanggil Nama Tuhan (ay. 1a)
Syukur sebagai pengakuan publik akan karya Allah.

II. Memperkenalkan Perbuatan Tuhan (ay. 1b–2)
Kesaksian sebagai konsekuensi logis iman.

III. Mencari Tuhan dan Hidup dalam Relasi (ay. 3–4)
Iman sebagai relasi berkelanjutan.

IV. Mengingat Karya Tuhan sebagai Identitas Umat (ay. 5–6)
Ingatan iman membentuk identitas dan misi.

5.5.4 Aplikasi Pastoral

  1. Jemaat diajak mengingat kesetiaan Tuhan dalam hidup pribadi.
  2. Jemaat dilatih menceritakan karya Tuhan secara sederhana.
  3. Gereja membangun budaya kesaksian, bukan hanya kegiatan.

5.6 Implikasi Praktis bagi Pendidikan dan Pelayanan Gereja

Mazmur 105:1–6 mendorong gereja untuk:

  • mengembangkan pengajaran berbasis Alkitab,
  • menanamkan sejarah keselamatan sejak dini,
  • dan melatih jemaat menjadi saksi yang dewasa secara teologis.

5.7 Sintesis Teologis dan Homiletis Bab V

Dari seluruh implikasi yang telah diuraikan, dapat disimpulkan bahwa Mazmur 105:1–6 mengajarkan iman yang:

  1. Berakar pada karya Allah.
  2. Dipelihara melalui ingatan iman.
  3. Dinyatakan melalui kesaksian publik.
  4. Diberitakan melalui khotbah yang setia pada teks.

 

Tags :

BPPPWG MENARA KRISTEN

KOMITMEN DALAM MELAYANI

PRO DEO ET EIUS CREATURAM

  • PRO DEO ET EIUS CREATURAM
  • COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
  • ORA ET LABORA

INFORMASI KEPALA BPPPWG MENARA KRISTEN
  • : Pdt Hendra C Manullang
  • : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
  • : crisvinh@gmail.com
  • : menarakristen@gmail.com
/UMUM

Post a Comment

Tedbree Logo
BPPPWG Menara Kristen Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu Anda
Halo, Ada yang bisa kami bantu? ...
Kirim