KHOTBAH ; Yohanes 1:10–17 ( DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA )
Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima Kasih Karunia
Kajian Teologis–Kristologis dan Homiletis atas Yohanes 1:10–17
PENULIS : PDT. HENDRA
CRISVIN MANULLANG
I. PENDAHULUAN: DARI KEPENUHAN-NYA
KITA MENERIMA KASIH KARUNIA
(Yohanes 1:10–17)
1.1 Latar Belakang Teologis dan
Biblika
Prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1–18) menempati
posisi yang sangat istimewa dalam Perjanjian Baru. Berbeda dengan Injil
Sinoptik yang memulai kisah Yesus dari silsilah atau peristiwa kelahiran, Injil
Yohanes membuka narasinya dengan sebuah pernyataan kosmik: “Pada mulanya
adalah Firman (Logos)”. Dengan demikian, sejak awal Yohanes menegaskan
bahwa Yesus Kristus tidak dapat dipahami hanya sebagai tokoh sejarah, guru
moral, atau nabi, melainkan sebagai Firman Allah yang kekal dan ilahi.
Yohanes 1:10–17 merupakan bagian sentral dari
prolog ini, karena di dalamnya terangkum drama besar keselamatan: Sang Logos
yang menciptakan dunia justru ditolak oleh dunia; Ia datang kepada milik
kepunyaan-Nya, tetapi tidak diterima; namun bagi mereka yang menerima-Nya, Ia
memberikan kuasa untuk menjadi anak-anak Allah. Puncaknya terletak pada
pernyataan teologis yang sangat padat dan kaya makna: “Karena dari
kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia”
(ay. 16).
Ayat ini bukan sekadar ungkapan puitis, melainkan pengakuan
iman gereja mula-mula tentang sumber kehidupan rohani umat percaya. Kepenuhan
Kristus menjadi asal segala anugerah, dan kasih karunia bukanlah peristiwa satu
kali, melainkan realitas yang terus-menerus dialami.
1.2 Konteks Historis dan Teologis
Injil Yohanes
Injil Yohanes ditulis dalam konteks komunitas
Kristen yang sedang menghadapi berbagai ketegangan teologis dan sosial. Di satu
sisi, terdapat konflik dengan komunitas Yahudi yang menolak pengakuan bahwa
Yesus adalah Mesias. Di sisi lain, muncul kecenderungan pemahaman iman yang
menyimpang, baik berupa legalisme yang kaku maupun spiritualisme yang
memisahkan iman dari realitas inkarnasi.
Dalam konteks inilah Yohanes menegaskan bahwa:
- keselamatan
bukan berasal dari hukum Taurat semata,
- bukan
pula dari usaha manusia,
- melainkan
dari kasih karunia yang hadir dalam Pribadi Yesus Kristus.
Pernyataan tentang kepenuhan dan kasih karunia
dalam Yohanes 1:16–17 juga mengandung dialog teologis dengan tradisi Musa dan
Taurat. Yohanes tidak merendahkan Taurat, tetapi menempatkannya dalam terang
yang lebih besar, yaitu terang Kristus sebagai pemenuhan kehendak Allah.
1.3 Realitas Gereja dan Tantangan
Teologis Kontemporer
Dalam kehidupan gereja masa kini, tema kasih
karunia sering kali dipahami secara tidak utuh. Setidaknya terdapat tiga
kecenderungan problematis:
- Reduksi
kasih karunia menjadi pengampunan dosa semata, tanpa pemahaman tentang
transformasi hidup.
- Kasih
karunia dipertentangkan dengan ketaatan, sehingga melahirkan iman yang permisif dan
kehilangan disiplin rohani.
- Pengajaran
yang berpusat pada hukum, etika, atau keberhasilan, sehingga kepenuhan Kristus
tidak lagi menjadi pusat iman jemaat.
Yohanes 1:10–17 memberikan koreksi teologis yang
mendalam terhadap kecenderungan-kecenderungan ini. Kasih karunia bukanlah konsep
abstrak, melainkan pribadi yang hadir, yaitu Firman yang menjadi
manusia. Dari kepenuhan-Nya, umat percaya dipanggil untuk hidup, bertumbuh, dan
melayani.
1.4 Identifikasi Masalah dan
Fokus Penelitian
Berdasarkan latar belakang di atas, penelitian ini
memusatkan perhatian pada beberapa persoalan teologis utama:
- Bagaimana
Yohanes 1:10–17 menggambarkan identitas Yesus Kristus sebagai sumber
kepenuhan kasih karunia?
- Apa
makna teologis penolakan dunia dan penerimaan orang percaya terhadap Sang
Logos?
- Bagaimana
hubungan antara hukum Taurat dan kasih karunia dipahami dalam teks ini?
- Apa
implikasi pemahaman “kepenuhan Kristus” bagi iman dan kehidupan gereja
masa kini?
1.5 Rumusan Masalah Penelitian
Rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai
berikut:
- Apa
makna eksegetis Yohanes 1:10–17 dalam konteks Injil Yohanes?
- Bagaimana
konsep kepenuhan (plērōma) dan kasih karunia (charis)
dipahami secara teologis?
- Bagaimana
teks ini membentuk pemahaman Kristologi dan soteriologi?
- Apa
relevansi teks ini bagi spiritualitas dan khotbah gereja?
1.6 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
- Menguraikan
makna teologis Yohanes 1:10–17 secara komprehensif.
- Menjelaskan
konsep kasih karunia sebagai realitas inkarnasional.
- Menghubungkan
teks Alkitab dengan konteks gereja masa kini.
- Menyediakan
dasar teologis yang kuat bagi pelayanan pengajaran dan khotbah.
1.7 Manfaat Penelitian
1.7.1 Manfaat Teologis
Memberikan kontribusi bagi studi Injil Yohanes,
khususnya dalam bidang Kristologi dan teologi kasih karunia.
1.7.2 Manfaat Pastoral dan
Homiletis
Menjadi sumber rujukan bagi pendeta dan pengkhotbah
dalam:
- pelayanan
Natal,
- pembinaan
jemaat,
- pengajaran
tentang kasih karunia
1.8 Kerangka Teoretis dan
Pendekatan Metodologis
Penelitian ini menggunakan:
- pendekatan
eksegesis teks Yunani,
- teologi
biblika Yohanes,
- analisis
literer prolog Injil Yohanes,
- refleksi
teologis dan pastoral.
Pendekatan ini memastikan bahwa penelitian tidak
berhenti pada analisis teks, tetapi bergerak menuju pemaknaan iman dan praksis
gereja.
II. KONTEKS HISTORIS, LITERER, DAN
TEOLOGI LOGOS DALAM INJIL YOHANES
Untuk
memahami Yohanes 1:10–17 secara bertanggung jawab, teks tersebut harus
ditempatkan dalam konteks historis, teologis, dan literer Injil Yohanes
secara keseluruhan. Tanpa konteks ini, konsep-konsep kunci seperti Logos,
kepenuhan, dan kasih karunia berisiko dipahami secara ahistoris
atau anachronistic.
BAB II
bertujuan untuk membangun landasan kontekstual yang kokoh, sehingga
eksegesis pada BAB III tidak berdiri di ruang hampa, melainkan berakar pada
dunia nyata tempat Injil Yohanes lahir dan berfungsi.
2.2 Latar Belakang Penulisan Injil Yohanes
2.2.1 Penulis Injil Yohanes
Tradisi
gereja awal secara luas mengaitkan Injil Yohanes dengan Yohanes anak
Zebedeus, salah satu dari dua belas murid Yesus. Namun, penelitian modern
cenderung melihat Injil Yohanes sebagai hasil dari komunitas Yohanes,
yaitu lingkaran murid dan pengikut yang mewarisi kesaksian rasuli Yohanes.
Pandangan
ini tidak meniadakan otoritas rasuli Injil, tetapi justru menegaskan bahwa
Injil Yohanes adalah hasil refleksi iman yang matang, lahir dari pergumulan
gereja dengan realitas sejarah dan teologi.
Implikasi
Teologis:
Injil Yohanes bukan laporan kronologis semata, melainkan kesaksian iman yang
reflektif dan teologis.
2.2.2 Waktu dan Tempat Penulisan
Sebagian
besar sarjana menempatkan penulisan Injil Yohanes antara tahun 85–95 M,
kemungkinan besar di wilayah Asia Kecil (Efesus dan sekitarnya). Ini adalah
periode ketika:
- Bait Allah Yerusalem telah
hancur (70 M),
- hubungan gereja dan sinagoge
semakin tegang,
- identitas Kristen sedang
dipertanyakan.
Konteks
ini sangat memengaruhi penekanan Injil Yohanes terhadap:
- Yesus sebagai pengganti Bait
Allah,
- iman kepada Kristus sebagai
pusat identitas umat Allah.
2.3 Situasi Sosial dan Keagamaan Abad Pertama
2.3.1 Hubungan Gereja dan Yudaisme
Komunitas
Yohanes hidup dalam ketegangan dengan Yudaisme arus utama. Pengakuan bahwa
Yesus adalah Mesias dan Anak Allah dianggap sebagai penghujatan.
Penolakan
terhadap Yesus dalam Yohanes 1:10–11 mencerminkan pengalaman historis
komunitas Yohanes yang mengalami pengucilan dari sinagoge.
Makna
Teologis:
Penolakan terhadap Logos bukan sekadar peristiwa masa lalu, tetapi realitas
iman yang terus berulang.
2.3.2 Pengaruh Dunia Helenistik
Dunia
tempat Injil Yohanes ditulis adalah dunia Helenistik, di mana filsafat Yunani,
terutama Stoikisme dan Platonisme, memengaruhi cara berpikir masyarakat.
Konsep Logos
dikenal luas sebagai:
- prinsip rasional kosmos,
- penghubung antara yang ilahi
dan material.
Namun
Yohanes melakukan reinterpretasi radikal:
Logos
bukan prinsip abstrak, melainkan pribadi historis, Yesus Kristus.
2.4 Karakteristik Injil Yohanes
2.4.1 Injil Teologis dan Kristologis
Injil
Yohanes sangat berbeda dari Injil Sinoptik:
- lebih reflektif,
- lebih simbolik,
- sangat Kristosentris.
Tujuannya
dinyatakan secara eksplisit dalam Yohanes 20:31: supaya orang percaya bahwa
Yesus adalah Kristus, Anak Allah.
2.4.2 Bahasa Simbolik dan Dualisme
Injil
Yohanes menggunakan dualisme khas:
- terang vs gelap,
- hidup vs maut,
- dari atas vs dari bawah.
Dualisme
ini bukan Gnostik, melainkan alat teologis untuk menekankan keputusan
iman.
2.5 Prolog Injil Yohanes (Yohanes 1:1–18)
2.5.1 Fungsi Prolog
Prolog
berfungsi sebagai:
- ringkasan teologi Injil,
- kunci hermeneutis seluruh
narasi,
- pengakuan iman gereja
mula-mula.
Semua
tema besar Injil Yohanes sudah muncul di sini:
Logos, hidup, terang, iman, penolakan, dan kasih karunia.
2.5.2 Struktur Prolog
Prolog
dapat dibagi sebagai berikut:
- Logos kekal (1:1–5)
- Kesaksian Yohanes Pembaptis
(1:6–8)
- Penolakan dan penerimaan
Logos (1:9–13)
- Inkarnasi dan kepenuhan
kasih karunia (1:14–18)
Yohanes
1:10–17 berada di jantung struktur ini.
2.6 Teologi Logos dalam Injil Yohanes
2.6.1 Logos dalam Tradisi Yahudi
Dalam
Perjanjian Lama:
- Firman Allah mencipta (Kej.
1),
- Firman Allah menyatakan
kehendak-Nya,
- Hikmat Allah hadir
bersama-Nya.
Yohanes
menggabungkan semua tradisi ini dalam Kristus.
2.6.2 Logos dalam Tradisi Helenistik
Dalam
filsafat Yunani:
- Logos bersifat impersonal,
- abstrak,
- kosmik.
Yohanes
menolak pemahaman ini dengan menyatakan:
“Firman
itu telah menjadi manusia” (1:14).
2.6.3 Inkarnasi sebagai Pusat Teologi Yohanes
Inkarnasi
bukan tambahan teologis, melainkan inti iman Kristen. Allah tidak
menyelamatkan dari kejauhan, tetapi dengan hadir.
2.7 Taurat, Musa, dan Kasih Karunia
Yohanes
1:17 menyatakan:
“Hukum
Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh
Yesus Kristus.”
Ini bukan
antitesis, melainkan pemenuhan progresif.
Taurat:
- menyatakan kehendak Allah,
- tetapi Kristus menyatakan
hati Allah.
2.8 Konsep Kepenuhan dalam Injil Yohanes
Kepenuhan
(plērōma) menunjuk pada:
- kelimpahan ilahi,
- sumber kehidupan,
- keberadaan Allah dalam
Kristus.
Kepenuhan
ini tidak habis dibagi.
2.9 Posisi Yohanes 1:10–17 dalam Keseluruhan Inji
Perikop
ini menjadi:
- dasar tema penolakan Yesus,
- dasar konsep iman dan
kelahiran baru,
- fondasi teologi kasih
karunia.
Semua
konflik dalam Injil Yohanes berakar di sini.
2.10 Relevansi Historis-Teologis bagi Gereja Masa
Kini
Gereja
modern hidup dalam dunia yang:
- mengenal Kristus secara
budaya,
- tetapi sering menolak-Nya
secara eksistensial.
Yohanes
1:10–17 tetap relevan sebagai:
- koreksi iman,
- undangan untuk menerima
kepenuhan Kristus.
III. EKSEGESIS MENDALAM TEKS YUNANI YOHANES
1:10–17
3.1 Pendahuluan Metodologis
BAB III ini disusun sebagai eksegesis
kritis-teologis, bukan sekadar uraian gramatikal. Metode yang
digunakan adalah:
1.
Historis-gramatikal –
menafsirkan teks sesuai konteks asli.
2.
Analisis
leksikal Yunani – makna kata dalam konteks.
3.
Pendekatan
sastra-naratif Yohanes.
4.
Refleksi
teologis kritis – termasuk kritik penulis terhadap tafsir
yang reduktif.
Premis utama bab ini adalah:
Kasih
karunia dalam Yohanes 1:10–17 hanya dapat dipahami dengan benar jika inkarnasi,
penolakan, iman, dan kepenuhan dibaca sebagai satu kesatuan teologis.
3.2 Kritik Teks (Textual Criticism)
3.2.1 Stabilitas Teks Yohanes 1:10–17
Perikop Yohanes 1:10–17 tergolong sangat
stabil secara tekstual. Manuskrip utama seperti:
·
𝔓66
·
𝔓75
·
Codex Vaticanus (B)
·
Codex Sinaiticus (ℵ)
menunjukkan varian yang sangat
minimal, terutama bersifat ortografis.
Implikasi
Akademik:
Stabilitas ini memperkuat bahwa teologi inkarnasi dan kasih karunia bukan
perkembangan belakangan, melainkan inti iman gereja awal.
3.2.2 Varian Penting: Yohanes 1:13
Beberapa manuskrip awal menggunakan bentuk
tunggal (ἐγεννήθη)
alih-alih jamak (ἐγεννήθησαν).
Perdebatan
Sarjana:
·
Bentuk tunggal → menunjuk pada kelahiran
Kristus
·
Bentuk jamak → menunjuk pada kelahiran orang
percaya
Posisi
Penulis:
Bentuk jamak lebih sesuai dengan konteks ay. 12–13. Namun, varian tunggal
secara teologis menunjukkan bahwa inkarnasi dan kelahiran baru saling
terkait secara kristologis.
3.3 Struktur Retoris dan Alur Argumentasi
Yohanes 1:10–17 membentuk gerak
spiral teologis, bukan linear:
1.
Keberadaan Logos (ay. 10)
2.
Penolakan (ay. 10–11)
3.
Penerimaan (ay. 12)
4.
Transformasi identitas (ay. 13)
5.
Inkarnasi (ay. 14)
6.
Kesaksian (ay. 15)
7.
Kepenuhan anugerah (ay. 16–17)
Struktur ini menegaskan bahwa kasih
karunia bukan reaksi darurat atas penolakan, melainkan rencana Allah sejak
kekekalan.
3.4 Eksegesis Ayat demi Ayat (Pendalaman
Teknis)
3.4.1 Yohanes 1:10 – Kosmos yang Tidak
Mengenal Logos
Analisis Morfologi
·
Ἐν τῷ
κόσμῳ ἦν
ἦν
(imperfect aktif indikatif) → keberadaan terus-menerus.
·
δι’
αὐτοῦ ἐγένετο
ἐγένετο
(aorist middle) → tindakan penciptaan final.
Kajian Semantik κόσμος
Dalam Yohanes:
1.
ciptaan Allah,
2.
sistem yang memberontak,
3.
objek kasih Allah.
Di ayat ini, ketiganya hadir secara
paradoksal.
οὐκ ἔγνω
γινώσκω dalam
Yohanes hampir selalu relasional dan eksistensial.
Kritik
Penulis:
Banyak tafsir modern mereduksi ayat ini menjadi isu epistemologi. Yohanes
berbicara tentang krisis relasi, bukan krisis informasi.
3.4.2 Yohanes 1:11 – Penolakan sebagai
Tragedi Perjanjian
εἰς τὰ ἴδια
Netral jamak → menunjuk pada “rumah sendiri”,
tanah perjanjian.
οἱ ἴδιοι
Maskulin jamak → umat perjanjian.
παρέλαβον
Bentuk aorist aktif → penolakan sebagai
keputusan sadar.
Kritik
Penulis:
Penafsiran anti-Yahudi terhadap ayat ini adalah kegagalan hermeneutis.
Yohanes menulis sebagai orang Yahudi yang terluka, bukan sebagai penyerang.
3.4.3 Yohanes 1:12 – Pemberian Otoritas Ilahi
ἔδωκεν ἐξουσίαν
ἐξουσία → hak
legal + kuasa eksistensial.
τέκνα θεοῦ γενέσθαι
Aorist infinitive middle → transformasi
identitas yang melibatkan respons manusia.
τοῖς πιστεύουσιν
Present participle → iman berkelanjutan,
bukan keputusan sesaat.
Kritik
Penulis:
Teologi instan (“sekali percaya, selesai”) gagal memahami aspek progresif iman
Yohanes.
3.4.4 Yohanes 1:13 – Kelahiran Baru dan
Polemik Antropologis
Tiga negasi membongkar:
1.
determinisme biologis,
2.
voluntarisme manusia,
3.
patriarki genealogis.
ἐκ θεοῦ
ἐγεννήθησαν
Aorist pasif → Allah adalah subjek mutlak.
3.4.5 Yohanes 1:14 – Inkarnasi sebagai
Skandal Teologis
σὰρξ
Bukan σῶμα. Yohanes sengaja
memilih kata paling “kasar”.
ἐσκήνωσεν
Allusi eksplisit pada Kemah Suci dan
Shekinah.
Kritik
Penulis:
Gereja sering merayakan Natal secara sentimental, tetapi menghindari radikalisme
inkarnasi: Allah masuk ke dalam penderitaan manusia.
3.4.6 Yohanes 1:15 – Kesaksian dan Hirarki
Kristologis
Yohanes Pembaptis menolak kultus pribadi.
Implikasi
Ekklesiologis:
Pelayanan sejati selalu menunjuk pada Kristus, bukan diri sendiri.
3.4.7 Yohanes 1:16 – Kepenuhan dan Kasih
Karunia Bertumpuk
πλήρωμα
Menunjuk pada totalitas keberadaan ilahi.
χάριν ἀντὶ χάριτος
Secara idiomatik: “kasih karunia yang terus
menggantikan dan melampaui”.
Kritik
Penulis:
Teologi kemakmuran menyalahgunakan ayat ini dengan memisahkan plērōma
dari salib.
3.4.8 Yohanes 1:17 – Taurat dan Kristus
ἐδόθη vs ἐγένετο
Taurat sebagai pemberian; kasih karunia
sebagai peristiwa.
Sintesis:
Kristus bukan antitesis Taurat, tetapi inkarnasi maksud terdalam Taurat.
3.5 Sintesis Teologis Besar
1.
Kristologi
Inkarnasional
2.
Soteriologi
Relasional
3.
Antropologi
Transformasional
4.
Eklesiologi
Anak-Anak Allah
5.
Teologi
Kasih Karunia yang Dinamis
Penulis
menegaskan bahwa Yohanes 1:10–17 menuntut:
·
pertobatan teologis,
·
koreksi praksis gereja,
·
dan keberanian inkarnasional.
IV. SINTESIS TEOLOGIS DAN DOKTRINAL
YOHANES 1:10–17
4.1 Pendahuluan BAB IV
Setelah
dilakukan analisis historis (BAB II) dan eksegesis mendalam teks Yunani (BAB
III), maka BAB IV bertujuan untuk melakukan sintesis teologis dan doktrinal
dari Yohanes 1:10–17. Sintesis ini tidak sekadar mengulang hasil eksegesis,
melainkan:
- merumuskan pokok-pokok
teologi utama yang lahir dari teks,
- menempatkannya dalam kerangka
teologi Kristen yang lebih luas (Kristologi, Soteriologi, Antropologi,
Ekklesiologi),
- serta mengkritisi pemahaman
teologis yang menyimpang atau reduktif.
Pendekatan
yang digunakan bersifat biblika-dogmatis, yaitu membiarkan teks Yohanes
membentuk doktrin, bukan sebaliknya.
4.2 Kristologi Yohanes 1:10–17: Logos sebagai Allah
yang Hadir
4.2.1 Logos sebagai Subjek Ilahi dan Historis
Yohanes
1:10–17 menyajikan Kristologi yang unik: Yesus Kristus adalah Logos kekal
sekaligus manusia historis. Tidak ada dikotomi antara keilahian dan
kemanusiaan.
Berbeda
dengan Kristologi fungsional (yang menilai Yesus hanya dari peran-Nya), Yohanes
menegaskan Kristologi ontologis:
Yesus adalah siapa Dia lakukan.
4.2.2 Inkarnasi sebagai Pusat Segala Doktrin
Ayat 14
(“ὁ λόγος σὰρξ ἐγένετο”) menjadi poros seluruh teologi Kristen. Inkarnasi bukan
hanya satu doktrin di antara banyak doktrin, melainkan fondasi epistemologis
dan soteriologis iman Kristen.
Implikasi
doktrinal:
- Allah dapat dikenal karena
Ia berinkarnasi.
- Keselamatan mungkin karena
Allah masuk ke dalam sejarah.
Kritik
Penulis:
Banyak gereja modern memusatkan iman pada pengalaman rohani subjektif,
sementara Yohanes menegaskan bahwa iman Kristen berdiri di atas peristiwa
objektif inkarnasi.
4.3 Doktrin Wahyu: Allah yang Menyatakan Diri
4.3.1 Wahyu Umum dan Khusus dalam Yohanes
Yohanes
1:10 menunjukkan wahyu umum (Logos mencipta dunia), tetapi dunia tidak
mengenal-Nya. Yohanes 1:14–18 menunjukkan wahyu khusus: Allah menyatakan diri
dalam Kristus.
Sintesis
teologis:
- Wahyu umum cukup untuk
menyatakan keberadaan Allah,
- tetapi tidak cukup untuk
keselamatan.
4.3.2 Yesus sebagai Eksposisi Allah
Yohanes
1:18 (konteks langsung ay. 10–17) menyatakan bahwa Yesus “menyatakan” (ἐξηγήσατο)
Allah.
Kristus
adalah hermeneutika Allah.
Kritik
Penulis:
Pendekatan pluralistik yang menyamakan semua jalan wahyu gagal memahami
eksklusivitas Kristologis Yohanes.
4.4 Antropologi Teologis: Manusia di Hadapan Logos
4.4.1 Dunia yang Tidak Mengenal Allah
Yohanes
1:10–11 menghadirkan antropologi realis: manusia berdosa bukan karena kurang
agama, tetapi karena penolakan relasional terhadap Allah.
Ini
menolak:
- optimisme humanistik,
- antropologi netral.
4.4.2 Manusia sebagai Penerima atau Penolak
Manusia
selalu berada dalam posisi respons:
- menerima (λαμβάνω),
- atau menolak (οὐ παρέλαβον).
Tidak ada
posisi netral terhadap Kristus.
4.5 Soteriologi Yohanes: Keselamatan sebagai
Kelahiran Baru
4.5.1 Keselamatan Bukan Warisan atau Usaha
Yohanes
1:13 secara radikal menolak:
- soteriologi etnis,
- soteriologi moralistik,
- soteriologi patriarkal.
Keselamatan
adalah inisiatif Allah sepenuhnya.
4.5.2 Anak-Anak Allah sebagai Identitas Baru
Menjadi
anak Allah (τέκνα θεοῦ) bukan metafora psikologis, melainkan realitas
ontologis baru.
Keselamatan
dalam Yohanes bersifat:
- relasional,
- transformasional,
- komunal.
4.6 Doktrin Kasih Karunia (Charitologi)
4.6.1 Kasih Karunia sebagai Pribadi, Bukan
Abstraksi
Dalam
Yohanes, kasih karunia bukan konsep, melainkan Yesus Kristus sendiri.
“Kasih
karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus” (1:17)
4.6.2 Χάριν ἀντὶ χάριτος: Dinamika Anugerah
Ungkapan
ini menunjukkan:
- kontinuitas anugerah,
- pertumbuhan rohani,
- pemeliharaan ilahi
berkelanjutan.
Kritik
Penulis:
Teologi “sekali diselamatkan, selesai” gagal menangkap dinamika kasih karunia
Yohanes.
4.7 Taurat dan Injil: Diskontinuitas dan
Kontinuitas
Yohanes 1:17
sering disalahpahami sebagai pertentangan Taurat vs Injil.
Sintesis
yang benar:
- Taurat → wahyu kehendak
Allah
- Kristus → wahyu hati Allah
Kristus
bukan pembatal Taurat, melainkan penggenap maksud terdalamnya.
4.8 Doktrin Gereja (Ekklesiologi Yohanes)
4.8.1 Gereja sebagai Komunitas Anak-Anak Allah
Gereja
tidak didefinisikan oleh struktur, tetapi oleh:
- kelahiran baru,
- iman kepada Nama-Nya,
- hidup dari kepenuhan
Kristus.
4.8.2 Gereja sebagai Komunitas Inkarnasional
Sebagaimana
Logos “berkemah” di dunia, gereja dipanggil untuk:
- hadir,
- berelasi,
- menderita bersama dunia.
Kritik
Penulis:
Gereja yang hanya berfungsi sebagai institusi keagamaan telah meninggalkan
spiritualitas inkarnasional Yohanes.
4.9 Doktrin Misi: Allah yang Datang ke Dunia
Yohanes
1:10–11 menjadi dasar teologi misi:
- Allah datang lebih dahulu,
- gereja hanya melanjutkan
gerak Allah.
Misi
bukan ekspansi gereja, tetapi partisipasi dalam misi Allah (missio Dei).
4.10 Eskatologi Tersirat dalam Yohanes 1:10–17
Eskatologi
Yohanes bersifat:
- kini dan akan datang,
- sudah tetapi belum.
Kepenuhan
telah tersedia, tetapi belum sepenuhnya dialami.
4.11 Sintesis Dogmatis Menyeluruh
|
Doktrin |
Rumusan
Yohanes |
|
Kristologi |
Logos berinkarnasi |
|
Soteriologi |
Kelahiran dari Allah |
|
Antropologi |
Manusia relasional |
|
Charitologi |
Kasih karunia dinamis |
|
Ekklesiologi |
Anak-anak Allah |
|
Misiologi |
Allah yang datang |
4.12 Kritik Teologis Penulis
- Teologi tanpa inkarnasi →
abstrak
- Kasih karunia tanpa salib →
murah
- Gereja tanpa kehadiran →
steril
- Iman tanpa transformasi →
semu
Yohanes
1:10–17 menolak semua bentuk iman yang tidak mengubah cara hidup.
V. IMPLIKASI TEOLOGIS,
SPIRITUALITAS, DAN HOMILETIS
YOHANES
1:10 –17 - DARI KEPENUHAN-NYA KITA MENERIMA KASIH KARUNIA
5.1 Pendahuluan BAB V
BAB V
merupakan tahap akhir penelitian ini, yang bertujuan untuk menjembatani
dunia teks dengan dunia gereja dan kehidupan umat percaya. Jika BAB III
menafsirkan teks dan BAB IV merumuskan doktrin, maka BAB V bertanya:
Bagaimana
kebenaran Yohanes 1:10–17 membentuk iman, spiritualitas, dan pewartaan gereja
masa kini?
BAB ini
menegaskan bahwa teologi Yohanes bukan hanya untuk dipahami, tetapi untuk
dihidupi dan diberitakan.
5.2 Implikasi Teologis bagi Gereja Masa Kini
5.2.1 Teologi Inkarnasional sebagai Paradigma
Gereja
Inkarnasi
Logos (Yoh. 1:14) menuntut gereja untuk mengembangkan teologi kehadiran,
bukan teologi jarak.
Implikasinya:
- Gereja tidak boleh hanya
berbicara tentang dunia,
- tetapi harus hadir di
dalam dunia, sebagaimana Logos hadir.
Kritik
Penulis:
Gereja yang hanya kuat dalam liturgi tetapi lemah dalam solidaritas sosial
telah mengkhianati teologi inkarnasi.
5.2.2 Kasih Karunia sebagai Dasar Identitas, Bukan
Alat Retorika
Yohanes
1:16 menegaskan bahwa gereja hidup dari kepenuhan Kristus, bukan dari:
- strategi manusia,
- kekuatan institusi,
- atau popularitas pelayanan.
Kasih
karunia bukan slogan mimbar, melainkan sumber keberadaan gereja.
5.2.3 Gereja di Tengah Dunia yang Menolak Terang
Yohanes
1:10–11 mengingatkan bahwa penolakan terhadap Kristus adalah realitas permanen.
Implikasinya:
- Gereja tidak dipanggil untuk
mencari penerimaan dunia,
- tetapi untuk setia bersaksi
dengan kasih dan kebenaran.
5.3 Implikasi Spiritualitas Kristen (Spiritualitas
Yohanes)
5.3.1 Spiritualitas Penerimaan: Menerima Kristus
secara Eksistensial
“Menerima
Dia” (λαμβάνω) dalam Yohanes 1:12 bukan sekadar keputusan liturgis, tetapi:
- penyerahan hidup,
- pembaruan orientasi
eksistensi,
- kesetiaan relasional.
Kritik
Penulis:
Spiritualitas instan yang menekankan pengalaman emosional sesaat tidak sejalan
dengan iman berkelanjutan Yohanes.
5.3.2 Spiritualitas Kelahiran Baru
Kelahiran
dari Allah (1:13) melahirkan spiritualitas:
- rendah hati (karena berasal
dari Allah),
- bebas (karena tidak
ditentukan darah atau prestasi),
- taat (karena hidup dalam
relasi).
5.3.3 Spiritualitas Kepenuhan, Bukan Kekosongan
“Dari
kepenuhan-Nya” (ἐκ τοῦ πληρώματος) menolak spiritualitas kekurangan (scarcity
spirituality).
Orang
percaya:
- tidak hidup dari kekosongan
diri,
- tetapi dari kelimpahan
Kristus.
Kritik
Penulis:
Banyak praktik kerohanian modern justru mengeksploitasi rasa kurang umat,
alih-alih mengarahkan pada kepenuhan Kristus.
5.3.4 Spiritualitas Inkarnasional dalam Kehidupan
Sehari-hari
Sebagaimana
Logos berkemah (ἐσκήνωσεν), spiritualitas Kristen bersifat:
- membumi,
- kontekstual,
- terlibat dalam penderitaan
manusia.
Doa,
ibadah, dan kesalehan harus berbuah dalam:
- keadilan,
- belas kasih,
- kesetiaan hidup.
5.4 Implikasi Pastoral
5.4.1 Pendampingan Berbasis Kasih Karunia
Pelayanan
pastoral harus berangkat dari:
- penerimaan Allah,
- bukan dari penghakiman
moralistik.
Yohanes
1:16 menegaskan bahwa kasih karunia selalu mendahului perubahan hidup.
5.4.2 Pembentukan Identitas Anak Allah
Pendampingan
iman perlu menolong jemaat memahami identitas mereka sebagai:
- anak-anak Allah,
- bukan sekadar anggota
gereja.
Ini
berdampak pada:
- kepercayaan diri rohani,
- kedewasaan iman,
- ketahanan dalam penderitaan.
5.5 Implikasi Etis dan Sosial
5.5.1 Etika yang Berakar pada Inkarnasi
Inkarnasi
menuntut etika yang:
- peduli pada tubuh,
- menghargai kehidupan,
- melawan ketidakadilan
struktural.
Kristen
tidak dapat bersikap netral terhadap penderitaan sosial.
5.5.2 Kasih Karunia dan Tanggung Jawab Sosial
Kasih
karunia tidak meniadakan tanggung jawab, tetapi justru:
- memberdayakan tindakan
kasih,
- membebaskan dari egoisme,
- mendorong solidaritas.
5.6 Implikasi Homiletis (Khotbah)
5.6.1 Yohanes 1:10–17 sebagai Teks Khotbah Utama
Teks ini
ideal untuk:
- Natal,
- Epifani,
- Minggu Inkarnasi,
- pengajaran dasar iman.
5.6.2 Prinsip Homiletis Berbasis Eksegesis
Khotbah
harus:
- Kristosentris (bukan
moralistik),
- Inkarnasional (bukan
abstrak),
- Berbasis kasih karunia
(bukan ancaman),
- Mengundang respons iman.
5.6.3 Contoh Kerangka Khotbah
Tema: Dari Kepenuhan-Nya Kita Menerima
Kasih Karunia
- Dunia yang tidak mengenal
terang
- Allah yang tetap datang
- Kasih karunia yang
melahirkan hidup baru
- Panggilan untuk hidup
sebagai anak-anak Allah
5.6.4 Kritik Penulis terhadap Khotbah Kontemporer
- Terlalu antropo-sentris
- Minim inkarnasi
- Mengkomersialisasi kasih
karunia
- Mengabaikan penderitaan
nyata umat
Yohanes
menuntut khotbah yang:
- jujur,
- mendalam,
- dan membentuk hidup.
5.7 Integrasi Teologi, Spiritualitas, dan Pewartaan
Yohanes
1:10–17 menunjukkan bahwa:
- teologi tanpa spiritualitas
→ kering,
- spiritualitas tanpa teologi
→ dangkal,
- khotbah tanpa keduanya →
manipulatif.
Gereja
dipanggil untuk mengintegrasikan ketiganya secara utuh.
5.8 Refleksi Kritis Penulis
Penulis
menegaskan bahwa krisis gereja masa kini bukan terutama krisis metode,
melainkan krisis inkarnasi. Gereja sering berbicara tentang Kristus,
tetapi lupa untuk hidup dari kepenuhan-Nya.
Tags : BAHAN KHOTBAH
BPPPWG MENARA KRISTEN
KOMITMEN DALAM MELAYANI
PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- PRO DEO ET EIUS CREATURAM
- COGITARE MAGNUM ET SOULFUK MAGNUM
- ORA ET LABORA
- : Pdt Hendra C Manullang
- : P.Siantar - Sumatera Utara - Indonesia
- : crisvinh@gmail.com
- : menarakristen@gmail.com
Mantap bahasannya, terimakasih.
ReplyDelete