-->

sosial media

Wednesday, 24 December 2025

KHOTBAH ; Yohanes 1:10–17 ( DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA )

 

Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima Kasih Karunia

Kajian Teologis–Kristologis dan Homiletis atas Yohanes 1:10–17

PENULIS : PDT. HENDRA CRISVIN MANULLANG

 

I. PENDAHULUAN: DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA

(Yohanes 1:10–17)

1.1 Latar Belakang Teologis dan Biblika

Prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1–18) menempati posisi yang sangat istimewa dalam Perjanjian Baru. Berbeda dengan Injil Sinoptik yang memulai kisah Yesus dari silsilah atau peristiwa kelahiran, Injil Yohanes membuka narasinya dengan sebuah pernyataan kosmik: “Pada mulanya adalah Firman (Logos)”. Dengan demikian, sejak awal Yohanes menegaskan bahwa Yesus Kristus tidak dapat dipahami hanya sebagai tokoh sejarah, guru moral, atau nabi, melainkan sebagai Firman Allah yang kekal dan ilahi.

Yohanes 1:10–17 merupakan bagian sentral dari prolog ini, karena di dalamnya terangkum drama besar keselamatan: Sang Logos yang menciptakan dunia justru ditolak oleh dunia; Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi tidak diterima; namun bagi mereka yang menerima-Nya, Ia memberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Puncaknya terletak pada pernyataan teologis yang sangat padat dan kaya makna: “Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia” (ay. 16).

Ayat ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan pengakuan iman gereja mula-mula tentang sumber kehidupan rohani umat percaya. Kepenuhan Kristus menjadi asal segala anugerah, dan kasih karunia bukanlah peristiwa satu kali, melainkan realitas yang terus-menerus dialami.

1.2 Konteks Historis dan Teologis Injil Yohanes

Injil Yohanes ditulis dalam konteks komunitas Kristen yang sedang menghadapi berbagai ketegangan teologis dan sosial. Di satu sisi, terdapat konflik dengan komunitas Yahudi yang menolak pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias. Di sisi lain, muncul kecenderungan pemahaman iman yang menyimpang, baik berupa legalisme yang kaku maupun spiritualisme yang memisahkan iman dari realitas inkarnasi.

Dalam konteks inilah Yohanes menegaskan bahwa:

  • keselamatan bukan berasal dari hukum Taurat semata,
  • bukan pula dari usaha manusia,
  • melainkan dari kasih karunia yang hadir dalam Pribadi Yesus Kristus.

Pernyataan tentang kepenuhan dan kasih karunia dalam Yohanes 1:16–17 juga mengandung dialog teologis dengan tradisi Musa dan Taurat. Yohanes tidak merendahkan Taurat, tetapi menempatkannya dalam terang yang lebih besar, yaitu terang Kristus sebagai pemenuhan kehendak Allah.

1.3 Realitas Gereja dan Tantangan Teologis Kontemporer

Dalam kehidupan gereja masa kini, tema kasih karunia sering kali dipahami secara tidak utuh. Setidaknya terdapat tiga kecenderungan problematis:

  1. Reduksi kasih karunia menjadi pengampunan dosa semata, tanpa pemahaman tentang transformasi hidup.
  2. Kasih karunia dipertentangkan dengan ketaatan, sehingga melahirkan iman yang permisif dan kehilangan disiplin rohani.
  3. Pengajaran yang berpusat pada hukum, etika, atau keberhasilan, sehingga kepenuhan Kristus tidak lagi menjadi pusat iman jemaat.

Yohanes 1:10–17 memberikan koreksi teologis yang mendalam terhadap kecenderungan-kecenderungan ini. Kasih karunia bukanlah konsep abstrak, melainkan pribadi yang hadir, yaitu Firman yang menjadi manusia. Dari kepenuhan-Nya, umat percaya dipanggil untuk hidup, bertumbuh, dan melayani.

1.4 Identifikasi Masalah dan Fokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini memusatkan perhatian pada beberapa persoalan teologis utama:

  1. Bagaimana Yohanes 1:10–17 menggambarkan identitas Yesus Kristus sebagai sumber kepenuhan kasih karunia?
  2. Apa makna teologis penolakan dunia dan penerimaan orang percaya terhadap Sang Logos?
  3. Bagaimana hubungan antara hukum Taurat dan kasih karunia dipahami dalam teks ini?
  4. Apa implikasi pemahaman “kepenuhan Kristus” bagi iman dan kehidupan gereja masa kini?

1.5 Rumusan Masalah Penelitian

Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Apa makna eksegetis Yohanes 1:10–17 dalam konteks Injil Yohanes?
  2. Bagaimana konsep kepenuhan (plērōma) dan kasih karunia (charis) dipahami secara teologis?
  3. Bagaimana teks ini membentuk pemahaman Kristologi dan soteriologi?
  4. Apa relevansi teks ini bagi spiritualitas dan khotbah gereja?

1.6 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk:

  1. Menguraikan makna teologis Yohanes 1:10–17 secara komprehensif.
  2. Menjelaskan konsep kasih karunia sebagai realitas inkarnasional.
  3. Menghubungkan teks Alkitab dengan konteks gereja masa kini.
  4. Menyediakan dasar teologis yang kuat bagi pelayanan pengajaran dan khotbah.

1.7 Manfaat Penelitian

1.7.1 Manfaat Teologis

Memberikan kontribusi bagi studi Injil Yohanes, khususnya dalam bidang Kristologi dan teologi kasih karunia.

1.7.2 Manfaat Pastoral dan Homiletis

Menjadi sumber rujukan bagi pendeta dan pengkhotbah dalam:

  • pelayanan Natal,
  • pembinaan jemaat,
  • pengajaran tentang kasih karunia

1.8 Kerangka Teoretis dan Pendekatan Metodologis

Penelitian ini menggunakan:

  • pendekatan eksegesis teks Yunani,
  • teologi biblika Yohanes,
  • analisis literer prolog Injil Yohanes,
  • refleksi teologis dan pastoral.

Pendekatan ini memastikan bahwa penelitian tidak berhenti pada analisis teks, tetapi bergerak menuju pemaknaan iman dan praksis gereja.

 

II. KONTEKS HISTORIS, LITERER, DAN TEOLOGI LOGOS DALAM INJIL YOHANES

Untuk memahami Yohanes 1:10–17 secara bertanggung jawab, teks tersebut harus ditempatkan dalam konteks historis, teologis, dan literer Injil Yohanes secara keseluruhan. Tanpa konteks ini, konsep-konsep kunci seperti Logos, kepenuhan, dan kasih karunia berisiko dipahami secara ahistoris atau anachronistic.

BAB II bertujuan untuk membangun landasan kontekstual yang kokoh, sehingga eksegesis pada BAB III tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada dunia nyata tempat Injil Yohanes lahir dan berfungsi.

2.2 Latar Belakang Penulisan Injil Yohanes

2.2.1 Penulis Injil Yohanes

Tradisi gereja awal secara luas mengaitkan Injil Yohanes dengan Yohanes anak Zebedeus, salah satu dari dua belas murid Yesus. Namun, penelitian modern cenderung melihat Injil Yohanes sebagai hasil dari komunitas Yohanes, yaitu lingkaran murid dan pengikut yang mewarisi kesaksian rasuli Yohanes.

Pandangan ini tidak meniadakan otoritas rasuli Injil, tetapi justru menegaskan bahwa Injil Yohanes adalah hasil refleksi iman yang matang, lahir dari pergumulan gereja dengan realitas sejarah dan teologi.

Implikasi Teologis:
Injil Yohanes bukan laporan kronologis semata, melainkan kesaksian iman yang reflektif dan teologis.

 

2.2.2 Waktu dan Tempat Penulisan

Sebagian besar sarjana menempatkan penulisan Injil Yohanes antara tahun 85–95 M, kemungkinan besar di wilayah Asia Kecil (Efesus dan sekitarnya). Ini adalah periode ketika:

  • Bait Allah Yerusalem telah hancur (70 M),
  • hubungan gereja dan sinagoge semakin tegang,
  • identitas Kristen sedang dipertanyakan.

Konteks ini sangat memengaruhi penekanan Injil Yohanes terhadap:

  • Yesus sebagai pengganti Bait Allah,
  • iman kepada Kristus sebagai pusat identitas umat Allah.

 

2.3 Situasi Sosial dan Keagamaan Abad Pertama

2.3.1 Hubungan Gereja dan Yudaisme

Komunitas Yohanes hidup dalam ketegangan dengan Yudaisme arus utama. Pengakuan bahwa Yesus adalah Mesias dan Anak Allah dianggap sebagai penghujatan.

Penolakan terhadap Yesus dalam Yohanes 1:10–11 mencerminkan pengalaman historis komunitas Yohanes yang mengalami pengucilan dari sinagoge.

Makna Teologis:
Penolakan terhadap Logos bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi realitas iman yang terus berulang.

2.3.2 Pengaruh Dunia Helenistik

Dunia tempat Injil Yohanes ditulis adalah dunia Helenistik, di mana filsafat Yunani, terutama Stoikisme dan Platonisme, memengaruhi cara berpikir masyarakat.

Konsep Logos dikenal luas sebagai:

  • prinsip rasional kosmos,
  • penghubung antara yang ilahi dan material.

Namun Yohanes melakukan reinterpretasi radikal:

Logos bukan prinsip abstrak, melainkan pribadi historis, Yesus Kristus.

2.4 Karakteristik Injil Yohanes

2.4.1 Injil Teologis dan Kristologis

Injil Yohanes sangat berbeda dari Injil Sinoptik:

  • lebih reflektif,
  • lebih simbolik,
  • sangat Kristosentris.

Tujuannya dinyatakan secara eksplisit dalam Yohanes 20:31: supaya orang percaya bahwa Yesus adalah Kristus, Anak Allah.

2.4.2 Bahasa Simbolik dan Dualisme

Injil Yohanes menggunakan dualisme khas:

  • terang vs gelap,
  • hidup vs maut,
  • dari atas vs dari bawah.

Dualisme ini bukan Gnostik, melainkan alat teologis untuk menekankan keputusan iman.

2.5 Prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1–18)

2.5.1 Fungsi Prolog

Prolog berfungsi sebagai:

  • ringkasan teologi Injil,
  • kunci hermeneutis seluruh narasi,
  • pengakuan iman gereja mula-mula.

Semua tema besar Injil Yohanes sudah muncul di sini:
Logos, hidup, terang, iman, penolakan, dan kasih karunia.

2.5.2 Struktur Prolog

Prolog dapat dibagi sebagai berikut:

  1. Logos kekal (1:1–5)
  2. Kesaksian Yohanes Pembaptis (1:6–8)
  3. Penolakan dan penerimaan Logos (1:9–13)
  4. Inkarnasi dan kepenuhan kasih karunia (1:14–18)

Yohanes 1:10–17 berada di jantung struktur ini.

2.6 Teologi Logos dalam Injil Yohanes

2.6.1 Logos dalam Tradisi Yahudi

Dalam Perjanjian Lama:

  • Firman Allah mencipta (Kej. 1),
  • Firman Allah menyatakan kehendak-Nya,
  • Hikmat Allah hadir bersama-Nya.

Yohanes menggabungkan semua tradisi ini dalam Kristus.

2.6.2 Logos dalam Tradisi Helenistik

Dalam filsafat Yunani:

  • Logos bersifat impersonal,
  • abstrak,
  • kosmik.

Yohanes menolak pemahaman ini dengan menyatakan:

“Firman itu telah menjadi manusia” (1:14).

2.6.3 Inkarnasi sebagai Pusat Teologi Yohanes

Inkarnasi bukan tambahan teologis, melainkan inti iman Kristen. Allah tidak menyelamatkan dari kejauhan, tetapi dengan hadir.

2.7 Taurat, Musa, dan Kasih Karunia

Yohanes 1:17 menyatakan:

“Hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”

Ini bukan antitesis, melainkan pemenuhan progresif.

Taurat:

  • menyatakan kehendak Allah,
  • tetapi Kristus menyatakan hati Allah.

2.8 Konsep Kepenuhan dalam Injil Yohanes

Kepenuhan (plērōma) menunjuk pada:

  • kelimpahan ilahi,
  • sumber kehidupan,
  • keberadaan Allah dalam Kristus.

Kepenuhan ini tidak habis dibagi.

2.9 Posisi Yohanes 1:10–17 dalam Keseluruhan Inji

Perikop ini menjadi:

  • dasar tema penolakan Yesus,
  • dasar konsep iman dan kelahiran baru,
  • fondasi teologi kasih karunia.

Semua konflik dalam Injil Yohanes berakar di sini.

2.10 Relevansi Historis-Teologis bagi Gereja Masa Kini

Gereja modern hidup dalam dunia yang:

  • mengenal Kristus secara budaya,
  • tetapi sering menolak-Nya secara eksistensial.

Yohanes 1:10–17 tetap relevan sebagai:

  • koreksi iman,
  • undangan untuk menerima kepenuhan Kristus.

 

III. EKSEGESIS MENDALAM TEKS YUNANI YOHANES 1:10–17

3.1 Pendahuluan Metodologis

BAB III ini disusun sebagai eksegesis kritis-teologis, bukan sekadar uraian gramatikal. Metode yang digunakan adalah:

1.     Historis-gramatikal – menafsirkan teks sesuai konteks asli.

2.     Analisis leksikal Yunani – makna kata dalam konteks.

3.     Pendekatan sastra-naratif Yohanes.

4.     Refleksi teologis kritis – termasuk kritik penulis terhadap tafsir yang reduktif.

Premis utama bab ini adalah:

Kasih karunia dalam Yohanes 1:10–17 hanya dapat dipahami dengan benar jika inkarnasi, penolakan, iman, dan kepenuhan dibaca sebagai satu kesatuan teologis.

3.2 Kritik Teks (Textual Criticism)

3.2.1 Stabilitas Teks Yohanes 1:10–17

Perikop Yohanes 1:10–17 tergolong sangat stabil secara tekstual. Manuskrip utama seperti:

·        𝔓66

·        𝔓75

·        Codex Vaticanus (B)

·        Codex Sinaiticus ()

menunjukkan varian yang sangat minimal, terutama bersifat ortografis.

Implikasi Akademik:
Stabilitas ini memperkuat bahwa teologi inkarnasi dan kasih karunia bukan perkembangan belakangan, melainkan inti iman gereja awal.

3.2.2 Varian Penting: Yohanes 1:13

Beberapa manuskrip awal menggunakan bentuk tunggal (ἐγεννήθη) alih-alih jamak (ἐγεννήθησαν).

Perdebatan Sarjana:

·        Bentuk tunggal → menunjuk pada kelahiran Kristus

·        Bentuk jamak → menunjuk pada kelahiran orang percaya

Posisi Penulis:
Bentuk jamak lebih sesuai dengan konteks ay. 12–13. Namun, varian tunggal secara teologis menunjukkan bahwa inkarnasi dan kelahiran baru saling terkait secara kristologis.

3.3 Struktur Retoris dan Alur Argumentasi

Yohanes 1:10–17 membentuk gerak spiral teologis, bukan linear:

1.     Keberadaan Logos (ay. 10)

2.     Penolakan (ay. 10–11)

3.     Penerimaan (ay. 12)

4.     Transformasi identitas (ay. 13)

5.     Inkarnasi (ay. 14)

6.     Kesaksian (ay. 15)

7.     Kepenuhan anugerah (ay. 16–17)

Struktur ini menegaskan bahwa kasih karunia bukan reaksi darurat atas penolakan, melainkan rencana Allah sejak kekekalan.

3.4 Eksegesis Ayat demi Ayat (Pendalaman Teknis)

3.4.1 Yohanes 1:10 – Kosmos yang Tidak Mengenal Logos

Analisis Morfologi

·        Ἐν τῷ κόσμῳ ἦν
ἦν (imperfect aktif indikatif) → keberadaan terus-menerus.

·        δι’ αὐτοῦ ἐγένετο
ἐγένετο (aorist middle) → tindakan penciptaan final.

Kajian Semantik κόσμος

Dalam Yohanes:

1.     ciptaan Allah,

2.     sistem yang memberontak,

3.     objek kasih Allah.

Di ayat ini, ketiganya hadir secara paradoksal.

οὐκ ἔγνω

γινώσκω dalam Yohanes hampir selalu relasional dan eksistensial.

Kritik Penulis:
Banyak tafsir modern mereduksi ayat ini menjadi isu epistemologi. Yohanes berbicara tentang krisis relasi, bukan krisis informasi.

3.4.2 Yohanes 1:11 – Penolakan sebagai Tragedi Perjanjian

εἰς τὰ ἴδια

Netral jamak → menunjuk pada “rumah sendiri”, tanah perjanjian.

οἱ ἴδιοι

Maskulin jamak → umat perjanjian.

παρέλαβον

Bentuk aorist aktif → penolakan sebagai keputusan sadar.

Kritik Penulis:
Penafsiran anti-Yahudi terhadap ayat ini adalah kegagalan hermeneutis. Yohanes menulis sebagai orang Yahudi yang terluka, bukan sebagai penyerang.

3.4.3 Yohanes 1:12 – Pemberian Otoritas Ilahi

ἔδωκεν ἐξουσίαν

ἐξουσία → hak legal + kuasa eksistensial.

τέκνα θεοῦ γενέσθαι

Aorist infinitive middle → transformasi identitas yang melibatkan respons manusia.

τοῖς πιστεύουσιν

Present participle → iman berkelanjutan, bukan keputusan sesaat.

Kritik Penulis:
Teologi instan (“sekali percaya, selesai”) gagal memahami aspek progresif iman Yohanes.

3.4.4 Yohanes 1:13 – Kelahiran Baru dan Polemik Antropologis

Tiga negasi membongkar:

1.     determinisme biologis,

2.     voluntarisme manusia,

3.     patriarki genealogis.

ἐκ θεοῦ ἐγεννήθησαν
Aorist pasif → Allah adalah subjek mutlak.

3.4.5 Yohanes 1:14 – Inkarnasi sebagai Skandal Teologis

σὰρξ

Bukan σῶμα. Yohanes sengaja memilih kata paling “kasar”.

ἐσκήνωσεν

Allusi eksplisit pada Kemah Suci dan Shekinah.

Kritik Penulis:
Gereja sering merayakan Natal secara sentimental, tetapi menghindari radikalisme inkarnasi: Allah masuk ke dalam penderitaan manusia.

3.4.6 Yohanes 1:15 – Kesaksian dan Hirarki Kristologis

Yohanes Pembaptis menolak kultus pribadi.

Implikasi Ekklesiologis:
Pelayanan sejati selalu menunjuk pada Kristus, bukan diri sendiri.

3.4.7 Yohanes 1:16 – Kepenuhan dan Kasih Karunia Bertumpuk

πλήρωμα

Menunjuk pada totalitas keberadaan ilahi.

χάριν ἀντὶ χάριτος

Secara idiomatik: “kasih karunia yang terus menggantikan dan melampaui”.

Kritik Penulis:
Teologi kemakmuran menyalahgunakan ayat ini dengan memisahkan plērōma dari salib.

3.4.8 Yohanes 1:17 – Taurat dan Kristus

ἐδόθη vs ἐγένετο

Taurat sebagai pemberian; kasih karunia sebagai peristiwa.

Sintesis:
Kristus bukan antitesis Taurat, tetapi inkarnasi maksud terdalam Taurat.

3.5 Sintesis Teologis Besar

1.     Kristologi Inkarnasional

2.     Soteriologi Relasional

3.     Antropologi Transformasional

4.     Eklesiologi Anak-Anak Allah

5.     Teologi Kasih Karunia yang Dinamis

Penulis menegaskan bahwa Yohanes 1:10–17 menuntut:

·        pertobatan teologis,

·        koreksi praksis gereja,

·        dan keberanian inkarnasional.

 

IV. SINTESIS TEOLOGIS DAN DOKTRINAL YOHANES 1:10–17

4.1 Pendahuluan BAB IV

Setelah dilakukan analisis historis (BAB II) dan eksegesis mendalam teks Yunani (BAB III), maka BAB IV bertujuan untuk melakukan sintesis teologis dan doktrinal dari Yohanes 1:10–17. Sintesis ini tidak sekadar mengulang hasil eksegesis, melainkan:

  1. merumuskan pokok-pokok teologi utama yang lahir dari teks,
  2. menempatkannya dalam kerangka teologi Kristen yang lebih luas (Kristologi, Soteriologi, Antropologi, Ekklesiologi),
  3. serta mengkritisi pemahaman teologis yang menyimpang atau reduktif.

Pendekatan yang digunakan bersifat biblika-dogmatis, yaitu membiarkan teks Yohanes membentuk doktrin, bukan sebaliknya.

4.2 Kristologi Yohanes 1:10–17: Logos sebagai Allah yang Hadir

4.2.1 Logos sebagai Subjek Ilahi dan Historis

Yohanes 1:10–17 menyajikan Kristologi yang unik: Yesus Kristus adalah Logos kekal sekaligus manusia historis. Tidak ada dikotomi antara keilahian dan kemanusiaan.

Berbeda dengan Kristologi fungsional (yang menilai Yesus hanya dari peran-Nya), Yohanes menegaskan Kristologi ontologis:
Yesus adalah siapa Dia lakukan.

4.2.2 Inkarnasi sebagai Pusat Segala Doktrin

Ayat 14 (“ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο”) menjadi poros seluruh teologi Kristen. Inkarnasi bukan hanya satu doktrin di antara banyak doktrin, melainkan fondasi epistemologis dan soteriologis iman Kristen.

Implikasi doktrinal:

  • Allah dapat dikenal karena Ia berinkarnasi.
  • Keselamatan mungkin karena Allah masuk ke dalam sejarah.

Kritik Penulis:
Banyak gereja modern memusatkan iman pada pengalaman rohani subjektif, sementara Yohanes menegaskan bahwa iman Kristen berdiri di atas peristiwa objektif inkarnasi.

4.3 Doktrin Wahyu: Allah yang Menyatakan Diri

4.3.1 Wahyu Umum dan Khusus dalam Yohanes

Yohanes 1:10 menunjukkan wahyu umum (Logos mencipta dunia), tetapi dunia tidak mengenal-Nya. Yohanes 1:14–18 menunjukkan wahyu khusus: Allah menyatakan diri dalam Kristus.

Sintesis teologis:

  • Wahyu umum cukup untuk menyatakan keberadaan Allah,
  • tetapi tidak cukup untuk keselamatan.

4.3.2 Yesus sebagai Eksposisi Allah

Yohanes 1:18 (konteks langsung ay. 10–17) menyatakan bahwa Yesus “menyatakan” (ἐξηγήσατο) Allah.

Kristus adalah hermeneutika Allah.

Kritik Penulis:
Pendekatan pluralistik yang menyamakan semua jalan wahyu gagal memahami eksklusivitas Kristologis Yohanes.

4.4 Antropologi Teologis: Manusia di Hadapan Logos

4.4.1 Dunia yang Tidak Mengenal Allah

Yohanes 1:10–11 menghadirkan antropologi realis: manusia berdosa bukan karena kurang agama, tetapi karena penolakan relasional terhadap Allah.

Ini menolak:

  • optimisme humanistik,
  • antropologi netral.

4.4.2 Manusia sebagai Penerima atau Penolak

Manusia selalu berada dalam posisi respons:

  • menerima (λαμβάνω),
  • atau menolak (οὐ παρέλαβον).

Tidak ada posisi netral terhadap Kristus.

4.5 Soteriologi Yohanes: Keselamatan sebagai Kelahiran Baru

4.5.1 Keselamatan Bukan Warisan atau Usaha

Yohanes 1:13 secara radikal menolak:

  • soteriologi etnis,
  • soteriologi moralistik,
  • soteriologi patriarkal.

Keselamatan adalah inisiatif Allah sepenuhnya.

4.5.2 Anak-Anak Allah sebagai Identitas Baru

Menjadi anak Allah (τέκνα θεοῦ) bukan metafora psikologis, melainkan realitas ontologis baru.

Keselamatan dalam Yohanes bersifat:

  • relasional,
  • transformasional,
  • komunal.

4.6 Doktrin Kasih Karunia (Charitologi)

4.6.1 Kasih Karunia sebagai Pribadi, Bukan Abstraksi

Dalam Yohanes, kasih karunia bukan konsep, melainkan Yesus Kristus sendiri.

“Kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (1:17)

4.6.2 Χάριν ἀντὶ χάριτος: Dinamika Anugerah

Ungkapan ini menunjukkan:

  • kontinuitas anugerah,
  • pertumbuhan rohani,
  • pemeliharaan ilahi berkelanjutan.

Kritik Penulis:
Teologi “sekali diselamatkan, selesai” gagal menangkap dinamika kasih karunia Yohanes.

4.7 Taurat dan Injil: Diskontinuitas dan Kontinuitas

Yohanes 1:17 sering disalahpahami sebagai pertentangan Taurat vs Injil.

Sintesis yang benar:

  • Taurat → wahyu kehendak Allah
  • Kristus → wahyu hati Allah

Kristus bukan pembatal Taurat, melainkan penggenap maksud terdalamnya.

4.8 Doktrin Gereja (Ekklesiologi Yohanes)

4.8.1 Gereja sebagai Komunitas Anak-Anak Allah

Gereja tidak didefinisikan oleh struktur, tetapi oleh:

  • kelahiran baru,
  • iman kepada Nama-Nya,
  • hidup dari kepenuhan Kristus.

4.8.2 Gereja sebagai Komunitas Inkarnasional

Sebagaimana Logos “berkemah” di dunia, gereja dipanggil untuk:

  • hadir,
  • berelasi,
  • menderita bersama dunia.

Kritik Penulis:
Gereja yang hanya berfungsi sebagai institusi keagamaan telah meninggalkan spiritualitas inkarnasional Yohanes.

4.9 Doktrin Misi: Allah yang Datang ke Dunia

Yohanes 1:10–11 menjadi dasar teologi misi:

  • Allah datang lebih dahulu,
  • gereja hanya melanjutkan gerak Allah.

Misi bukan ekspansi gereja, tetapi partisipasi dalam misi Allah (missio Dei).

4.10 Eskatologi Tersirat dalam Yohanes 1:10–17

Eskatologi Yohanes bersifat:

  • kini dan akan datang,
  • sudah tetapi belum.

Kepenuhan telah tersedia, tetapi belum sepenuhnya dialami.

4.11 Sintesis Dogmatis Menyeluruh

Doktrin

Rumusan Yohanes

Kristologi

Logos berinkarnasi

Soteriologi

Kelahiran dari Allah

Antropologi

Manusia relasional

Charitologi

Kasih karunia dinamis

Ekklesiologi

Anak-anak Allah

Misiologi

Allah yang datang

 

4.12 Kritik Teologis Penulis

  1. Teologi tanpa inkarnasi → abstrak
  2. Kasih karunia tanpa salib → murah
  3. Gereja tanpa kehadiran → steril
  4. Iman tanpa transformasi → semu

Yohanes 1:10–17 menolak semua bentuk iman yang tidak mengubah cara hidup.

 

V. IMPLIKASI TEOLOGIS, SPIRITUALITAS, DAN HOMILETIS

YOHANES 1:10 –17 - DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA

5.1 Pendahuluan BAB V

BAB V merupakan tahap akhir penelitian ini, yang bertujuan untuk menjembatani dunia teks dengan dunia gereja dan kehidupan umat percaya. Jika BAB III menafsirkan teks dan BAB IV merumuskan doktrin, maka BAB V bertanya:

Bagaimana kebenaran Yohanes 1:10–17 membentuk iman, spiritualitas, dan pewartaan gereja masa kini?

BAB ini menegaskan bahwa teologi Yohanes bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk dihidupi dan diberitakan.

5.2 Implikasi Teologis bagi Gereja Masa Kini

5.2.1 Teologi Inkarnasional sebagai Paradigma Gereja

Inkarnasi Logos (Yoh. 1:14) menuntut gereja untuk mengembangkan teologi kehadiran, bukan teologi jarak.

Implikasinya:

  • Gereja tidak boleh hanya berbicara tentang dunia,
  • tetapi harus hadir di dalam dunia, sebagaimana Logos hadir.

Kritik Penulis:
Gereja yang hanya kuat dalam liturgi tetapi lemah dalam solidaritas sosial telah mengkhianati teologi inkarnasi.

5.2.2 Kasih Karunia sebagai Dasar Identitas, Bukan Alat Retorika

Yohanes 1:16 menegaskan bahwa gereja hidup dari kepenuhan Kristus, bukan dari:

  • strategi manusia,
  • kekuatan institusi,
  • atau popularitas pelayanan.

Kasih karunia bukan slogan mimbar, melainkan sumber keberadaan gereja.

5.2.3 Gereja di Tengah Dunia yang Menolak Terang

Yohanes 1:10–11 mengingatkan bahwa penolakan terhadap Kristus adalah realitas permanen.

Implikasinya:

  • Gereja tidak dipanggil untuk mencari penerimaan dunia,
  • tetapi untuk setia bersaksi dengan kasih dan kebenaran.

5.3 Implikasi Spiritualitas Kristen (Spiritualitas Yohanes)

5.3.1 Spiritualitas Penerimaan: Menerima Kristus secara Eksistensial

“Menerima Dia” (λαμβάνω) dalam Yohanes 1:12 bukan sekadar keputusan liturgis, tetapi:

  • penyerahan hidup,
  • pembaruan orientasi eksistensi,
  • kesetiaan relasional.

Kritik Penulis:
Spiritualitas instan yang menekankan pengalaman emosional sesaat tidak sejalan dengan iman berkelanjutan Yohanes.

5.3.2 Spiritualitas Kelahiran Baru

Kelahiran dari Allah (1:13) melahirkan spiritualitas:

  • rendah hati (karena berasal dari Allah),
  • bebas (karena tidak ditentukan darah atau prestasi),
  • taat (karena hidup dalam relasi).

5.3.3 Spiritualitas Kepenuhan, Bukan Kekosongan

“Dari kepenuhan-Nya” (ἐκ τοῦ πληρώματος) menolak spiritualitas kekurangan (scarcity spirituality).

Orang percaya:

  • tidak hidup dari kekosongan diri,
  • tetapi dari kelimpahan Kristus.

Kritik Penulis:
Banyak praktik kerohanian modern justru mengeksploitasi rasa kurang umat, alih-alih mengarahkan pada kepenuhan Kristus.

5.3.4 Spiritualitas Inkarnasional dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagaimana Logos berkemah (ἐσκήνωσεν), spiritualitas Kristen bersifat:

  • membumi,
  • kontekstual,
  • terlibat dalam penderitaan manusia.

Doa, ibadah, dan kesalehan harus berbuah dalam:

  • keadilan,
  • belas kasih,
  • kesetiaan hidup.

5.4 Implikasi Pastoral

5.4.1 Pendampingan Berbasis Kasih Karunia

Pelayanan pastoral harus berangkat dari:

  • penerimaan Allah,
  • bukan dari penghakiman moralistik.

Yohanes 1:16 menegaskan bahwa kasih karunia selalu mendahului perubahan hidup.

5.4.2 Pembentukan Identitas Anak Allah

Pendampingan iman perlu menolong jemaat memahami identitas mereka sebagai:

  • anak-anak Allah,
  • bukan sekadar anggota gereja.

Ini berdampak pada:

  • kepercayaan diri rohani,
  • kedewasaan iman,
  • ketahanan dalam penderitaan.

5.5 Implikasi Etis dan Sosial

5.5.1 Etika yang Berakar pada Inkarnasi

Inkarnasi menuntut etika yang:

  • peduli pada tubuh,
  • menghargai kehidupan,
  • melawan ketidakadilan struktural.

Kristen tidak dapat bersikap netral terhadap penderitaan sosial.

5.5.2 Kasih Karunia dan Tanggung Jawab Sosial

Kasih karunia tidak meniadakan tanggung jawab, tetapi justru:

  • memberdayakan tindakan kasih,
  • membebaskan dari egoisme,
  • mendorong solidaritas.

5.6 Implikasi Homiletis (Khotbah)

5.6.1 Yohanes 1:10–17 sebagai Teks Khotbah Utama

Teks ini ideal untuk:

  • Natal,
  • Epifani,
  • Minggu Inkarnasi,
  • pengajaran dasar iman.

5.6.2 Prinsip Homiletis Berbasis Eksegesis

Khotbah harus:

  1. Kristosentris (bukan moralistik),
  2. Inkarnasional (bukan abstrak),
  3. Berbasis kasih karunia (bukan ancaman),
  4. Mengundang respons iman.

5.6.3 Contoh Kerangka Khotbah

Tema: Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima Kasih Karunia

  1. Dunia yang tidak mengenal terang
  2. Allah yang tetap datang
  3. Kasih karunia yang melahirkan hidup baru
  4. Panggilan untuk hidup sebagai anak-anak Allah

5.6.4 Kritik Penulis terhadap Khotbah Kontemporer

  1. Terlalu antropo-sentris
  2. Minim inkarnasi
  3. Mengkomersialisasi kasih karunia
  4. Mengabaikan penderitaan nyata umat

Yohanes menuntut khotbah yang:

  • jujur,
  • mendalam,
  • dan membentuk hidup.

5.7 Integrasi Teologi, Spiritualitas, dan Pewartaan

Yohanes 1:10–17 menunjukkan bahwa:

  • teologi tanpa spiritualitas → kering,
  • spiritualitas tanpa teologi → dangkal,
  • khotbah tanpa keduanya → manipulatif.

Gereja dipanggil untuk mengintegrasikan ketiganya secara utuh.

5.8 Refleksi Kritis Penulis

Penulis menegaskan bahwa krisis gereja masa kini bukan terutama krisis metode, melainkan krisis inkarnasi. Gereja sering berbicara tentang Kristus, tetapi lupa untuk hidup dari kepenuhan-Nya.

 

Tags :

BPPPWG MENARA KRISTEN

KOMITMEN DALAM MELAYANI

PRO DEO ET EIUS CREATURAM

  • PRO DEO ET EIUS CREATURAM
  • COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
  • ORA ET LABORA

INFORMASI KEPALA BPPPWG MENARA KRISTEN
  • : Pdt Hendra C Manullang
  • : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
  • : crisvinh@gmail.com
  • : menarakristen@gmail.com
/UMUM

1 Reviews:

Tedbree Logo
BPPPWG Menara Kristen Silahkan bertanya kepada kami. Kami siap membantu Anda
Halo, Ada yang bisa kami bantu? ...
Kirim